07. Tanya Imam Hambali

19 12 2009

Assalamu’alaikum
>Saya berminat untuk tahu lebih banyak ttg Imam Hanbali dan
>segala pemikirannya ttg Islam. Saya juga ingin tahu bagaimana cara untuk
>mendapatkan tafsir Quran terbaru. Dengar kabar salah satu kedutaan besar
>negara asing bersedia memberikannya dg cuma-cuma. Juga jika bisa
>literature mengenai As Sunnah/Al Hadits. Ada yg dapat bantu ttg buku
>belajar Bhs. Arab sendiri? Terima kasih banyak atas bantuannya.
>Begitulah. Saya berminat pada tafsir, AsSunnah dan bhs arab. Jika dapat
>bhs arab dg dialek quraisy.
>Taqabalallah mina wa minkum…
>Wassalamu’alaikum

Jawaban:

Ass wr wb
Adduh…banyak sekali minat anda. Luar biasa….saya salut dengan minat
anda. Saya berdo’a
semoga Allah melapangkan jalan saudara dalam mengejar cita-cita.
Saya sarankan anda belajar saja ke Timur Tengah. Susah mencari orang yang
ahli bahasa Arab dg dialek Quraisy di Indonesia…..

Untuk memberikan dukungan terhadap cita-cita anda, ini saya ceritakan
sedikit ttg Imam Ahmad bin Hanbal.

AHMAD BIN HANBAL, IMAM (Baghdad, Rabiulakhir 164 H/Desember 780
M-Rabiulawal 241 H/Juli 855 M). Ulama mujtahid (ahli ijtihad) besar, ahli
hadis, ahli fikih, dan pendiri Mazhab Hanbali. Nama lengkapnya Ahmad bin
Muhammad bin Hanbal. Ia sering juga dipanggil dengan nama Abu Abdullah
karena salah seorang putranya bernama Abdullah. Setelah menjadi ulama
besar, Ia dikenal dengan nama panggilan Imam Hanbali.

Ahmad bin Hanbal, anak yatim yang berasal dan keluarga miskin, sejak
masa kecilnya telah mulai belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an,
belajar baca-tulis, dan bahasa Arab. Ibunya sangat mengagumi daya hafalan
anaknya dan kehausannya menuntut ilmu. Untuk kebutuhan hidup berbagai
bentuk pekerjaan dilakukannya, bahkan Ia tidak segan-segan menjadi kuli.
Kesibukannya itu tidak sedikit pun menghambat, bahkan sebaliknya
memperlancar cita-cita utamanya untuk menuntut ilmu.

Pada mulanya Ia belajar fikih aliran ra’yi (rakyu; lebih banyak
menggunakan akal dalam menggali hukum dan Al-Qur’an dan sunah) pada Imam
Abu Yusuf, murid dan sahabat Imam Abu Hanifah di Baghdad, sampai ia
menjadi alim (ahli) dalam bidang tersebut. Kemudian perhatiannya beralih
untuk mendalami bidang hadis dari tokoh-tokohnya di negeri itu, terutama
dan Hasyim bin Basyir (10~183 H). Lebih lanjut dalam menimba ilmu Ia
mengadakan perjalanan ke berbagal negeri, antara lain Kufah, Basra,
Madinah, dan Mekah. Di negeri yang disebut terakhir mi, tepatnya di
Masjidilharam, Ia berguru kepada Imam Syafi’i guna memperdalam ilmu fikih
dan usul fikih. Ia kembali belajar kepada Imam Syafi’i ketika gurunya ini
berada di Baghdad.

Dalam menuntut ilmu Ia lebih mengandalkan catatan dibandingkan dengan
hafalan. Dalam mengajarkan hadis, bisa jadi Ia menerangkannya berdasarkan
hafalannya. Namun, seperti dicatat oleh Ahmad Syarbashi (fakih al-Azhar,
Cairo, Mesir), para muridnya tidak dibenarkan menuliskan suatu hadis
sebelum dipastikan dari catatannya. Ia mengandalkan catatan, meskipun
semua orang di masanya mengakul keunggulan daya hafalannya.

Menurutnya, menuntut ilmu tidak mengenal batas. Dalam rangka menimba
hadis, ketika berusia 39 tahun Ia mengadakan perjalanan dan merantau ke
Yaman selama satu tahun. Menjawab pertanyaan sampal kapan Ia akan
menuntut ilmu, Ia menjawab, “Sampal ke liang kuburku.”

Dalam perjalanan ilmiahnya itu, yang paling diminatinya ialah bidang
hadis sehingga menjadi tokoh hadis yang disegani. Predikat yang diberikan
kepadanya sebagal muhaddis (ahil hadis) tidak kalah dengan predikatnya
sebagal mujtahid pendiri Mazhab Hanbali. Ia terkenal sebagai tokoh hadis,
bahkan karena kegigihan dan keunggulannya dalam berhujah untuk
membuktikan validitas (kesahihan) hadis sebagai sumber ajaran agama, Ia
dijuluki sebagal nasir as-sunnah (pembela sunah Rasulullah SAW). Baginya,
mendalami hadis berarti sekaligus mendalami hukum Islam. Oleh karena itu,
gelarnya sebagal ahli hadis tidak dapat dipisahkan dari gelarnya sebagal
ahil fikih, pendiri Mazhab Hanbali.

Ketika berusia 40 tahun Ia kembali ke Baghdad dan mulal berijtihad
secara mandiri dan mengajarkan hasil ijtihad dan ilmu yang diterimanya.
Seperti dikemukakan Ahmad Syarbashi, secara rutin setiap hari
pengajiannya terdiri atas dua sesi: (1) sesi pertama untuk umum, diadakan
setelah salat asar di sebuah masjid di tengah kota Baghdad dan (2) sesi
kedua untuk orang-orang tingkat tertentu, diadakan di rumahnya.

Di antara murid-muridnya yang terkenal adalah Imam al~Bukhari, Imam
Muslim, dan Imam Abu Dawud. Melalui kegiatan pengajaran itulah Ia
menyampaikan hadis dan fatwa yang kemudian dikenal dengan Mazhab Hanbali.

Kegiatan mengajar untuk sementara waktu terpaksa ditinggalkannya karena
Ia harus meringkuk dalam bui akibat keteguhan pendiriannya dalam
mempertahankan prinsip yang diyakininya. Ia hidup pada masa Muktazilah
(aliran teologi Islam rasional dan liberal pada abad ke-8 yang didirikan
oleh Wash bin Ata [80 H/699 M-131 H/748 M]) meraih sukses besar dengan
merangkul penguasa, bahkan menjadi mazhab resmi negara. Penguasa menganut
pendirian Muktazilah, yang berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah “makhluk”
(diciptakan). Pendirian ini dipaksakan kepada ulama, termasuk kepada
Ahmad bin Hanbal, tetapi Ahmad bin Hanbal tetap menolak dan bertahan
bahwa Al-Qur’an “bukan makhluk” melainkan “kalam Allah” yang merupakan
salah satu dari beberapa sifat-Nya. Sebagal akibat dan penolakan ini, Ia
disiksa bahkan dipenjarakan beberapa lama. Setelah keluar dari penjara,
Ia kembali ke tugas semula, yakni mengajar untuk menyampaikan
fatwa-fatwanya.

Dalam fatwanya, tokoh pendiri Mazhab Hanbali ml terkenal berpegang teguh
pada hadis Rasulullah SAW di samping Al-Qur’ an. Menurutnya, salah satu
persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang mufti (pemberi fatwa) adalah
penguasaan seluk-beluk hadis. Sebelum menggunakan kesepakatan sahabat,
fatwa sahabat, dan ijtihad dengan berbagai metodenya (seperti qias,
istihsan, istislah, dan lainnya, hukum suatu masalah harus terlebih
dahulu diteliti dalam Al-Qur’an dan hadis. Oleh sebab itu, penguasaan
seluk-beluk hadis mutlak diperlukan. Ia menentang keras pendapat yang
hanya berpegang pada lafal Al-Qur’an dengan mengabaikan hadis Rasulullah
SAW. Dalam penolakannya Ia berkata, “Sesungguhnya Allah, yang Maha Tinggi
dan Maha Suci nama-nama-Nya, telah mengutus Nabi Muhammad SAW membawa
petunjuk (Al-Qur’ an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas
segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya. Dan Allah
telah menurunkan Al-Qur’an kepadanya (Nabi Muhammad SAW) sebagai petunjuk
dan cahaya bagi penganutnya. Dan Allah menunjuk Rasul-Nya itu untuk
menjelaskan isinya…”

Keteguhan sikapnya berpegang pada hadis Rasulullah SAW ml telah banyak
mewarnai mazhab fikihnya, bahkan, seperti dijelaskan Abdul Aziz
Abdurrahman as-Sa’id (ahli hukum Islam Arab Saudi), mazhabnya dikenal
juga sebagal fiqh as-sunnah. Ia berpegang teguh pada sunah Rasulullah
SAW, namun bukan berarti ia dengan mudah menerima suatu hadis sebagal
dalil. Hadis yang diterimanya diseleksi lebih dahulu dengan ketat,
terutama hadis ahkam (hadis tentang hukum). Adapun mengenai hal-hal yang
tidak berkaitan langsung dengan masalah hukum, misalnya mengenal
keutamaan amal, Ia tampak lebih longgar dalam persyaratannya. Dalam hal
ini hadis daif, selama kedaifannya bukan disebabkan oleh perawinya yang
pembohong, dapat diterima sejauh tidak bertentangan dengan prinsip
keagamaan yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Dalam
sebuah pernyataan seperti dinukil Faruq Abu Zaid, ahli hukum Mesir, Ia
berkata, “Jika kami meriwayatkan hadis dari Rasulullah SAW mengenal halal
haram, sunah-sunah dan hukum-hukum lainnya, kami lakukan seleksi yang
ketat terhadap sannadnya. Tetapi jika kami menerima hadis-hadis berkaitan
dengan keistimewaan berbagai amal atau yang tidak menyangkut soal hukum,
maka kami longgarkan (persyaratan) sanad-sanadnya.”

Selain mengajar dan berijtihad serta memberi fatwa, ia juga gemar
menulis. Kebanyakan tulisannya membahas bidang sunah dan pendapat
sahabat. Karya tulisnya di bidang fikih tidak sempat dibukukannya. Murid
atau pengikutnya kemudian mengumpulkannya, antara lain Ahmad Ibnu
Muhammad al-Khalal (w. 311 H) dalam kitabnya al-Jami’ al-Kabir (Himpunan
Besar), yang ia himpun dari murid-murid Ahmad bin Hanbal. Karya Ahmad
Hanbal yang amat terkenal ialah kitab hadis Musnad. Kitab ini berisi
40.000 hadis, yang diseleksi dari 700.000 hadis yang diterimanya.

salam hangat,


Aksi

Information

One response

14 01 2010
eza

saya mau nanya, bagaiman cara agar bisa tetap istiqomah ketika menuntut ilmu, karna bagi saya sangat sulit untuk tetap lurus dalam belajar apalagi dalam menghaal. terimakasih, wasalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: