Hadits Dhaif Riyadus Shalihin 07

20 09 2010

Bab 44: Menghormati dan Mengutamakan Para Ulama

8/360. Maimun bin abi Syabib berkata,

أنَّ عائشة رَضي الله عنها مَرَّ بِهَا سَائِلٌ ، فَأعْطَتْهُ كِسْرَةً ، وَمَرَّ بِهَا رَجُلٌ عَلَيهِ ثِيَابٌ وَهَيْئَةٌ ، فَأقْعَدَتهُ ، فَأكَلَ ، فقِيلَ لَهَا في ذلِكَ ؟ فقَالتْ : قَالَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – : (( أنْزِلُوا النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ )) رواه أبو داود . لكن قال : ميمون لم يدرك عائشة . وقد ذكره مسلم في أول صحيحه تعليقاً فقال : وذكر عن عائشة رضي الله عنها قالت : أمرنا رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أن ننزل الناس منازلهم ، وَذَكَرَهُ الحَاكِمُ أَبُو عبد الله في كتابه (( مَعرِفَة عُلُومِ الحَديث )) وَقالَ : (( هُوَ حديث صحيح )) .

Seorang peminta lewat di depan Aisyah, maka dia memberinya sepotong roti. Kemudian tidak lama datang seorang peminta yang lebih sopan, dipersilakannya duduk dan diberi makan. Ketika Aisyah ditegur tentang perbedaan dalam memperlakukan kedua peminta tersebut, ia berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda, ”’Tempatkanlah masing-masing orang menurut kedudukannya”.’” (HR. Abu Daud, ia berkata, “Maimun tidak bertemu dengan Aisyah RA”).

Muslim menyebutkan di awal kitab Shahih-nya, secara mu’allaq disebutkan dari Aisyah RA bahwa ia berkata, “Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk menempatkan setiap orang pada tempatnya”. Al Hakim Abu Abdillah menyebutkan dalam kitab (nya) Ma’rifat Ulum Al Hadits, dia berkata, “Hadits tersebut shahih”.

Keterangan:

Hadits ini sanadnya terputus, yaitu antara Maimunah dengan Aisyah RA. Juga ada seorang perawi yang bemama Habib bin Abu Tsabit, dia seorang mudallis dan meriwayatkan sanad dengan kata “Fulan an fulan. Sedangkan riwayat Muslim di awal kitab Shahih-nya, bahwa syarat perawi yang dipakai Muslim pada hadits tersebut bukan syarat yang ditetapkan pada kitab shahih-nya.. Sedangkan perkataan Al Hakim tidak mempunyai dasar, karena sanad hadits tersebut terputus dan terjadi tadlis di dalamnya.

Lihat Al Misykah hadits no. 4989 Bahjatun-Nadzirin hadits no. 356).

9/363. Anas RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

مَا أكْرَمَ شَابٌّ شَيْخاً لِسِنِّهِ إلاَّ قَيَّضَ الله لَهُ مَنْ يُكْرِمُهُ عِنْدَ سِنِّه

‘Tidaklah seorang pemuda menghormati orang yang lebih tua karena usianya. Kecuali Allah akan mendatangkan untuknya orang yang menghormatinya ketika dia sudah tua. (Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini gharib”)

Keterangan:

Hadits ini dha’if dan mempunyai dua cacat. Di dalam sanad hadits ini ada perawi yang bernama Yazid bin Bayan Al Muallim Al Uqaili. Adz-Dzahabi mengatakan (dalam Al Mizan) bahwa Ad-Daruquthni berkata, “Dia (Yazid) adalah perawi yang lemah”. Al Bukhari berkata, “Dalam sanad hadits itu ada perawi yang perlu diteliti. Begitu juga gurunya Abu Rihal; Abu Hatim berkata tentang dia: dia seorang yang tidak kuat (hafalannya) dan munkar Haditsnya.

Lihat Adh-Dhaifah hadits no. 304 dan Bahjatun-Nazhirin hadits no. 359.

Wassalam: Ki Semar


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: