45. ORANG-ORANG YANG MENGATAKAN BOLEHNYA MENYANYI

13 12 2009

45. ORANG-ORANG YANG MENGATAKAN BOLEHNYA MENYANYI

Itulah dalil-dalil yang memperbolehkan lagu dan nyanyian dari nash-nash dan kaidah-kaidah Islam yang cukup lengkap, meskipun tidak ada orang yang mengatakan keharusan adanya dalil dan kaidah itu, dan tidak seorang faqih pun yang berpendapat demikian. Bagaimana tidak, padahal telah mengatakan keharusan adanya dalil dan kaidah-kaidah itu banyak dari sahabat, tabi’in dan para fuqaha’.

Cukuplah bagi kita bahwa sesungguhnya Ahli Madinah, dengan kehati-hatiannya dan golongan Zhahiriyah dengan keteguhannya dalam memegang zhahir nash serta kaum shufi dengan kekerasan mereka untuk mengambil ‘azimah (semangat), bukan mengambil keringanan-keringanan telah diriwayatkan dari mereka tentang bolehnya lagu-lagu.

Imam Syaukani berkata di dalam kitabnya “Nailul Authar,” “Ahlul Madinah berpendapat dan ulama’ yang sependapat dengan mereka dari kalangan Zhahiriyah serta jamaah dari kaum shufi bahwa menyanyi itu diperbolehkan, meskipun dengan gitar dan biola.”

Ustadz Abu Manshur Al Baghdadi Asy-Syafi’i menceritakan di dalam kitabnya mengenai mendengar lagu, bahwa sesungguhnya Abdullah bin Ja’far berpendapat bahwa menyanyi itu tidak apa-apa, dan beliau memperbolehkan budak-budak wanitanya untuk menyanyi, dan beliau sendiri ikut mendengarkan getaran suaranya, itu di zaman Amirul Mu’minin Ali RA

Ustadz tersebut juga menceritakan hal itu dari Al Qadhi Syuraih, Said bin Musayyab, ‘Atha’ bin Abi Rabah, Az-Zuhri, dan Asy-Sya’bi.

Imam Al Haramain dalam kitabnya “An Nihayah” dan Ibnu Abid Dunya mengatakan, “Telah diikut berita dari ahli sejarah bahwa sesungguhnya Abdullah bin Zubair pernah mempunyai budak-budak wanita yang terlatih untuk bermain gitar, dan sesungguhnya Ibnu Umar pernah ke rumah beliau ternyata di sisinya ada ‘ud (gitar). Maka Ibnu Umar bertanya, “Apa ini wahai sahabat Rasulullah?,” maka Abdullah bin Zubair mengambilkan untuknya, dan Ibnu Umar merenungkannya, dan berkata, “Apakah ini mizan syami (neraca musik) dari Syam?” Ibnu Zubair berkata, “Dengan ini akal seseorang bisa dinilai.”

Al Hafidz Abu Muhammad bin Hazm meriwayatkan di dalam risalahnya tentang “mendengarkan nyanyian” dengan sanadnya yang sampai pada Ibnu Sirin, ia berkata, “Sesungguhnya ada seorang laki-laki datang ke Madinah dengan membawa budak-budak wanita, maka orang itu singgah di rumah Ibnu Umar. Di antara budak-budak wanita itu ada yang memukul alat musik, maka datanglah seorang laki-laki menawarnya, maka ia tidak mempedulikan laki-laki itu. Ia berkata, “Pergilah untuk menemui seseorang yang lebih baik bagimu untuk mengadakan jual beli daripada orang ini.” la berkata, “Siapakah orang itu?” Ibnu Umar berkata, “la adalah Abdullah bin Ja’far.” Maka orang tersebut menawarkan budak-budak wanitanya kepada Abdullah bin Ja’far. Kemudian Abdullah bin Ja’far memerintahkan salah seorang dari budak itu sambil mengatakan, “Ambillah ‘ud (gitar) ini!,” maka budak itu mengambilnya lalu menyanyi, dan kemudian beliau membelinya, kemudian datang kepada Ibnu Umar ….” hingga akhir kisah.

Pengarang kitab “Al ‘Aqd” Al ‘Allaamah Al Adiib Abu ‘Umar Al Andalusi meriwayatkan bahwa Ibnu Umar pernah masuk ke rumah Abdullah bin Ja’far, ternyata mendapatkan di sisinya ada seorang budak wanita yang di pangkuannya ada gitar. Kemudian Abdullah bin Ja’far berkata kepada Ibnu Umar, “Apakah kamu melihat ini ada masalah?,” beliau menjawab, “Tidak ada masalah.”

Al Mawardi menceritakan dari Mu’awiyah dan ‘Amr bin ‘Ash bahwa keduanya pernah mendengar gitar di rumah Abdullah bin Ja’far.

Abul Faraj Al Ashfahani meriwayatkan bahwa sesungguhnya Hassan bin Tsabit pernah mendengar dari ‘Izzah Al Mila’ lagu-lagu dengan gitar dengan mendendangkan sya’ir. Demikian juga ini diceritakan oleh Abul ‘Abbas Al Mubarrad.

Al Adfuwu menyebutkan bahwa Umar bin Abdul Aziz pernah mendengarkan budak-budak perempuannya sebelum menjadi khilafah. Ibnus Sam’ani pernah menukil tarkhis (dispensasi) dari Thawus, demikian juga Ibnu Qutaibah juga pernah menukil tarkhis dari Qadhi Madinah Sa’ad bin Ibrahim bin Abdur Rahman Az-Zuhri dari tabi’in. Demikian juga Abu Ya’la juga menukil di dalam “Al lrsyad” dari Abdul Aziz bin Salamah Al Majsyun, mufti Madinah.

Imam Ar-Rauyani menceritakan dari Al Qaffal, bahwa sesungguhnya madzhabnya imam Malik bin Anas itu memperbolehkan menyanyi dengan memakai alat musik, demikian juga Ustadz Abu Manshur Al Faurani juga menceritakan dari Imam Malik tentang bolehnya mempergunakan gitar.

Abu Thalib Al Malik di dalam kitab “Qutil Qulub” menyebutkan dari Syu’bah bahwa pernah mendengar suara genderang di rumah Minhal bin Amr, seorang muhaddits masyhur.

Abul Fadhl bin Thahir menceritakan di dalam kitabnya dalam bab “As Sima'” bahwa sesungguhnya tidak ada khilaf di antara ahli Madinah dalam memperbolehkan gitar.

Ibnun Nahwi di dalam kitabnya “Al ‘Umdah” dan Ibnu Thahir mengatakan (tentang bolehnya gitar itu) merupakan ijma ‘Ahlul Madinah. Ibnu Thahir mengatakan, “Pendapat itu juga didukung oleh golongan Zhahiriyah.” Al Adfuwi berkata, “Tidak ada perselisihan riwayat dalam masalah memukul genderang pada Ibrahim bin Sa’ad yang telah kami sebutkan, dia termasuk perawi yang diriwayatkan haditsnya oleh Ashabus-sittah.”

Al Mawardi menceritakan bolehnya menggunakan gitar oleh Abdul Fadhl bin Thahir dari Abi Ishaq Asy-Syairazi, demikian juga diceritakan oleh Imam Asnawi di dalam kitab “Al Muhimmat” dari Imam Ar-Rauyani dan Al Mawardi. Diriwayatkan juga oleh Ibnu Nahwi dari Ustadz Abu Manshur, diceritakan juga oleh Ibnu Mulaqqin di dalam kitab “Al ‘Umdah” dari Ibnu Thahir, diceritakan juga oleh Al Adfawi dari Syaikh ‘Izzuddin bin Abdus Salam, diceritakan juga oleh pemilik kitab “Al Imta'” dari Abu Bakar Ibnul Arabi, dan imam Al Adhfawi juga telah menegaskan tentang bolehnya.

Mereka semuanya mengatakan halalnya mendengar lagu-lagu, walaupun dengan alat-alat musik.

Adapun menyanyi saja, tanpa memakai alat musik, maka Al Adfuwi mengatakan di dalam kitab Al Imta’ “Bahwa sesungguhnya Imam Al Ghazali di dalam sebagian karya fiqihnya telah memindahkan kesepakatan para ulama tentang halalnya.” Ibnu Thahir menukil ijma’ para sahabat dan tabi’in atas bolehnya lagu-lagu tanpa musik, At-Taj Al Fazaari dan Ibnu Qutaibah menukil ijma’ Ahlil Haramain atas hal yang sama. Ibnu Thahir dan Ibnu Qutaibah juga menukil ijma’ Ahlul Madinah atas hal tersebut. Al Mawardi berkata, “Ahlul Hijaz memberi keringanan dalam hal itu di dalam hari-hari satu tahun yang paling utama yang diperintahkan di dalamnya untuk beribadah dan berdzikir.”

Ibnun Nahwi di dalam kitab “Al ‘Umdah” mengatakan, “Menyanyi dan mendengarkannya itu telah diriwayatkan dari sejumlah para sahabat dan tabi’in, di antara sahabat adalah Umar, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dan lainnya. Juga Utsman, sebagaimana dinukil oleh Al Mawardi dan Shahibul Bayan dan Ar-Rafi’i. Juga Abdur Rahman bin ‘Auf sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah. Juga Abu ‘Ubaidah Ibnu Jarrah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi. Juga Sa’ad bin Abi Waqqas, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Qutaibah. Juga Abu Mas’ud Al Anshari sebagaimana diriwayatkan oleh Al Baihaqi. Juga Bilal dan Abdullah bin Arqam dan Usamah bin Zaid, sebagaimana diriwayatkan oleh Al Baihaqi, Hamzah sebagaimana di dalam Shahih, Ibnu Umar sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Thahir, Bara’ bin Malik sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Nu’aim, Abdullah bin Ja’far sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr, Abdullah bin Zubair sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Thalib Al Makki, Hassan bin Tsabit sebagaimana diriwayatkan oleh Abul Faraj Al Ashfahani, Abdullah bin Amr sebagaimana diriwayatkan oleh Zubair bin Bakkar, Qurdzah bin Ka’ab sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Qutaibah, Khawwat bin Jubair dan Rabah sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Thalib Al Makki, ‘Amr bin Ash sebagaimana diriwayatkan oleh Al Mawardi, Aisyah dan Rubayyi’ sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bhukari dalam shahihnya dan Imam lainnya.

Adapun para tabi’in adalah, “Sa’ad bin Musayyab, Salim bin Abdillah bin Umar, Ibnu Hassan, Khharijah bin Zaid, Syuraih Al Qadhi, Said bin Jubair, ‘Amir Asy-Sya’bi, Abdullah bin Abi Atiq, ‘Atha’ bin Rabah, Muhammad bin Syihab Az-Zuhri, Umar bin Abdul ‘Aziz, dan Sa’ad bin Ibrahim Az-Zuhri.

Dari kalangan tabi’it tabi’in adalah banyak sekali, antara lain imam empat (madzahib), Ibnu ‘Uyainah dan Jumhur Syafi’iyah. Selesailah perkataan Ibnu Nahwi. Ini semuanya disebutkan oleh Imam Syaukani di dalam “Nailul Authar.” (Nailul Authar, 264-266)

BEBERAPA BATASAN DAN PERSYARATAN YANG HARUS DIPELIHARA

Kita tidak lupa untuk menambahkan selain hukum tersebut beberapa persyaratan yang harus dijaga di dalam mendengarkan lagu, antara lain sebagai berikut:

Pertama. Kita tegaskan bahwa tidak semua lagu itu diperbolehkan. Maka temanya atau isinya harus sesuai dengan adab dan ajaran Islam.

Maka tidak boleh menyanyi dengan kata-katanya Abu Nawas:

“Biarkan aku mencela, sesungguhnya celaanku itu merayu, dan obatilah aku dengan penyakit.”

Dan lebih berbahaya lagi adalah kata-katanya Iliya Abi Madhi di dalam qasidahnya, “Ath-Thalaasim”:

– Aku datang, tidak tahu dari mana, tetapi aku datang!

– Dan sungguh aku telah melihat di hadapanku ada jalan maka aku berjalan.

– Bagaimana aku bisa datang? Bagaimana bisa melihat jalan, aku tidak tahu.

Ini merupakan tasykik (peraguan) terhadap dasar-dasar keimanan, baik secara prinsip awal permulaan, tempat kembali dan prinsip kenabian.

Di antara lagu-lagu yang dilarang adalah lagu yang berjudul “Dunia adalah Rokok dan Segelas Minuman Keras” lni juga bertentangan dengan ajaran Islam yang telah menganggap minuman keras sebagai kotoran dari perbuatan syetan. Bahkan Islam telah melaknati orang yang minum minuman keras, yang memproduksi, yang memperjualbelikan, yang membawanya dan setiap orang yang membantu usaha itu. Demikian juga rokok merupakan suatu penyakit yang berbahaya bagi kesehatan fisik dan ekonomi.

Lagu-lagu yang menyanjung orang-orang zhalim, para thaghut, dan orang-orang fasik dari para pengusaha yang menimpa ummat Islam sekarang ini, bertentangan dengan ajaran Islam yang melaknati orang-orang zhalim dan setiap orang yang membantu mereka, bahkan yang membiarkan (mendiamkan) mereka. Maka bagaimana mungkin dibolehkan adanya orang yang menyanjung mereka?!

Demikian juga lagu-lagu yang mengagungkan orang yang bermata keranjang dan yang berhidung belang, laki-laki atau wanita, itu juga bertentangan dengan Islam yang kitabnya selalu mengajak:

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka memelihara pandangannya….””katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pendangannya …” (An-Nur: 30, 31)

Rasulullah SAW berkata kepada Ali, “Wahai Ali, janganlah kamu mengikuti pandangan dengan pandangan berikutaya. Sesungguhnya untukmu pandangan yang pertama, dan tidak boleh untukmu pandangan yang terakhir (kedua).”

Kedua. Kemudian cara melagukan itu sendiri juga menjadi perhitungan. Karena bisa jadi kalau dilihat dari isi lagunya tidak ada masalah, tetapi cara melagukan dari penyanyi itulah masalahnya. Seperti mendesahkan suaranya untuk membangkitkan rangsangan bagi orang-orang yang hatinya sakit. Hal ini dapat mengalihkan lagu-lagu itu dari boleh menjadi haram, syubhat atau makruh. Seperti yang kebanyakan disiarkan atau ditayangkan sebagai permintaan para pendengar radio dari jenis lagu-lagu yang membangkitkan seks, cinta dan kerinduan dengan berbagai variasinya, terutama di kalangan muda-mudi.

Sesungguhnya Al Qur’an telah memberikan wasiat kepada para isteri Rasulullah SAW:

“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertaqwa. Maka Janganlah kamu tunduk (melunakkan) dalam berbicara sehingga berkeinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucaphanlah perkataan yang baik!.” (Al Ahzab: 32)

Maka bagaimana jika di samping suara yang lambat itu, masih disertai dengan sajak, irama dan musik.

Syarat yang ketiga, lagu-lagu itu tidak boleh disertai dengan perbuatan yang diharamkan, seperti minum khamr, tabarruj (menampakkan aurat) atau ikhtilath antara laki-laki dan perempuan, tanpa batas dan persyaratan. Cara yang bersih seperti inilah yang biasa (berlaku, di majelis-majelis nyanyian dan musik di masa dahulu. Inilah gambaran yang ada dalam benak fikiran ketika disebut lagu-lagu, terutama lagu-lagunya budak-budak wanita.

Ketika semua persyaratan ini tidak dipenuhi itulah yang dimaksud dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya, “Sungguh akan ada manusia dari ummatku yang meminum khamr, mereka menamakannya bukan dengan nama yang sebenarnya, kepala-kepala mereka dihiasi dengan alat-alat musik dan para biduanita, Allah akan memasukkan mereka ke dalam tanah dan mereka akan dirubah menjadi kera-kera dan babi.” (HR.Ibnu Majah)

Keempat. Hendaklah nyanyian itu jangan berlebihan sebagaimana juga barang-barang lain yang diperbolehkan. Terutama nyanyian yang menyentuh perasaan, yang berbicara tentang cinta dan kerinduan. Karena manusia itu bukan hanya perasaannya saja, dan perasaan bukanlah hanya cinta saja, dan cinta bukanlah hanya kepada wanita saja, dan cinta wanita tidak lain sekedar jasad dan syahwat (fisik dan kesenangan). Oleh karena itu kita harus memperkecil banjir yang dahsyat dari lagu-lagu cinta, dan hendaknya lagu-lagu, acara dan kehidupan kita selanjutnya berjalan secara seimbang. Seimbang antara kebutuhan dunia dan agama, antara hak pribadi dengan hak masyarakat. Dan dalam diri seseorang seimbang antara akal dan perasaannya. Dan di dalam perasaan harus seimbang antara perasaan-perasaan kemanusiaan seluruhnya, baik itu cinta, benci, cemburu, semangat, kebapakan, keibuan, kekanakan dan persaudaraan serta persahabatan dan seterusnya. Karena tiap-tiap perasaan itu ada haknya (pemiliknya).

Adapun berlebihan di dalam menampakkan perasaan cinta secara khusus, berarti itu dapat mengurangi perasaan yang lainnya. Dapat mengurangi fikiran, ruh dan kehendaknya, dan dapat mengurangi hak agama.

Sesungguhnya agama ini telah mengharamkan ghuluw (berlebihan) dan pemborosan di dalam segala hal, sampai pun dalam beribadah. Maka bagaimana pula pendapatmu jika sampai berlebihan di dalam permainan dan menghabiskan waktu dengan permainan itu, walaupun asalnya diperbolehkan?

Ini membuktikan kosongnya fikiran dan hati dari kewajiban-kewajiban besar dan tujuan-tujuan utama. Dan ini juga menunjukkan atas terabaikannya hak-hak yang lainnya yang cukup banyak yang semestinya juga harus mendapat perhatian dari waktu dan usia seseorang yang terbatas. Benarlah apa yang dikatakan oleh Ibnu Muqaffa’:

“Saya tidak pernah melihat dalam pemborosan kecuali di situ ada yang terabaikan.”

Di dalam hadits juga dikatakan.

“Seseorang yang cerdik tidak akan memperoleh keberuntungan kecuali dalam tiga hal, bergegas dalam mencari ma’isyah, berbekal untuk kembali kehadirat Allah dan menikmati selain yang diharamkan.”

Maka hendaklah kita bagi waktu kita antara tiga hal tersebut dengan adil, dan hendaknya kita mengetahui bahwa sesungguhnya Allah akan menanyai setiap insan tentang umurnya dihabiskan untuk apa, dan tentang masa mudanya dia pergunakan untuk apa.

Kelima, Setelah penjelasan ini masih ada beberapa hal, yaitu hendaknya setiap orang yang mendengarkan lagu-lagu mengenal dengan baik dirinya dan mampu memberikan fatwa kepadanya. Jika lagu-lagu itu membangkitkan syahwatnya, menimbulkan fitnah dan membuat ia banyak berkhayal serta menjerumuskan ke sisi hewani lebih banyak daripada sisi rohani, maka dia harus menjauhinya. Dan menutup semua pintu di mana angin fitnah dapat menghembus ke dalam jantung agama dan akhlaqnya, sehingga ia dapat beristirahat dengan baik.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: