17. KURUNGAN

9 12 2009

17. KURUNGAN

Kurungan bisa penting, bisa juga tidak. Tergantung siapa
yang melihat. Buat saya pribadi, isi kurungan lebih penting
daripada kurungannya.

Pak Penewu (sekarang camat) di desa saya dulu punya seekor
perkutut yang hebat. Kabarnya, orang dari kota (maksudnya
Yogya) ingin menukarnya dengan sebuah sedan baru. Ini
burungnya.

Kurungannya, kata Kang Brahim, lebih mahal daripada rumah
Kang Brahim sendiri, yang memang kecil itu. Maklumlah,
namanya juga burungnya Pak Penewu. Dalam hal ini kurungan
itu fungsional dan karena itu memang penting. Akan ganjil
benar bila burung semahal itu dikurung dengan kurungan yang
sudah reot dan bolong.

Farriduddin Attar memandang bahwa dunia ini sebuah peti.
Saya lebih suka menyebutnya kurungan. Attar menganggap bahwa
dalam hidup orang sibuk membuat peti-peti, sedangkan saya
melihat orang sibuk mengumpulkan aneka kurungan.

Kantor kita, asal-usul keluarga kita, agama kita, kesukuan
kita, titel kesarjanaan kita, partai kita, organisasi
profesi kita, bahkan istri, suami, mertua, paman, pakde,
pakdenya pakde, semuanya merupakan kurungan. Nama kita pun
sebuah kurungan.

Seperti dalam kasus perkutut Pak Penewu, antara orang dan
namanya harus ada keserasian juga. Kalau tidak, bisa
menimbulkan gangguan dan sejumlah persoalan. Pernah seorang
petani kampung menamakan anak laki-lakinya Partaningrat. Dan
adik si Ningrat, Diah Astuti. Ketika Partaningrat
sakit-sakitan, mbah dukun membuat diagnosa bahwa dia
keberatan nama. Kalau tak diganti, kata mbah dukun, bisa
gawat. Andaikata orangtuanya pergi ke dokter, bukan ke mbah
dukun, persoalannya tentu akan lain

Tapi sudahlah. Partaningrat diganti Bibit, dengan
kelengkapan upacara kecil, ditandai jenang putih jenang
abang (merah). Dan Diah Astuti diganti menjadi Kawit.
Kontras pergantian itu, tapi apa boleh buat; karena
keserasian, dalam dunia pemikiran Jawa, merupakan sesuatu
yang penting. Bibit lalu tumbuh makin sehat. Dan Kawit,
setelah bersuami, langsung beranak pinak.

Pemuda kita berebut masuk KNPI. Sebagai kurungan, KNPI
menjadi saluran karier politik yang baik. Bagi yang tak
punya naluri politik, sekurangnya KNPI memberinya identitas
tambahan.

Para sejarawan membuat organisasi “Masyarakat Sejarah” (MS).
Karena ada sejarawan yang juga sarjana hukum, selain masuk
MS ia juga masuk “Ikatan Sarjana Hukum” (ISH). Ketika MS
mendirikan lembaga penelitian, ia memegang jabatan penting.
Dan setelah ISH mendirikan lembaga bantuan hukum, ia juga
menjadi salah seorang pengurus. Ini semua adalah status
tambahan belaka, sebab tugas utamanya menjadi dosen di
sebuah perguruan tinggi swasta. Dia sadar bahwa tak mungkin
baginya memenuhi semua tugasnya dengan baik. Tetapi dalam
hati kecilnya ia memerlukan semua itu untuk memberi kesan
pada khalayak, betapa penting dia, betapa besar
kepeduliannya dalam pengembangan ilmu dan pengabdian
masyarakat.

Jadi, kurungan-kurungan tadi pada dasarnya hanya diperlukan
sebagai identitas tambahan.

Fungsi kurungan sebagai identitas menjadi penting buat orang
yang “gila” atau “krisis” identitas. Dalam seminar HIPIIS di
Yogya bulan Juli tahun lalu, saya berkenalan dengan seorang
profesor. Belum pernah saya baca karya orang itu. Namanya
pun belum pernah saya dengar sebelumnya. Tapi dalam kartu
namanya tercantum banyak identitas: bidang keahlian A,
jabatannya di universitas B, sekretaris organisasi profesi
C, dan anggota ikatan internasional sarjana “anu”. Ini jenis
sarjana yang melihat kurungan sebagai sesuatu yang amat
penting.

Namun, banyak juga orang yang tidak kurungan oriented.
Mereka risi dengan berbagai kurungan. Gelar kesarjanaannya
tak usah selalu dipakai. Safari dan segala lambang kuning
emas di dada perlu sesekali ditanggalkan. Dan dalam
pergaulan sehari-hari tak perlu menonjolkan secara verbal
puritansi keagamaannya. Bagi yang Islam tak perlu memamerkan
keislamannya, dan yang Kristen tak perlu memamerkan
kekristenannya. Semua itu pada dasarnya cuma kurungan.

Dengan kata lain, kurungan macam itu cuma membikin sumpek.
Kurungan ya kurungan. Artinya, ia cuma lapis luar dari diri
kita. Ia sama sekali tidak penting. Orang macam Emha Ainun
Nadjib, pinandita yang terbiasa bebas di bawah langit dengan
selimut mega-mega, mungkin sudah sumpek hidup dalam banyak
kurungan: dramawan, budayawan, penyair, kolumnis,
cendekiawan muda Islam, dan siapa tahu bakal ada yang
menambahkan predikat konglomerat.

Buat saya, tak terasa aneh mendengar ia ketika itu menolak
diberi kurungan baru yang hebat: Ikatan Cendekiawan Muslim
Indonesia (ICMI). Kalau dia masuk ke sana, dan kawula macam
saya ini juga masuk, secara moril maupun materiil Emha rugi.
Tanpa dikurung dalam ICMI ia sudah lama dijuluki cende-
kiawan Islam (Muslim). Tanpa kurungan resmi seperti itu ia
sudah “menjadi”. Sementara itu, banyak orang lain mencari
kurungan dengan harapan “ingin menjadi”. Pernah ia memberi
fatwa pada saya, yang harus kita cari esensi, bukan
eksistensi.

Alasan resmi penolakannya untuk “join” di ICMI menarik.
“Saya tidak mampu memanggul tugas mulia itu.”

Dalam hati, saya bertanya: Siapa yang menyuruhnya memanggul
sesuatu? Dalam tradisi kita, sebuah status tak selalu
menuntut peranan. Dan achievement, umumnya, belum menjadi
keadrengan banyak pihak. Jadi kalau ia masuk ke sana untuk
kemudian duduk dan diam, sebetulnya orang toh tak akan
banyak dituntut. Soalnya, ya tadi itu, bahwa kurungan, bagi
banyak pihak, lebih penting daripada isinya.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: