18. WOLO-WOLO KUWATO

9 12 2009

18. WOLO-WOLO KUWATO

Dalam sebuah bacaan pesantren disebutkan kisah seorang ahli
ibadah. Siang malam kerjanya berdoa melulu hingga istrinya
marah karena tak ada lagi yang bisa dimakan. “Barang apa
yang hidup merayap perlu makan. Carilah pekerjaan, Bang,
karena sudah terbukti doa tak bisa dimakan,” gerutu
istrinya.

Tak enak didengar tetangga, ia berjanji mau bekerja. Ini
hanya dalih semata. Sebab, sebenarnya, ia pergi ke gua agar
bisa berdoa lebih khusyuk tanpa dicereweti sang istri. Pagi
hari berangkat, sorenya baru pulang. Kepada istri ia
berbohong bahwa majikannya akan membayar jerih payahnya
sekaligus kelak, setelah beberapa lama bekerja.

Suatu sore istrinya memasak aneka makanan. Ia heran, dari
mana semua itu diperoleh? Tapi, belum sempat ditanya, si
istri menjelaskan bahwa utusan majikan suaminya tadi datang
mengantar bahan pangan dan sejumlah uang. “Baru aku berdoa
sebentar, sudah Kaukirim bayaran begitu banyaknya,” gumam
orang itu. Makin yakin ia pada kemurahan Tuhan, makin edan
ia berdoa di gua.

Tentu saja, bukan apa yang dikatakan yang penting dalam
kisah ini, melainkan arti simbolis yang dikandungnya.
Selebihnya kita bebas menolak atau menerimanya.

Parmin, tukang becak, memang gila porkas. Banyak dukun sudah
ia datangi. Tiap orang gila dan kere yang seperti gila di
Yogya ia kuntit: siapa tahu dalam omelannya terdapat
petunjuk nomor. Sering ia tidur di kuburan mencari impen
(impian). Jerih payahnya menarik becak pun ludes di meja
Sitompul, agen porkas. Buat Parmin, hidup berarti porkas.
Senik, istrinya, minta dipulangkan ke rumah orangtuanya
karena tak tahan lagi hidup dalam alam porkas yang panas.
Dan Gafur, anak tertuanya, berhenti sekolah karena tak ada
biaya. Pendeknya, keluarga Parmin berantakan.

Mertua ikut bingung. Orangtua Parmin sendiri kehabisan
nasihat. “Arep dadi opo to kowe, Min, Min …,” (mau jadi
apa kamu), kata orangtuanya. Lama-lama Parmin mikir. Iya,
ya. Mau jadi apa?

Memang bukan tugas sosiolog atau psikolog untuk mengentaskan
Parmin dari Porkas. Ini lebih merupakan urusan rohaniwan
macam Pak Kiai atau Romo Mangun. Yang jelas, bosan ke dukun,
Parmin pergi ke kiai di Wonokromo, dekat dari rumahnya.

“Ada apa?” tanya Pak Kiai yang sudah tua itu.

“Saya mohon petunjuk, Pak Kiai.”

“Saya cuma kiai. Tidak bisa memberimu nomor kode,” kata Pak
Kiai. Parmin pun terkesiap heran, bagaimana Pak Kiai tahu
bahwa ia pecandu porkas.

“Bukan, Pak Kiai. Saya mau tobat,” kata Parmin.

Setelah pasrah bongkokan, artinya diapakan saja oleh Pak
Kiai monggo mawon, jiwa Parmin “dicuci”. Diajari pula salat
dan berdoa. Tapi susah. Lidah Parmin tidak cocok untuk
menyebut kata-kata Arab.

“La Khaula wala kuata illa …,” kata Pak Kiai pelan.

“La wala wala …,” Parmin tergagap-gagap. Pak Kiai mau
ketawa. Berkali-kali dicoba, hasilnya tetap la wala wala.
Pusing juga ahli rohani itu.

“Kalau nyebut porkas lancar, ya Min?”

Parmin mesem. Akhirnya, jalan keluar ditemukan. Doa
dipermudah. Yang penting intinya: wolo-wolo kuwato. Pas
betul.

“Tapi bukan cuma itu, Min. Mesti ditambah Duh, Gusti. Jadi,
“Duh, Gusti, wolo-wolo kuwato. Artinya, kamu sambat,
mengeluh, mengadu, pada Tuhan sambil terus giat narik
becak.”

Tiap malam Jumat Parmin “digarap” Pak Kiai. Pesan beliau:
“Kalau ada kegaiban, jangan heran. Gusti memang Mahagaib.
Pokoknya, syukuri, dan perbanyak doa, giat usaha. Itulah
laku utama,” bisik Pak Kiai.

Kegaiban itu datang. Hampir tiap pagi, istrinya menemukan
selembar uang lima ribuan di bawah pintu. Parmin lapor pada
Pak Kiai. Jawab beliau, “Syukuri dan perbanyak doa.”

Dulu, Parmin dirongrong nafsu “ingin punya”. Kini, di bawah
asuhan Pak Kiai, seluruh jiwanya diliputi rasa pasrah. Ia
ayem. Semeleh atau tawakal, memberinya ketenangan. “Hamba
tak berdaya, kecuali atas pertolongan-Nya”. Mudahnya: “Duh,
Gusti, uvolo-wolo kuwato”.

Di shopping centre, ia pernah berkali-kali, sejak pagi
sampai jam lima sore, belum dapat penumpang. Ia panik.
Apalagi belum sesuap pun nasi masuk perutnya. “Duh, Gusti
wolo-wolo kuwato,” keluhnya. Menjelang jam enam, seorang
penumpang datang. Tanpa menawar ia langsung nomplok di becak
itu. Begitu turun ia menyelipkan tiga lembar lima ribuan di
saku Parmin.

Ini pun dilaporkannya pada Pak Kiai. Hanya satu hal tak
dilaporkannya. Ia ingin bikin kejutan. Tapi belum sempat
kejutan dibikin, ia terkejut. Pak Kiai wafat. Parmin merasa
shock kehilangan godfather.

“Min, sesaat sebelum pergi, Pak Kiai mengucapkan syukur
bahwa kau sudah mengkredit becak,” kata putra Pak Kiai.
Parmin kaget. Lo? Beliau sudah tahu?

Memang, sejak sering ditemukannya “uang gaib” di rumah, ia
menabung. Kepada istrinya ia berpesan untuk tak
mengutik-utik uang di bawah bantal itu. Soal makan seadanya,
ditanggulangi dari narik becak harian.

Tabungannya itu digunakannya untuk mengangsur becak Bah
Gendut. Begitu becak lunas, ia ingin “matur” Pak Kiai.
Namun, beliau, ternyata, tak memerlukan laporan. Pak Kiai
sudah tahu sak durunge winarah (tahu rahasia di balik tabir)

“Yah, namanya juga wong suci,” pikir Parmin.

Sekarang, setelah kepergian Pak Kiai, uang “gaib” tak lagi
ditemukan di bawah pintu. Dalam hati Parmin bertanya-tanya.
Namun, ia sadar, kegaiban toh tak bisa terjadi
terus-menerus. Kegaiban hidup memang ada. Tapi hidup tak
bisa semata disandarkan pada kegaiban itu. La khaula dan
mengayuh becak barunya itulah kunci hidup yang sekarang
dipegangnya.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: