46. Kata Ganti Allah dalam bahasa Inggris

19 12 2009

Assalamu’alaikum,
>Saya kemarin sempat melihat Al-Quran terjemahan Bahasa Inggris. Yang saya
>tanyakan mengapa mereka memakai kata gant “He” sebagai kata ganti Allah
>padahal itu mrpk kata ganti laki-laki. Dan menurut saya itu seperti ajaran
>Nasrani. Mohon penjelasannya!!
>Jazakumullah khair.
>Wassalam

Jawaban:

Ass wr wb
Coba anda simak surat al-Ikhlas, yang berbunyi, “Qul HUWA Allahu Ahad”.
Kata “HUWA’ dalam bahasa Arab memang menunjukkan untuk dia laki-laki
yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi “HE”.

Jadi, jikalau Qur’an terjemahan bahasa Inggris menyebutkan
He untuk me-refer ke Allah, tidaklah melanggar sisi kebahasaan
ataupun sisi Aqidah.

Nah, begini penjelasannya. Lafaz Allah dalam bahasa Arab memang bersifat
maskulin. Sebagaimana lafaz Muhamamd bersifat maskulin, begitupula Ali,
Umar dan Utsman. Sebaliknya lafaz Aisyah, Maryam, hafshah, Ummi bersifat
feminin. Yang menarik, lafaz khuzaemah itu maskulin. Namun karena memakai
“…ah” diakhir kata diduga oleh orang Indonesia bersifat feminin.
Akhirnya, dinamakanlah anak perempuannya dengan Khuzaemah:-)

Analoginya dalam bahasa kita adalah: Syarif itu maskulin, sedangkan
Syarifah itu perempuan. Tetapi tidak semua yg pakai “…ah” di akhir
kata adalah perempuan. Bagaimana dengan Syaifullah? atau nama saya
sendiri Nadirsyah ? (syah merujuk pada raja)

Jadi, Dzat Allah itu tidak lelaki-tidak pula perempuan. Namun
Dzat Allah itu memiliki nama-nama (asmaul husna). Salah satu nama
itu adalah Allah. Nah, kata atau lafaz Allah itulah yang bersifat
maskulin, sedangkan Dzat-Nya tidak.

Dalam bahasa arab, semua kata mengandung salah satu sifat, apakah itu
feminin atau maskulin. Sejauh yg saya tahu tidak ada satu kata dalam
bahasa arab yang bersifat netral. Jadi, kalaupun kata Allah bersifat
feminin, tidak akan merujuk bahwa Allah itu perempuan; sebagaimana kalau
diterjemahkan menjadi “he” tidak berarti kita menganggap Allah itu lelaki.
Dzat Allah tentu saja bukan lelaki dan bukan perempuan.

Dalam bahasa Arab, kejelasan status feminin atau maskulinnya suatu kata
akan sangat berpengaruh pada grammatika kata selanjutnya. Jadi, kaidah
kebahasaan mengharuskan kita memilih satu kata untuk menyebut nama Tuhan
kita, dan kata itu, dalam kaidah bahasa Arab, tidak bisa netral. Inilah
kelemahan bahasa manusia dalam mengungkapkan Dzat Allah. Maha Suci Allah!

Al-Haq min Allah!

salam,


Aksi

Information

One response

8 08 2010
Irfan

i’ve got the point!
Terimakasih untuk penjelasannya.
Jazakumullah khair.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: