28. Konteks QS 45:18 (1)

19 12 2009

Bismillahirrahmanirrahiim
>Assalamu alaikum…
>
>Tolong ustadz jelaskan mengenai kata “urusan” pada surat 45 ayat 18.
>Dan bagaimana sikap kita sebagai ummat Islam menanggapi pernyataan Allah
>SWT pada surat 5 ayat 50, sedangkan segala urusan kita hari ini tidak
>diatur sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allh SWT.
>
>Terima kasih.

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum wr wb

Konteks QS 45: 18 adalah Bani Israil telah diberikan keterangan yang
nyata ttg agamanya lalu mereka berselisih tentang hal-hal itu karena rasa
dengki diantara mereka, maka Allah menegaskan bahwa Allah menjadikan Nabi
Muhammad berada dalam syari’at dari urusan agamam karennaya Allah
menyuruh utk mengikuti syari’at itu dan jangan mengikuti hawa nafsu
orang-orang yg jahil.

M. Ali Ash-Shobuni menafsirkan QS 45: 18 dengan :
“Kemudian Kami jadikan kamu, ya Muhammad, berada dalam jalan yang jelas
dan metode yang rasyid akan urusan agama ini,maka ikutilah apa yang
diwahyukan kepadamu oleh Tuhanmu dari agama yang qayyim ini. dan
janganlah kamu mengikuti kesesatan orang musyrik. Berkata Baidhawi:
jangan mengikuti pandangan orang-orang jahil yang menuruti hawa nafsunya,
yaitu pandangan orang kafir Quraisy ketika mereka berkata, “pergilah ke
agama nenek moyangmu”
(Shafwatut tafasir, juz 14, h. 185)

Imam Mawardi menafsirkan ayat di atas dengan :
“Tsumma ja’alnaka ‘ala syari’atin minal amri: artinya pada jalur agama
seperti syari’ah.
Adapun makna syari’ah itu ada empat pendapat:
1. agama, ini pendapat ibn Zaid. karena agama merupakan jalan menuju
kemenangan
2. hukum waris, hukum pidana dan perintah serta larangan. Ini pendapat
Qatadah yang beralasan karena hal-hal itu merupakan jalan menuju agama
3. bayyinah (bukti atau keterangan) karena ini merupakan jalan kebenaran.
Ini pendapat Muqatil.
4. Al-Kalbi berpendapat bahwa makna syari’at di ayat ini adalah sunnah
Nabi.”
(Tafsir al-Mawardi, juz 5, h. 264)

Mengenai QS 5: 50, kita memang harus berhati-hati dalam urusan hukum
Allah itu karena :
Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah,
maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.
(Al-Ma’idah:5:44)
Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah,
maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.
(Al-Ma’idah:5:45)
Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah,
maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.
(Al-Mai’dah:5:47)

Ijinkan saya mengurai ketiga ayat di atas.

ASBABUN NUZUL

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: Bahwasanya Allah
menurunkan tiga ayat di atas ditujukan kepada dua golongan dari kaum
Yahudi. Pada zaman Jahiliyah, salah satunya menundukkan yang lain. Dan
akhirnya mereka sepakat bahwa hukuman orang bangsawan yang membunuh rakyat
jelata adalah 50 gantang, sedang hukuman rakyat jelata yang membunuh kaum
bangasawan adalah 100 gantang. Begitulah sampai kedatangan Nabi Muhammad
SAW di Madinah. Keduanya akhirnya membuat perjanjian damai dengan Nabi.
Tak lama kemudian timbul satu kasus, seorang rakyat jelata membunuh seorang
bangsawan. Lalu bangsawan yang lain diutus kepada rakyat jelata tadi, ia
berkata: Berikan kepada kami 100 gantang, si rakyat jelata, menjawab,”
Apakah ada keistimewaan ?, kedua golongan kita agamanya satu, nasab kita
satu, negeri kita satu; Kenapa diat sebagian mereka separoh dari sebagian
lainnya ?

Sesungguhnya kami telah menyerahkan kezaliman dan diskriminasi kepada
kalian. Jikalau Muhammad datang, maka kami tidak akan memberikannya kepada
kalian”. Hampir saja terjadi perang antara dua golongan (Yahudi) tersebut,
lalu kedua golongan sepakat untuk menjadikan Rasulullah sebagai penengah
mereka. Bangsawan berkata: Demi Allah, Muhammad bukanlah orang yang telah
memutuskan suatu yang lemah sebagaimana kalian memutuskan. Perkataan
Bangsawan ini dibenarkan mereka. Bangsawan berkata: sungguh apa yang telah
kami putuskan adalah suatu kelaliman dan penaklukan atas mereka.

Selundupkan seseorang yang mengetahui pendapat Muhammad. Jika Ia memberikan
keputusan yang seperti yang yang kalian kehendaki, maka jadikanlah ia penengah,
tapi jika ia memutuskan yang lain maka janganlah kalian jadikan
dia penengah. Kemudian mereka menyelundupkan orang munafik untuk memberitahu
kepada mereka pendapat Rasulullah. Ketika orang-orang munafik tadi sampai
kepada Rasul, maka Allah memberitahukan tentang urusan mereka semuanya serta
apa sebenarnya yang mereka kehendaki.

PENJELASAN

Terdapat perbedaan pendapat dikalangan Ulama tentang penafsiran ayat di
atas. Fakhr ar- Razi, misalnya, menyatakan ada dua hal utama dalam
memahami ayat-ayat di atas:

Pertama, bahwa yang dimaksud firman Allah di atas adalah ancaman terhadap
orang Yahudi atas keberanian mereka mengingkari hukum Allah yang telah
dinashkan dalam Taurat, mereka berkata: Itu tidak wajib. Karena itulah
mereka menjadi kafir secara mutlak. Mereka tidak berhak lagi menyandang
gelar “iman”, tidak berhak atas Musa dan Taurat, serta tidak berhak pula
atas Muhammad dan Al-Qur’an.

Kedua, Kaum Khawarij berpendapat bahwa setiap orang yang bermaksiat kepada
Allah, maka ia kafir. sedangkan Jumhur berpendapat bahwa ayat tersebut
merupakan ancaman bagi orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah, maka
ia menjadi kafir, zalim, dan fasik.

Dua hal utama di atas dibahas oleh para mufassir klasik. Berikut ini
ikhtisar pendapar para mufassir :

1) Sebagian Mufassir sepakat bahwa ayat ini khithabnya khusus. Tetapi
mereka berbeda pendapat dalam menafsirkan kekhususannya. Ada yang berpendapat
ayat ini untuk orang Yahudi semata. Pendapat ini didukung oleh Abdullah bin
Abdullah bin Utbah bin Mas’ud. Hasan Basri berkata bahwa ayat tersebut
ditujukan kepada orang Yahudi, tapi bagi muslim tetap wajib berhukum pada
apa yang diturunkan Allah (bi ma anzal Allah). Ibnu Mansur, Abu Syekh, dan
Ibnu Marduwaih meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat tersebut diturunkan
Allah khusus untuk orang Yahudi.

Mufassir yang lain berpendapat bahwa ayat tersebut untuk Ahli Kitab yakni
Yahudi dan Nasrani. Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abu Sholeh bahwa tiga
ayat surat Al-Maidah tersebut tidak berlaku atas kaum muslimin, tapi untuk
orang kafir, yakni Ahli Kitab. Ibnu Abbas berkata: Sebaik-baik kaum adalah
kalian, apa yang baik itu bagi kalian, sedang apa yang buruk itu adalah buat
ahli Kitab. Barangsiapa menentang hukum Allah sungguh ia telah kafir dan
barangsiapa tidak berhukum dengan hukum Allah, maka ia telah berbuat zalim
dan fasik.

Ada yang berpendapat bahwa ketiga ayat tersebut memang bersifat khusus
tetapi konteks ketiga ayat itu berbeda. Asy-Sya’bi, misalnya, ia berkata:
Julukan kafir itu bagi orang Islam, zalim bagi orang Yahudi, dan fasik
bagi orang Nasrani. Al-Zamakhsyari berkata bahwa tiga sifat yang dinisbatkan
kepada orang kafir (Ahli Kitab) menunjukkan penghinaan terhadap mereka
karena mereka melampaui batas dalam kekufuran mereka, perbuatan zalim
mereka terhadap ayat-ayat mereka dengan ejekan dan keengganan mereka lalu
mereka berhukum dengan selainnya. Ada juga yang berpendapat bahwa sifat kufur
itu maksudnya adalah kufur nikmat.

Fakhr ar-Razi menyatakan bahwa pendapat tentang ayat-ayat di atas berlaku
khusus adalah lemah. Pertama; bertentangan dengan kaedah “al-‘Ibrah bi
‘umum al-lafdzi, la bi khushus al-sabab”. Kedua; pendapat ini juga lemah
sebab firman di atas memakai kata man yang menunjukkan sifat umum (sebagai
syarat).

2) Sebagian mufassir berpendapat bahwa ayat di atas umum. Tetapi itu tidak
berarti jika seorang muslim maka ia menjadi kufur. Thawus, misalnya,
berkata: Ia tidak kafir seperti kafirnya orang yang pindah agama dan
seperti orang kafir yang ingkar kepada Allah dan hari kebangkitan. Atha’
berpendapat senada: muslim yang demikian menjadi kufur tetapi tidak kafir
secara hakiki. Mereka seolah-olah menafsirkan yang dimaksud dengan kafir,
zalim dan fasik adalah kafir, zalim dan fasik terhadap nikmat.
Pengarang Tafsir Ruh al-Ma’any menjelaskan bahwa Abu Hamid dan lainnya
meriwayatkan dari asy-Sya’bi, ia berkata tiga ayat di atas dapat
dibedakan. Yang pertama (5:44) berlaku bagi muslim, sedangkan dua ayat
berikutnya (5:45;47) Yahudi dan Nasrani, bahwa jika kufur tersebut dinisbatkan
pada orang mukmin diartikan ancaman dan sikap keras. Tetapi jika sifat fasik
dan kufur dinisbatkan pada orang kafir, hal itu berarti menunjukkan keingkaran
dan keluarnya mereka dari hukum Allah. Riwayat lain, yaitu Hakim, Abdur Razak,
Ibn Jarir dari Khuzaifah bahwa tatkala ia membacakan ayat di atas, tiba-tiba
seorang laki-laki berdiri dan berkata: Ayat tersebut diperuntukkan untuk Bani
Israel, lalu Huzaifah berkata: Sebaik-baik saudara adalah Bani Israel, jika
kalian bahagia mereka susah. Perkataan Huzaifah di atas ditafsirkan sebagai
kecenderungannya akan umumnya ayat tersebut. Ali Ibnu Husain meriwayatkan dengan
pendapat umumnya ayat tersebut, tapi ia berkomentar: Kufur di atas bukan berarti
kufur syirik, fasik bukanlah fasik syirik, dan zalim bukanlah zalimnya syirik.

Pendapat yang paling kuat menurut Fakh ar-Razi adalah pendapat Ikrimah
bahwa ayat tersebut umum bagi setiap orang yang ingkar dalam hatinya dan
menentang dengan lisannya. Saya sependapat dengan Ikrimah, tetapi
persoalannya bagaimana dengan konteks keindonesiaan.

Untuk menjawab ini, saya merasa bahwa kita perlu mengembangkan adanya
pendapat di masa kini, yakni lafaz bi ma anzala Allah dalam ketiga ayat di
atas, sesungguhnya layak diperdebatkan. Apakah bi ma anzala Allah bermakna
nashshan (secara teks nash) atau ruuhan (makna di balik teks nash, jiwa
nash). Karenanya bisa saja ada hukum manusia (siyasah wadh’iyyah)
bertentangan dengan hukum Allah secara teks nash; tetapi bersesuaian
dengan ruh nash. Apakah kasus terakhir ini juga tetap terkena keumuman ketiga
ayat di atas ? Kemudian apa klasifikasi ruh nash itu ? Dan apakah mungkin
teks nash berbeda secara diametral dan konfrontatif dengan ruh nash ? Tentu
saja persoalan-persoalan ini membutuhkan kajian khusus yang lebih mendalam,
yang tidak mungkin ada dalam tulisan sederhana ini.
Al-Haq min Allah

salam,
Nadirsyah Hosen


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: