02. Seputar Nasyid dan Poligami

18 12 2009

Assalamualaikum wr wb

ba’da tahmid dan sholawat. ane ingin menanyakan 2 hal , afwan kalau
terlalu banyak .

(1) hukum nya nasyid dan dalil dari sunnah rosulullloh.

(2) bagaimana mendakwahi ibu ana yang tidak bisa menerima poligami atau
diduakan oleh ayah ana, ustadz?! atau buku apa yang kira2 pas buat beliau,
serta bagaimana pula mendakwahi ayah ana agar bisa bersikap adil ? apabila
tetap ibu tidak bisa menerima, atau ayah tidak dapat bersikap adil, apakah
jalan cerai diperbolehkan ataukah ada jalan lain yang lebih baik ?

Jawaban:

wa’alaikum salam wr. wb.

(1) Hukum bernasyid/menyanyi pada asalnya halal, boleh. Yang menyebabkan tidak
boleh kalau bernasyid/menyanyi itu mendekatkan kita melakukan zina, maksiat.
Dalil QS Luqman 6 menyangkut tafsir kata ‘lahwul hadist’ dan Al Qashsash
55, yaitu mengenai tafsir kata ‘ laghwu’. Lahwul hadist yang dimaksud adalah
yang menyesatkan manusia dari jalan Allah. Kata laghwun dalam Al Qashash 55
arti zahirnya (lihat Fatwa Dr Y Qardawi) cercaan, ucapan tolol yang berupa
caci maki.

Diriwayatkan dari Ibnu Juraid bahwa rasulullah s.a.w. memperbolehkan mendengar
sesuatu. Maka ditanyakan kepada beliau “Apakah yang demikian itu pada hari
kiamat akan didatangkan dalam katagori kebaikan atau keburukan ?” beliau
menjawab “Tidak termasuk kebaikan dan juga tidak termasuk kejelekan, karena
ia seperti al ladhwu “.

Jadi Al Laghwu menjadi keburukan kalau niatnya dan kandungannya menyebabkan
maksiat kepada Allah. Nyanyian/nasyid yang baik dan diniatkan untuk qurbah
(menekatkan diri) pada Allah, maka dia akan menjadi amal baik.

Menurut Imam Al Ghazali dan ibnu Nahwi dalam al Umdah , dan Al Qhadhi Abu
Bakar ibn Arabi dalam Al Hakam, bahwa tidak ada satupun hadist sahih yang
mengharamkan nasyid. Bahkan Ibn hazm berkata ‘Semua riwayat mengenai
pengharaman nyanyian itu batil/palsu’.

Dalil/nash yang menghalalkan nyanyian dikekumakan dalam hadist shahih Bukhari
dan Muslim, bahwa Abu Bakar r.a pernah masuk ke rumah Aisyah untuk menmui
Rasulullah, ketika itu ada dua gadis di sisi Aisyah sedang menyanyi, lalu Abu
Bakar menghardiknya seraya berkata “Apakah pantas ada seruling setan di rumah
Rasulullah?” Kemudian Rasulullah s.a.w menimpali ‘”da’humaa ya aba Bakr,
fainnahaa ayyaamu ‘iidin Biarkanlah mereka wahai abu Bakar, sesungguhnya hari
ini adalah hari raya”.

Syarat ikatan yang harus dijaga :
1.Tema/isi nasyid /nyanyian harus sesuai dg ajaran dan adab islam.
2.Penampilan penyanyi haris sesuai dg adab islam
3. Tidak boleh berlebih-lebihan sehingga mengabaikan kewajiban, jangan sampai
kegiatan tsb melalaikan hati kita mengingat Allah.

Demikian saya ringkaskan dari buku Fatwa-fatwa Kontemporer Dr Y Qardawi hal
863–873. Semoga bermanfaat.

(2) Mulailah dg menyakan tujuan ayah menikah kembali, apakah sekedar untuk nafsu
atau tujuan mulia sebagaimana dicontohkan Rasulullah s.a.w. Berikan informasi
pada ayah tentang tuntutan agama jika beliau ingin menikah lagi, yaitu harus
bisa berlaku adil.

Setelah punya informasi cukup dan meyakinkan, sampaikan ke pada ibu tujuan dan
dasar hukum agama poligami. Ada satu buku yang ditulis Murthada Muthahhari
yang berjudul Hak-hak Wanita dalam Islam., pada halaman 234 ddikemukan
menganai Hak wanita dalam Poligami, yang secara ringkasnya : Hak untuk kawin
adalah hak manusia yang seharusnya dimasukkan dalam HAM, hanya saja ini tidak
disinggung. Hak untuk kawin adalah hak hakiki manusia. Sementara itu
kenyataan menunjukkan jumlah wanita lebih banyak dari pria. Jika monogami saja
yang dobolehkan, dijunjunjung uu, maka secara logika sebagian wanita kehilangan
hak untuk menikah secara sah dan bermartabat. Jika poligami tidak diterima,
maka dg sendirinya wanita yang tak setuju telah merampas hak wanita lain untuk
mendapat perlindungan dari seorang suami. Maka seharusnya menjadi tugas para
wanita untuk memperjuangkan hak-hak kaum wanita. tentu poligami ini didasari
oleh persyaratan yang ditentukan sehingga menjamin hak-hak wanita.

Cara penyampaiannya (mendakwahi) tentu harus bilhikmah (dg penuh hikmah) wal
mau’izhatil hasyanah (dg perkataan yang baik)’.

Cerai adalah perbuatan halal yang sangat dibenci Allah. Karena itu usahakan
tidak menempuh jalan ini, ini adlah jalan darurat. Tidak layak jika seorang
muslim hendak melakukan kebaikan dg cara melakukan perbuatan yang dibenci
Allah. Satu sisi ingin kawin lagi untuk tujuan baik, mulya, namun pada sisi
lain dg ringan melakukan perbuatan yang menyakitkan dan dibenci Allah.

Mudah-mudahan kita dimudahkan memahami hukum-hukum Allah yang ditujukan untuk
mengatur kehidupan manusia.

Wallahu’alam bish showab,
wassalaamu’alaikum wr. wb.

Muaz Junaidi

Dirancang oleh KTPDI, 1999-2005
Hak cipta © dicadangkan


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: