37. Menambah satu Raka’at Sholat karena was-was

19 12 2009

dalam sembahyang isyak seorang telah menambahakan satu rakaat lagi
>kerana dia was-was sama ada sudah sembahyang 3 atau 4 rakaat. Dalam
>hatinya dia percahaya bahawa dia baru sembahyang 3 rakaat. Setelah
>selesai sembahyang kawannya memberitahu bahawa dia telah sembahyang
>5 rakaat. Adakah sembahyangnya sah?.

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum wr wb
Hadis Nabi mengatakan “tinggalkanlah keraguan itu kepada hal
yang tak meragukan”. Dari hadis ini lahir kaidah
yang mengatakan begini: al-yaqin la yuzalu bisyak (keyakinan itu
tidak bisa dihilangkan dengan keraguan). Contoh praktisnya
seperti ini:

1. Anda sudah berwudhu untuk sholat zuhur, lalu anda pun sholat zuhur,
ketika masuk waktu ashar, anda ragu-ragu apakah anda masih mempunyai
wudhu (artinya belum batal) atau tidak. Nah, berdasarkan kaidah itu,
maka anda dipandang secara syar’i sebagai orang yang masih punya wudhu.
Kenapa? karena keadaan asalnya adalah anda sudah punya wudhu (terbukti
anda sudah melakukan sholat zuhur), inilah keadaan yang anda yakini.
Kemudian timbul keraguan apakah anda sudah batal atau belum. Keyakinan
anda semula tak bisa dirubah dengan keraguan itu. Silahkan anda sholat
ashar tanpa perlu berwudhu lagi.

2. Anda lupa dalam sholat Isya anda sudah sampai pada rakat berapa?
Yang anda ingat bahwa anda sudah tasyahud awal (di rakaat kedua),
setelah itu anda bingung apakah sudah masuk rakaat ketiga atau
keempat, maka anda harus menghukumi bahwa
anda baru sampai pada rakaat ketiga, karena
setelah rakaat kedua (yg anda yakini telah anda lakukan itu)
adalah rakaat ketiga, bukan keempat.

3. Anda lupa sudah berwudhu atau belum, maka anda harus menghukumi
bahwa anda belum berwudhu’. Mengapa? karena keraguan tsb datang
mengenai suatu perbuatan. Berbeda dengan point 1 di atas dimana
keraguan itu datang setelah adanya perbuatan (sudah wudhu’
tapi ragu sudah batal atau belum).

Nah, dalam kasus yang anda tanyakan itu, maka sudah betul tindakan
orang tersebut. Dan dia tetap mendapat sholat, serta sholatnya sah
serta tidak perlu mengulang. Kalau dia masih barada di waktu isya’
dan mau mengulang sholatnya juga tak mengapa. Sama halnya dengan
orang yang sholat tak tahu kiblat, lalu sembarang saja menurut
keyakinanya dia sholat menghadap arah tertentu. Ternyata setelah
selesai sholat orang memberi tahu dia bahwa arah kiblat yang
sebenarnya bukan itu. Andaikata dia tidak mau mengulang sholatnya,
maka tak mengapa. Andaikata dia masih berada pada waktu sholat
tersebut, dan mau mengulangi kembali juga tak mengapa.

salam,
Nadirsyah Hosen


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: