Hadits Dhaif Riyadus Shalihin 49

21 09 2010


Bab 341: Makruh Menoleh Pada Saat Shalat Tanpa Ada Udzur Hukumnya Makruh


62/1765
. Anas RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

(( إيَّاكَ والالتِفَاتَ فِي الصَّلاَةِ ، فَإنَّ الالتفَاتَ في الصَّلاَةِ هَلَكَةٌ ، فَإنْ كَانَ لاَ بُدَّ ، فَفِي التَّطَوُّعِ لاَ في الفَريضَةِ )) . رواه الترمذي ، وقال : (( حديث حسن صحيح ))

“Hindarilah menoleh pada saat shalat, karena menoleh dalam shalat berarti celaka. Kalau terpaksa, maka boleh dalam shalat sunah, bukan shalat wajib“. (HR. At-Tirmidzi, ia berkata: “Hadits hasan shahih”).

Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada dua illat (cacat), yaitu:

  • Periwayatan Said bin Al Musayyib dari Anas merupakan periwayatan yang terputus.

  • Pada sanadnya ada perawi yang dha’if yaitu Ali bin Zaid bin Jad’an, sebagaimana perkataan Ibnu Al Qaththan, “Haditsnya tidak dipakai”. Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Ma’in berkata, “la orang yang tidak kuat periwayatannya”

Kedua illat ini juga dijelaskan oleh Ibnu Qayim Al Jauziyah di Zadul Ma’ad (1/249).

Ada hadits lain yang melarang menoleh ketika dalam shalat (tanpa membedakan apakah shalat wajib atau sunah), tetapi haditsnya dha’if Lihat Dha’if Sunan Abu Daud hadits no. 194 dan Dha’if Sunan An-Nasa’i hadits no. 57, yaitu sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Daud, An-Nasa’i, dan Imam Ahmad dari Abu Dzar, mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda,

“Allah SWT tetap mendatangi seorang hamba di dalam shalatnya selama ia tidak menoleh, tetapi jika ia memalingkan wajahnya (menoleh) dari-Nya, maka Allah akan pergi darinya“. (HR. Abu Daud, An-Nasa’i, dan Ahmad)

Ada jalur sanad lain yang shahih, yang melarang menoleh di dalam shalat, diantaranya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At-Tirmidzi:

“….. maka jika kalian shalat janganlah menoleh, karena sesungguhnya Allah SWT akan menegakkan (memperhatikan) wajah-Nya ke wajah hambanya di dalam shalatnya, selama ia tidak menoleh“”. (Hadits riwayat Ahmad dan At-Tirmidzi. Lihat Shahih Sunan At-Tirmidzi hadits no. 2298 dan Shahih Jami’ Ash-Shaghir hadits no. 1724).

Lihat Dha’if Sunan At-Tirmidzi hadits no. 90, Al Misykah hadits no. 997, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1756, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1756.

Wassalam: Ki Semar


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: