19. ORANG-ORANG BERJUBAH

9 12 2009

19. ORANG-ORANG BERJUBAH

Pintu flat saya diketuk. Dan, saya membukanya. Tiga orang
berjubah hitam tampak di depan pintu. Saya kaget. Apa salah
saya, sampai orang-orang dari pengadilan datang kemari?

Bukan. Ternyata, mereka orang-orang gereja. Yang di tangan
mereka bukan kitab undang-undang, melainkan kitab suci. Ayem
saya.

“Are you Christian?” tanya salah seorang berjubah itu

“No, mate, I’m a Moslem.”

Tak jadi soal. Mereka tetap mendakwahi saya. Disuruhnya saya
membaca Bibel. Saya merasa ditodong. Buat mereka, Bibel
harus dibaca, sebab dunia ini rusak karena orang tak lagi
membaca Bibel.

“Alangkah sepele sebab kerusakan dunia,” pikir saya.

“Di dalam kitab ini, kunci keselamatan ditemukan,” kata
Christ yang brewok itu. Saya jadi takut. Keadaan
kelihatannya genting. Namun, saya akui, uraiannya terlalu
simplistik. Saya jadi mengerti, mengapa teman lain yang
punya pengalaman serupa menggerutu. Tahulah saya, mengapa
banyak orang menutup pintu bagi mereka.

Malam hari, saya suka datang ke Mesjid Noble Park. Semula,
mesjid itu sebuah gereja. Karena sudah “bangkrut”, gereja
dijual. Orang-orang Polandia membelinya dan menjadikannya
mesjid. Di mesjid itu, orang Polandia juga berjubah hitam.
Mereka mengenakan sepatu waktu salat. Biasanya, selesai
salat, tiap jemaah dilempari tasbih. Tampaknya, ada petugas
yang khusus melempar-lempar.

Suasananya enak. Tenang sekali buat berzikir. Suatu malam,
di tengah kenikmatan zikir itu, seorang berjubah menjawil.

“My brother, where are you from?” tanyanya.

“Indonesia.”

Diajaknya saya bicara Semangat brotherhood nya besar. Dia
bertanya alamat di Indonesia. Juga, alamat di Australia.
Bagi brother dari Mesir ini, dunia juga rusak, karena orang
terlalu mementingkan materi.

Di Australia, misi yang dibawanya adalah “berjuang”
mewujudkan tatanan Islami. Ia mengatakan, Islam itu
sempurna. Paling sempurna. Dan, mudah. Sejauh orang menuruti
jejak Kanjeng Nabi, hidup sudah beres. Tidak lupa pula, dia
mengundang saya ke mesjid Preston, di mana saya bisa bertemu
para brother muslim dari berbagai penjuru dunia.

Saya ingat, di Monash, banyak saya jumpai brother dari
Malaysia yang punya semangat seperti itu. Mereka ini anggota
Jami’atul Tabligh. Semangat mereka hebat dalam mengajak
orang Islam untuk menjadi lebih Islam. Mereka fundamentalis.

Pandangan mereka juga simplistik. Kata-kata kunci mereka
mudah diingat: dunia sudah rusak, muslim lain hanya
sekumpulan domba yang sesat, dan tidak sempurna keislaman
kita kalau kita tak berjenggot seperti mereka. Jadi, jenggot
merupakan ukuran puritansi.

Sebaliknya, kalau sudah seperti mereka, hidup akan amat
mudah. Salah seorang brother dari Malaysia ini meninggalkan
istrinya di Malaysia. Saya tanya, apa tak “payah” hidup jauh
dari istri. Dia tegar menjawab: “Allah will provide.”

Maksudnya, Allah akan menyediakan istri. Mereka membolehkan
nikah mut’ah. Ketika itu, saya masih tinggal di hall yang
mahal. Tapi, saya bilang, sulit mencari flat yang murah.

“Allah will provide,” katanya lagi.

Tiap soal dijawab: “Allah will provide.”

Pintu flat saya diketuk. Dan, saya membukanya. Di depan
pintu, tampak orang-orang berjubah. Mereka bukan orang-orang
dari gereja, melainkan dari mesjid. Satu orang saya kenal,
karena pernah bertemu di Mesjid Noble Park. Mereka datang
bersilaturahmi. Saya lega.

Namun, ketika mereka bicara bahwa dunia sudah rusak, saya
gelisah. Saya khawatir “khotbah” mereka berkepanjangan.
Syukurlah, mereka segera tancap gas.

Di Pamulang, saya bertemu dengan orang-orang berjubah juga.
Mereka jemaah Darul Arqam. Sambil meneliti, saya mengaji
bersama mereka. Bagi mereka, dunia juga sudah rusak, karena
kita kena penyakit “cinta dunia”.

Menurut mereka, sakit itu bisa diobati dengan tatanan
Islami. Macam apa? Seperti contoh Kanjeng Nabi. Bagi mereka,
jenggot dan jubah juga simbol keislaman.

Di mana-mana, orang bicara bahwa “dunia sudah rusak”. Di
mana-mana, orang bicara puritansi. Kritik saya sederhana:
mereka lupa membedakan agama dari kebudayaan Arab dan Islam
dicampur-aduk. Dikiranya, baru sah Islam kita kalau kita
sudah “Arab”. Mereka menolak iman yang tidak tampil dalam
“wajah” Arab.

Pintu flat saya diketuk. Dan, saya membukanya. Orang-orang
berjubah dari gereja dan dari mesjid hari Minggu itu datang
bersama. Flat saya yang kecil itu menjadi gereja sekaligus
mesjid.

Saya tak setuju dengan pandangan keagamaan mereka. Tapi,
bagaimanapun, melihat semangat dan ketulusan mereka, saya
menaruh rasa hormat. Saya tetap bersikap baik. Sebab, siapa
tahu –kalau benar mereka ini “penyelamat” dunia, seperti
Kanjeng Nabi Nuh AS– saya bisa menumpang selamat di perahu
mereka.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: