20. Islam Jama’ah

19 12 2009

Assalamu’alaikum w.w,

Tanya:
Saya ingin mengetahui mengenai Islam Jamaah. Mohon dijelaskan
karakteristik utamanya, serta penyimpangan2nya (kalau ada)
Jazaakallah khairan katsiira

Jawab:
Islam Jama’ah antara lain merujuk pada kelompok keislaman di Indonesia
yang berdiri kira-kira pada awal tahun 70-an, dan setelah itu mengalami
beberapa kali perubahan bentuk, termasuk perubahan organisasi formalnya.

Beberapa karakteristik yang khas Islam Jama’ah adalah:
– harus belajar dari orang yang bisa dirujuk hubungan guru-muridnya
hingga ke rasulullah SAW;
– mempunyai pendapat bahwa bagi muslim yang belum memiliki imam, belum
sah keislamannya; dari sini muncul praktek bai’at di kalangan Islam
Jama’ah;
– tidak bermakmum di belakang imam yang tidak “diakui” oleh kelompoknya.
– dll.

Tentu, seperti setiap kelompok keislaman yang lain, kelompok inipun
bisa saja mengalami perubahan “karakteristik”. (Dan kita berdoa,
mudah-mudahan saja ke arah yang lebih baik). Jadi, karakteristik yang
kita lihat berlaku di masa lalu, bisa saja tidak lagi berlaku saat
ini, atau esok hari.

PENYIMPANGAN

Kelompok ini oleh salah satu komite yang dibentuk MUI
dikategorisasikan sebagai kelompok eksklusif-agresif, karena sifat
eksklusifnya (hanya bermakmum terhadap imamnya saja), dan secara
agresif mengembangkan pengaruhnya dengan berbagai cara. Karakteristik
yang dianggap tidak sejalan dengan pemahaman mayoritas ulama adalah
keharusan bai’at yang bermuara pada kepatuhan terhadap imam, kadang
dalam pengertian patuh yang agak berlebihan.

Di samping itu, mayoritas ulama tidak mengenal kewajiban belajar pada
guru yang harus sambung-menyambung dengan catatan yang jelas hingga ke
rasulullah (disebut sebagai konsep “manqul”). Tentu, kita perlu
meneladani rasulullah, dan contoh-contoh penerapan nilai-nilai
mendasar dari al-Qur’an pun berasal dari beliau. Tapi, hal ini tidak
berarti adanya syarat yg. tegas agar guru kita pernah belajar dari
guru yang lain, dan guru lain tsb. belajar dari guru sebelumnya, dst.
hingga sahabat yang belajar ke rasulullah. Selama yang kita pelajari
adalah suatu “kebenaran Islam”, maka sah-sah saja memungutnya dari
mana pun juga.

Konsep manqul ini mengandung bahaya, karena bisa bermuara pada sikap
mengkultuskan individu.

Jika terjadi pengkultusan, maka kontrol terhadap pemimpin menjadi
melemah. Karena itulah, dalam kelompok-kelompok dg. pengkultusan ini,
sering terjadi sang pemimpin melakukan perbuatan-perbuatan yang berada
di luar batas-batas kewajaran, misalnya berlaku melampaui batas
terhadap yang lemah, khususnya kaum wanita, menyalahgunakan kekayaan
yang diperoleh dari pengikutnya, dll.

SIKAP KITA

Saya ingin bicara dalam konteks umum dulu, tidak khusus Islam Jama’ah.
Kalau kita bertemu dengan orang yang “terjebak” dalam
kelompok-kelompok yang dibangun atas pengkultusan terhadap seseorang,
maka sikap kita yang pertama adalah sikap merangkul, dan bukan sikap
mengkafirkan. Kalau sikap kita adalah mengkafirkan ybs., yang terjadi
biasanya malah ybs. akan lebih “lengket” dengan kelompoknya. Seseorang
yang berada di bawah pengaruh kultus individu, harus dilihat sebagai
korban, dan bukan sebagai pelaku. Bukankah kita ingin agar ybs.
menerima hidayah-Nya?

Mengenai Islam Jama’ah, tentu kita harus melihatnya kasus per kasus.
Saya mengenal seorang teman yang rajin mengikuti pengajian Islam
Jama’ah, tapi berpendapat bahwa kepatuhan terhadap pemimpinnya, harus
selalu diikuti dengan sikap kritis. Dalam kasus ini, tentunya dia
“masih lebih baik” daripada rekannya yang lain yang kebetulan
memelihara kepatuhan buta pada pemimpinnya.

Di samping itu, kita harus selalu memelihara sikap positif dengan
mengingat bahwa setiap kelompok, seperti juga setiap manusia, selalu
berubah (apakah ke arah yang lebih baik atau yang lebih buruk). Dengan
demikian, hindari penghakiman yang terlalu cepat (apalagi sampai
mengkafirkan), karena bisa saja terjadi, telah terjadi evolusi
pemahaman ke arah yang lebih baik. Karakteristik suatu kelompok di
masa lalu, bisa saja tidak berlaku lagi saat ini, karena perkembangan
pemahaman kelompok tsb.

Malah, kalau melihat dari konteks bahwa ybs. mempunyai semangat untuk
memperdalam pemahaman Islam-nya, kita harusnya bersyukur. Cuma, kalau
memang ada hal-hal yang kita anggap tidak benar menurut ukuran Islam,
kita berusaha untuk menjelaskannya, agar ybs. memahaminya.

Akhirnya, kebenaran datangnya dari Allah. Kalau ada kesalahan dari
jawaban panjang di atas, kesalahan itu berasal dari diri saya sendiri,
karena keterbatasan yang melekat pada saya.

Salam,
Muihamad AM


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: