46. Tentang ibadah Sholat

19 12 2009

Assalamu alaikum
>
> Mohon untuk diterangkan secara jelas tentang Shalat, Puasa, Haji, takdir
> dan hari Akhir (karena dalam Pendidikan Dasar Islam, pada Isnet belum
> tercantum).
> Sehubungan dengan sangat membutuhkannya materi tersebut, kami mohon
> kesediaan ISNET untuk segera membalasnya, terima kasih.
>
> Semoga Allah SWT. membalas segala amal baiknya.
>
>
> Wasalam,

Jawaban:

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh,

Mengingat pertanyaan sahabat sangat panjang, dan sebagian besar pernah
dibahas di sini, maka pada kali ini kita mencoba membahas pertanyaan yang
pertama, yaitu tentang Shalat.

Terlebih dahulu kita bahas dasar hukum dari Shalat tersebut:

***20:14***
14. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak)
selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk
mengingat Aku.
***24:56***
56. Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat, dan ta’atlah
kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat.

***2:3***
3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang
mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang
Kami anugerahkan kepada mereka.

Allah memberikan perintah kepada mahluknya untuk mendirikan shalat, bukan
saja kepada manusia tetapi juga kepada mahluk-mahluk lainnya.

***24:41***
41. Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa
yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan
sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan
tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka
kerjakan.

Semua mahluk bertasbih dan shalat sesuai dengan cara mereka yang diwahyukan
oleh Allah swt.

Perintah shalat itu telah ditetapkan sejak permulaan zaman:

***10:87***
87. Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: “Ambillah olehmu
berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi
kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat
shalat dan dirikanlah olehmu sembahyang serta gembirakanlah
orang-orang yang beriman”.

***3:43***
43. Hai Maryam, ta’atlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku’lah
bersama orang-orang yang ruku’

Jadi shalat itu hukumnya wajib bagi setiap mahluk.

Perintah shalat adalah perintah untuk mendirikan shalat, yang memiliki makna
mengerjakan, menegakkan, menyatukan shalat itu pada diri manusia.
Menjalankan shalat dilakukan lima waktu sehari, masing-masing selama lebih
kurang 10 menit. Menegakkan shalat, berarti menegakkan segala ucapan yang
dilakukan pada saat shalat untuk kurun diantara dua shalat, sehingga
shalatnya menyatu dengan dirinya.

***31:17***
17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan
yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan
bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian
itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

***13:15***
15. Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit
dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan
sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.

***16:49***
49. Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di
langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para
malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri.

***53:62***
62. Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).

Makna-isi Shalat

1. Bertasbih, mengagungkan Allah pada saat Takbir
2. Ikrar, pernyataab dan janji
3. Ruku’, atau menyerahkan diri kepadaNya
4. Sujud, atau menyembah
5. Berdo’a
6. Bersyahadat
7. Bershalawat

Tujuan Shalat

Shalat adalah untuk Allah semata sebagai manifestasi orang-orang yang
beriman.

***6:162***
162. Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku
hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Shalat mengandung tujuan sebagai berikut:

1. Mengingat Allah

Orang yang mendirikan shalat dia selalu ingat kepada ucapannya dalam shalat,
sehingga selalu mengingat Allah disetiap waktu ( Qs 20:14).
***3:191***
191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau
duduk atau dalam keadan berbaring.

Dengan selalu mengingat Allah maka hati menjadi tenteram:

***13:28***
28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi
tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan
mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Penjelasannya, orang yang mengingat Allah berarti ingat akan hukum-hukumNya,
sunat-Nya, ketetapanNya dan Sifat-sifatNya.
Seseorang yang mendapatkan suatu musibah dari Allah tidak akan bersedih
hati, karena dia memahami bahwa musibah itu ketetapan Allah, dan bagi orang
yang beriman adalah ujian baginya. Dan Allahpun telah memerintahkan kepada
manusia agar tidak bersedih hati atas musibah yang diterimanya (Qs
57:22-23).
Demikian pula bagi orang yang diberi rezeki oleh Allah diapun tidak boleh
terlalu gembira, karena rezeki tersebut adalah ketetapan Allah bukan karena
usahanya.

Orang yang selalu mengingat Allah berhak atas pertolongan-Nya:

***37:143***
143. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak
mengingat Allah,
***37:144***
144. niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari
berbangkit.

Mengingat Allah juga untuk menghindari kefasikan.

***57:16***
16. Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk
tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang
telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti
orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab
kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka
lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara
mereka adalah orang-orang yang fasik.

Mengingat Allah berarti menghindarkan diri menjadi golongan syaitan yang
merugi.

***58:19***
19. Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa
mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa
sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi.

Dzikir (mengingat Allah) untuk memperoleh rahmatNya, dan supaya kita selalu
berada didalam bimbinganNya.

***33:41***
41. Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut
nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.
***33:43***
43. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan
ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan
kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada
orang-orang yang beriman.

Rasulullah bersabda bahwa orang yang tidak mengingat Allah (dzikir) itu sama
dengan orang yang mati (hatinya).

2. Shalat sebagai penolong

***2:153***
153. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat
sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang
sabar.

Bagaimanakah menjadikan shalat sebagai penolong kita ?

***29:45***
45. Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an)
dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-
perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah
adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan
Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dari ayat tersebut di atas shalat itu untuk mencegah diri dari perbuatan
keji dan mungkar. Shalat untuk mengingat Allah, dan meningat Allah itu besar
sekali keutamaannya.

Orang-orang yang mengerjakan shalat tetapi tidak mendirikannya, maka mereka
dapat melakukan perbuatan keji dan mungkar. Contohnya seorang muslim yang
menjalankan shalat, tetapi tidak ingat aturan-aturan Allah maka mereka dapat
melakukan tindakan-tindakan yang keji dan mungkar, misalnya korupsi, kolusi,
nepotisme, mencuri, sombong, mempersekutukan Allah, menghujat, dan
sebagainya. Tetapi kalau mereka benar-benar mendirikan shalatnya, maka
mereka akan tercegah dari perbuatan yang dimurkai Allah.

3. Shalat adalah tiang agama

Rasulullah bersabda bahwa shalat itu tiangnya agama, oleh karenanya bagi
mereka yang tidak mendirikan shalat maka agama pada dirinya menjadi runtuh.

4. Orang mendirikan shalat berarti telah memelihara dirinya untuk
menghantarkannya kesyurga.

***70:34***
34. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.
***70:35***
35. Mereka itu (kekal) di syurga lagi dimuliakan.

5. Mendirikan shalat untuk membersihkan diri dari dosa dan kesalahan.

***87:14***
14. Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan
beriman),
***87:15***
15. dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.

6. Shalat untuk mendapatkan kemenangan dari Allah

***22:77***
77. Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu,
sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu
mendapat kemenangan.

Cara-cara shalat

1. Cara biasa (berdiri – ruku’ – sujud – duduk) (3:43 ; 7:206; 9:112 ;
2. Duduk
3. Berjalan
4. Berkendaraan

***2:239***
239. Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil
berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka
sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan
kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.

5. Berbaring

Insya Allah nanti saya sambung lagi.

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh,

Pada uraian sebelumnya tentang shalat, tatacara shalat ada lima macam:

1. Cara biasa (berdiri – ruku’ – sujud – duduk) (3:43 ; 7:206; 9:112)
2. Duduk
3. Berjalan
4. Berkendaraan
5. Berbaring

Shalat dengan cara yang normal atau biasa bagi orang yang sehat, dan
keadaannya aman, lingkungannya memenuhi syarat.

Shalat sambil duduk kalau, seseorang tidak kuat lagi berdiri untuk melakukan
shalat sambil berdiri, atau apabila sedang dalam pesawat udara, atau tidak
ada tempat untuk melakukan shalat berdiri.

Sedangkan shalat sambil berjalan dilakukan apabila keadaan tidak aman, di
mana waktunya tidak mungkin untuk shalat sambil berhenti.

Dan shalat berkendaraan, sebetulnya sama dengan shalat sambil jalan.
Misalnya naik pesawat dari non stop selama sembilan jam, dimana waktu shalat
berada dalam pesawat, maka shalat berkendaraan dapat berlaku.

LARANGAN MELAKUKAN SHALAT

Shalat tidak boleh dilakukan bagi orang dalam keadaan mabuk, apakah mabuk
dunia, mabuk cinta dan mabuk-mabuk yang lainnya. Biasanya orang yang mabuk
itu tidak mengerti atau tidak menyadari segala yang diucapkan.

Demikian pula kalau dibalik, orang yang tidak mengerti apa yang diucapkan
sama dengan orang yang mabuk.

***4:43***
43. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu
dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan

Dari ayat ini jelas sekali, larangan bagi orang-orang yang beriman untuk
melakukan shalat, kalau mereka tidak mengerti atau tidak menyadari apa yang
diucapkan pada waktu shalat.

NILAI SHALAT

Nilai perbuatan bagi seseorang yang melakukannya bisa berdampak manfaat atau
sebaliknya kerugian (mudharat).

Misalnya orang makan, kalau dilihat dari segi perbuatan seolah-olah akan
berdampak kebaikan bagi diri. Tetapi dari agama Islam, orang yang makan
tersebut bisa berdampak manfaat bisa pula menjadi kerugian. Kalau yang
dimakannya hasil dari perbuatan yang dilarang Allah maka nilai makannya akan
berdampak negatif bagi dirinya. Begitu pula kalau cara makannya tidak sesuai
aturan Allah, maka makannya tidak bermanfaat bagi dirinya.

Demikian pula dalam shalat, shalat bisa membawa manfaat bagi yang melakukan
shalat, atau sebaliknya shalatnya membawa kerugian bagi sipelakunya.

Shalat yang didirikan, dan dilakukan dengan niat, cara, tujuan yang benar,
maka akan membawa manfaat bagi dirinya, khususnya mencegah dari segala
perbuatan keji dan mungkar.

Sedangkan shalat yang tidak didirikan, dan tidak dilakukan dengan niat, cara
dan tujuan yag benar, maka akan berdampak kerugian bagi yang menjalankannya.

***107:4***
4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
***107:5***
5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
***107:6***
6. orang-orang yang berbuat riya

Orang yang shalat akan mendapat kecelakaan dari Allah azza wa jalla, kalau
niat cara dan tujuannya tidak benar. Termasuk shalat yang dimurkai Allah,
antara lain:

– Niatnya bukan karena Allah atau ada niat lain selain mencari keridhaanNya,
padahal dia mengucapkan “shalatku hanya untuk Allah” (Qs 6:162). Seperti
ayat 107:6 di atas, maka sesungguhnya shalat yang demikian itu adalah riya’.
– Dari ayat 4:43 di atas seorang beriman tidak boleh shalat, kalau tidak
mengerti atau tidak memahami dan menyadari apa yang dia ucapkan pada waktu
shalatnya. Seperti uraian saya dimuka, shalat adalah bertasbih,
berikrar/berjanji, berdo’a, takbir dan sebagainya.
Kita renungkan, kalau kita berikrar atau berjanji, kemudian kita tidak
mengerti yang kita janjikan, apa dampaknya ? Kemungkinan besar dia melanggar
janjinya dengan mudah.
Sedangkan yang mengerti ucapan pada saat berjanji saja kemungkinan untuk
tidak mentaatinya masih ada. Nah sebagai akaibat tidak mengerti ucapannya,
atau mengerti tetapi tidak menepati janjinya maka dianggap sebagai lalai
dalam shalatnya (janjinya) akhirnya mendapat kemurkaan Allah.

Perhatikan ayat berikut:

***61:2***
2. Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan
sesuatu yang tidak kamu kerjakan?
***61:3***
3. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa
yang tidak kamu kerjakan.

Cara menjalankan shalat harus dilakukan dengan khusyu’, artinya memahami
apa yang diucapkan dan meyakini bahwa dia sedang berhadapan dengan Allah dan
dilihat oleh Allah walaupun dia tidak melihatnya, kemudian dibaca dengan
penuh keikhlasan dan kesungguhan hati:

***23:1***
1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
***23:2***
2. (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya,

***17:109***
109. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka
bertambah khusyu’.

Sedangkan orang-orang yang shalat dengan tidak khusyu’ dan tidak memahami
ucapannya diumpamakan sebagai berikut:

***8:35***
35. Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah
siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan
kekafiranmu itu.

Sekian dulu, insya Allah saya sambung lagi.

Wassalam,

Ahmad Zubair


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: