35. Makna “jihad”

19 12 2009

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Langsung aja ya…
Apa sih arti sebenarnya dari kata JIHAD ?
Kalau mau jihad perang – misalnya – apakah ada hal-hal khusus yang harus
dilakukan ?

Ditunggu jawabnnya..
Wassalam

Jawaban:

Ass. wr.wb.,
Terlampir tulisan KH Ali Yafie mengenai jihad (dua tulisan). Semoga bermanfaat.
Wass. wr.wb.,

=nadir=

Jumat, 12 Maret 1999
Jihad dalam Islam

Oleh: Prof KH Ali Yafie *)
*) Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI)

SEKARANG kata jihad sering dikumandangkan dan selalu dikonotasikan dengan
perang secara fisik. Padahal pengertiannya sangat luas. Jihad berasal dari
kata al-juhd yaitu upaya dan kesulitan. Dikatakan jaahada, yujaahidu,
jihaadan yang berarti meluangkan segala usaha dan berupaya dengan sekuat
tenaga dalam melakukan aktivitas dalam menghadapi berbagai masalah atau
kesulitan.
Allah mengutus Rasul-Nya untuk semua manusia, memerintahkan agar ia
meniru ke jalan hidayah dan agama yang benar. Ketika di Mekkah Rasulullah
menyeru ke jalan Allah dengan arif bijaksana dan dengan sehat yang baik.
Untuk itulah Allah memberikan seruan dalam menghadapi tantangan atau
kesulitan, dengan sabar, suka memaafkan, dan bergaul dengan cara-cara yang
baik: “Dan bersabarlah (di dalam menunggu) keputusan dari Tuhanmu,
sesungguhnya kamu berada dalam perhatian Kami”. (At-Thur: 48). “Maka
berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah: “Damai (salam),
kelak mereka akan tahu”. (Az-Zukhruf: 89). “Balaslah kejelekan dengan
kebaikan yang lebih baik. Kami lebih tahu apa yang mereka sifatkan”.
(Al-Mu’minun: 96)
Dalam semua perintah yang dianjurkan Allah kepada Rasulullah adalah
berjihad dengan Alquran, argumentasi dan alasan-alasan yang bijaksana. “Dan
berjuanglah untuk menghadapi mereka dengan Alquran sebagai perjuangan yang
besar”. (Al-Furqan: 52).
Dalam sejarah Rasulullah yang mulia, penderitaan semakin mengganas dan
penindasan datang bertubi-tubi silih berganti, sampai pada tingkat rencana
pembunuhan. Beliau pun hijrah ke Madinah. Dan setelah berselang 13 tahun
kenabian, beliau memerintahkan para sahabatnya berhijrah pula, sebagaimana
ayat: “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir merencanakan makar
terhadapmu, untuk memenjarakan, atau membunuh serta mengusirmu. Mereka
membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu, dan Allah
sebaik-baik pembalas tipu daya”. (Al-Anfal: 30)
Puncak segala aktivitas
Di dalam Alquran ada sekitar 40 kali kata jihad disebut dengan berbagai
bentuknya. Maknanya bermuara pada “mencurahkan seluruh kemampuan” atau
“menanggung pengorbanan”. Karena itulah Mujahid adalah orang yang
mencurahkan seluruh kemampuannya dan berkorban dengan harta atau materi,
nyawa, tenaga, pikiran, emosi, atau apa saja yang berkaitan dengan diri
manusia dalam menghadapi dunia kehidupan. Sedangkan “jihad” adalah suatu
cara untuk mencapai tujuan. Jihad tidak mengenal putus asa, menyerah,
bahkan kelesuan, dan tidak pula pamrih.
Oleh karena itulah, jihad disesuaikan dengan modal yang dimiliki dan
tujuan yang ingin dicapai. Sebelum tujuan tersebut tercapai dan selama
masih ada modal di tangan, selama itu pula jihad dituntut. Karena jihad
harus dengan modal, maka mujahid tidak harus mengambil, tidak memberi.
Bukan mujahid yang menanti imbalan selain dari Allah, karena jihad
diperintahkan untuk dilakukan semata-mata karena Allah. Jihad adalah titik
tolak seluruh upaya, ia bermula dari upaya mewujudkan jati diri, dan sudah
barang tentu bermula dengan kesadaran. Karena itu Allah menekankan : “Siapa
yang berjihad, maka sesungguhnya ia berjihad untuk dirinya sendiri. Allah
Mahakaya, tidak memerlukan sesuatu dari seluruh alam”. (QS. 29:6).
Dengan berdasar pengetahuan dan kesadaran bukan paksaan itulah, seorang
mujahid bersedia berkorban. Beragam jihad, beragam pula buahnya. Buah jihad
seorang ilmuwan adalah pemanfaatan ilmunya, sementara buah jihad seorang
karyawan adalah karyanya yang baik, guru adalah pendidiknya yang sempurna,
pemimpin adalah keadilannya, pengusaha adalah kejujurannya, demikian
seterusnya.
KALAU dahulu, ketika kemerdekaan belum diraih, jihad mengakibatkan
terenggutnya jiwa dan hilangnya harta benda. Kini, jihad harus membuahkan
terpeliharanya jiwa dan harta benda, terwujudnya kemanusiaan yang adil dan
beradab, serta keseimbangan secara totalitas.
Kalau kita mencoba menyimak khazanah tarikh Islam; bulan Ramadan, bulan
diwajibkannya umat Islam untuk melaksanakan ibadah puasa, menahan lapar,
haus, dan dahaga. Pada saat itu Rasul telah memenangkan suatu peperangan di
perang Badr Kubra, secara spontan umat Islam bergembira dengan kemenangan
yang diraih itu. Ditambah dengan datangnya Idul Fitri yang pertama di tahun
kedua Hijriyah.
Rasul dan sahabat merayakan dengan rasa yang dinikmati oleh umat Islam,
karena mereka telah menang dalam dua peperangan besar. Pertama, perang
fisik melawan kufar quraisy pada perang Badr, perang yang amat menentukan
hidup matinya Islam.
Sehingga pada waktu itu Rasul mengadu kepada Tuhan: ”Ya, Allah, jika
hancur pasukan kecil ini, niscaya tidak ada lagi yang menyembah Engkau di
muka bumi ini.” Kedua, perang mental melawan hawa nafsu sendiri yaitu
pelaksanaan ibadah puasa Ramadan untuk pertama kalinya diwajibkan pada
waktu itu, yaitu tahun ke-2 Hijriyah.
Rasul berkata: ”Kita telah kembali dari perang yang kecil, namun kita
akan berhadapan dengan peperangan yang paling besar yaitu perang melawan
hawa nafsu”. Mengendalikan diri dan pikiran yang jernih penuh keikhlasan
untuk menuju keridaan-Nya. …. maka mulai saat setelah kita berpuasa
Ramadan, karena Ramadan bukanlah untuk Ramadan, melainkan Ramadan untuk
bulan-bulan setelah Ramadan; konsistenkah kita untuk berbuat dan
beraktivitas serta berjihad setelah itu?
Di hadapan kita terbentang medan jihad, terentang arena perjuangan untuk
menegakkan Islam, inilah yang disebut dengan: ”Jihadun Fi-Sabilillah”.
”Abu Dzar al-Ghifari bertanya: ”Wahai Rasul, amal apakah yang paling
utama?” Rasul menjawab: ”Beriman kepada Allah dan berjihad di
jalan-Nya.”
Apabila dikumandangkan ”jihad di jalan Allah”, janganlah dianggap kita
telah memukul genderang perang dan menyerukan angkat senjata.
Syeikh Doktor Abdul Halim Mahmud, Syikhul Akbar Al-Azhar di Mesir
mengemukakan bahwa jihad itu bermacam-macam:
1. Al-Jihad al-Harbi, jihad perang;
2. Jihadun Nafsi, jihad di dalam diri sendiri;
3. Jihadul Usrah, jihad di kalangan keluarga;
4. Jihadul Mujtama’, jihad di masyarakat.
Al-Jihadul Harbi.
Pengertian jihad dengan perang sebenarnya hanyalah satu bagian dari jihad
di jalan Allah. Hal yang demikian memang diperlukan bilamana keadaan
menghendaki, umpamanya manakala iman terancam atau agama menghadapi
rongrongan. Jihad di jalan Allah sebenarnya lebih dititikberatkan pada
usaha untuk mencapai kedamaian bagi semua masyarakat.
Pada saat perang, musuh tampak di depan kita, jelas kelihatan. Sedang
musuh yang tidak tampak sangat berbahaya, tetapi ada di sekeliling kita.
Malah mungkin di dalam jiwa kita. Ia selalu mengintai dan menunggu
kesempatan untuk menerkam kita.
Jihadun Nafsi.
Jihad di dalam diri pribadi kita sendiri, di mana agar seseorang muslim
betul-betul memelihara dan menegakkan beberapa hal:
Istiqamah (konsisten) dalam iman dan tobat;
Istiqamah (konsisten) dalam ibadah fardhu;
Mulazamah (membiasakan secara rutin dan kontinuitas) berbuat sesuatu
yang terbaik (afdhal).
Suatu ketika diriwayatkan seorang laki-laki datang meminta nasihat kepada
Nabi saw. Rasul pun menasihatinya dengan kalimat yang pendek namun
menentukan, yaitu: ”Katakanlah, aku telah beriman kepada Allah kemudian
Anda istiqamah (konsisten dalam Islam).”
Konsisten dalam iman di dalam diri memerlukan perjuangan yaitu jihad.
Karena betapa banyak kendala dan petaka di dalam hidup, godaan yang menarik
dan rayuan yang menjerat sehingga tanpa istiqamah iman pun menjadi goyah.
Setelah itu seseorang hendaklah memelihara tobat.
Berapa banyak lidah seseorang memutar kata ”astaghfirullah”, permohonan
ampun kepada Allah sebagai pertanda tobat, namun kadang-kadang mudah sekali
ia mengulangi kekeliruan dan dosa yang ia mohonkan ampun tersebut. Inilah
yang dikatakan penyair sufiwati Rabi’atul Adawiyah: ”Istighfar kita
memerlukan istighfar pula.”
Ada sementara orang yang mengira bahwa tobat itu hanyalah bagi mereka
yang berbuat kesalahan dan dosa atau kemaksiatan. Anggapan seperti itu
keliru. Tobat pun diperlukan juga bagi orang yang taat dan saleh. Seorang
yang taat hendaklah bertobat dari kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam
ketaatannya itu sendiri, dari prasangkaannya bahwa ia telah sempurna dalam
taatnya. Tobat seorang yang taat kepada Allah adalah sebagai perisai bagi
ketaatannya, sebagai obat pembasmi hama bagi tanamannya.
Istiqamah yang kedua, yaitu konsisten dalam ibadah fardhu. Dimaksudkan
ialah agar seseorang berusaha sepenuhnya melaksanakan ibadah fardhu yang
dibebankan kepadanya. Bagaimana salatku, zakatku, hajiku, kesemuanya
berkaitan dengan peningkatan. Salat saya umpamanya; apakah salatku ini
telah baik dan sempurna? Mungkin kita tidak mampu seperti salatnya Ali bin
Abi Thalib r.a. Diceritakan bahwa ia tidak merasakan sakit sedikit pun
manakala anak panah yang menancap di badannya dicabut sewaktu ia salat.
Minimal kita berusaha khusyuk, berusaha memahami bacaan yang dibaca,
menyempurnakan rukuk dan sujud. Jangan sampai kita melaksanakan salat yang
disinyalir oleh Nabi seseorang yang tidak menyempurnakan rukuk dan
sujudnya.
Berusaha untuk melaksanakan ibadah fardhu dengan seoptimal mungkin,
sesempurna mungkin, itu adalah salah satu Jihad.
Istiqamah dalam melaksanakan sesuatu yang terbaik atau afdhal, dapat kita
contohkan seperti dalam melaksanakan salat. Seperti yang dinyatakan oleh
Nabi saw: ”Seutama-utama perbuatan (amal) adalah salat di awal waktu.”
Terkadang seseorang salat juga tetapi di akhir waktu. Mungkin saja
seseorang mendengar suara azan berkumandang, namun ia masih sibuk dengan
pekerjaan. Ia bahkan sibuk dengan nikmat, tetapi ia lupa dengan pemberi
nikmat yaitu Allah swt.
Dalam salat, pakaian yang dipakainya hanya kaus oblong yang lusuh
murahan, tetapi ketika ia menghadapi manusia, ia memakai busana yang mahal.
Ada pula orang yang punya uang lusuh, itu yang dimasukkannya ke kotak amal.
Padahal alangkah baiknya kalau uang yang agak baik itu yang disumbangkannya
untuk beramal, untuk berderma.
Ini contoh dari sejumlah ketimpangan dari dalam diri pribadi manusia.
Marilah kita berusaha untuk berbuat yang terbaik kepada Allah swt, Pemberi
segala nikmat. Dan hal itu apabila mengharapkan keridaan-Nya adalah wujud
dari jihad. Bagaimana sabda Nabi: ”Jihad yang paling utama ialah seseorang
yang berjihad dalam dirinya sendiri dan hawa nafsunya.”
Jihad dalam keluarga
Jihad ini agar tegak dalam keluarga, yang tentunya dimulai dari rumah
tangga. Dalam situasi dunia seperti saat ini, kendala yang dihadapi memang
amat terasa. Namun kita harus berusaha dan berjihad, dan inilah jihad dalam
keluarga.
Beberapa contoh misalnya, saking asyiknya acara di televisi, walaupun
azan berkumandang, mereka malah terhenyak dengan acara TV. Adakah si orang
tua tergerak untuk mengusahakan menyuruhnya salat? Dari sisi lain, ada
orang yang tidak tahu entah ke mana dan di mana putra-putrinya berada,
sementara ia hanya sibuk mengurus itik ayamnya untuk pulang ke kandang.
Sehubungan dengan itu, banyak terjadi hal-hal yang kontradiktif.
Bila seorang muslim ditanya; ”Mau anak yang bagaimana?” Ia sering
menjawab: ”Kami menginginkan anak yang muslim, saleh, dan baik.” Akan
tetapi fakta berbicara lain, si orang tua tidak pernah berusaha menanamkan
nilai-nilai agama yang baik. Sebagai contoh, di dalam Islam diajarkan,
bahwa apabila seseorang akan berangkat keluar rumah, maka yang berangkat
dengan iringan doa: ”Aku titipkan kalian kepada Allah, yang titipan
kepada-Nya tidak akan sia-sia.”
Jihadul Mujtama
Jihad dalam keluarga berkelanjutan dengan jihad di dalam masyarakat.
Jihad di masyarakat ialah apa yang disebut dengan ‘amar ma’ruf nahi
mungkar’. Kewajiban ini, bukan hanya sekadar kewajiban para ulama dan juru
dakwah di atas podium atau mimbar… Tidak! Kewajiban ini ditujukan kepada
seluruh anggota masyarakat dan umat.
Inilah yang dikatakan oleh Rasulullah saw: ”Barang siapa yang melihat
kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; apabila ia tidak
mampu, maka dengan lidahnya; dan apabila juga ia tidak mampu, maka
hendaklah dengan hatinya atau doa, meskipun hal itu selemah-lemah iman.”
Untuk itu, menjadi kewajiban kita semua berupaya memberantas segala
kejahatan. Hal ini menghendaki usaha yang sungguh-sungguh dengan kata lain
jihad dalam masyarakat. Janganlah sebaliknya, justru kita yang menjadi
penegak kejahatan atau lumrah dalam masyarakat akhir-akhir ini sebagai
provokator, ataupun menjadi pendukungnya atau hanya sekadar penontonnya
saja.
Hadist Nabi saw: ”Siapa yang memulai memberi contoh kebaikan dalam
Islam, maka ia akan mendapat pahala dan pahala orang-orang yang mengikuti
(meniru) perbuatannya itu tanpa dikurangi pahala mereka itu sedikit pun.
Sebaliknya, siapa yang memulai memberi contoh kejahatan dalam Islam, maka
ia menanggung dosanya dan dosa orang yang meniru perbuatannya itu tanpa
dikurangi dosa mereka sedikit pun.”
Alangkah berbahagianya kita, sekiranya berada di dalam kubur nanti,
pahala kebajikan terus mengalir kepada kita, karena kita telah mencontohkan
sesuatu yang baik di kalangan masyarakat. Akan tetapi alangkah celakanya
kita, apabila terbaring di alam barzakh, namun tidak dapat beristirahat,
karena dosa-dosa terus membanjiri dan menimpa kita, na’uzubillahi
min-zalik. Ini, jika sekiranya kita mencontohkan sesuatu yang jahat di
tengah masyarakat Islam.
Oleh sebab itu, marilah kita berjihad menegakkan sesuatu yang baik di
masyarakat Islam dan di negara yang kita cintai ini. Apabila kita tidak
mampu berbuat sesuatu yang baik, berbuat nyata untuk membawa masyarakat ke
arah yang baik dengan dakwah dan sebagainya, minimal marilah kita pelihara
citra kehanifan agama Islam di muka bumi ini. Janganlah kiranya berbuat
sesuatu yang merendahkan citra umat Islam.
Semua kita ingin rakyat yang damai, yang baik, bangsa yang tenteram,
namun karena hal-hal yang tidak terkontrol oleh tipu daya dan terbawa hawa
nafsu; maka banyak anggota masyarakat bertindak negatif, resah gelisah, dan
lain sebagainya. Karena situasi, mungkin akan banyak korban akibat
kebrutalan dan frustrasi. Masalah ini, tidak dapat diatasi dengan instruksi
dan perintah ataupun anjuran saja. Yang dapat mengatasinya hanyalah
ajaran-ajaran agama yang ditegakkan oleh pemeluk-pemeluknya.
Oleh sebab itu, betapa pentingnya peranan agama di dalam hidup ini.
Apakah terlibat langsung atau tidak. Kita semua berharap, peranan agama di
dunia yang semakin cepat ini jangan sampai tergeser, dan suatu saat
nantinya akan tergusur. Mari kita berusaha dengan jalan yang benar,
menghadapi cobaan, kemiskinan dengan kesungguhan, kesabaran, dan keuletan.
Ini pun adalah Jihad fi-Sabilillah.
Demikian tugas jihad yang ada di pundak kita kaum muslimin. Kita gunakan
akal jernih, potensi yang ada dengan menggalang persatuan dan kesatuan,
meluruskan shaf, baik pikiran, harta benda atau apa pun yang ada pada kita
dalam memelihara agama Allah di persada negeri ini. Sehingga rahmat dan
inayat Allah akan datang dengan penuh kedamaian. Semoga….***(A-2)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: