16. KOTAK SOSIO-KULTURAL

8 12 2009

16. KOTAK SOSIO-KULTURAL

“Makin lama makin cinta pada Muhammadiyah. Saya ingin bila
kelak saya mati, keranda saya ditutup bendera Muhammadiyah.”

Ini ucapan Bung Karno. Ketika tokoh ini kemudian wafat dalam
kesepian di Wisma Yaso, Jakarta, jenazahnya disalatkan oleh
almarhum Buya Hamka, tokoh yang pernah disudutkannya secara
politis. Buya Hamka bersedia menyembahyangkan Bung Karno
karena Menteri Sekretaris Negara Alamsyah, waktu itu,
membujuk agar Buya berbesar jiwa.

Saya dengar alasan ini dari Buya Hamka sendiri dalam suatu
salat Jumat di Mesjid Agung Al-Azhar, Jakarta. Saya tidak
tahu pasti, adakah keranda Bung Karno kemudian ditutup
bendera Muhammadiyah. Samar-samar saya ingat, ada berita
dari seorang warga Muhammadiyah, bahwa wasiat beliau
dipenuhi.

Nurcholish Madjid pernah menulis di harian Pelita, komitmen
kita sebagai umat Islam ialah komitmen pada nilai, bukan
pada golongan. Pemikiran ini menarik. Kita tahu, nilai
memiliki kepastian relatif. Sedang golongan tidak. Seseorang
boleh “berkulit” haji, berbendera Muhammadiyah atau NU
memang; tapi jaminan dari orang itu bahwa ia akan senantiasa
lurus dan bersikap luhur sebagaimana nilai-nilai yang
melekat pada baju yang dipakainya, tidak ada.

Bagaimanakah corak pemihakan Bung Karno pada Muhammadiyah?
Kita tidak tahu. Bung Karno sendiri tak secara eksplisit
menjelaskannya. Sementara itu sumber tertulis tidak ada.
Dugaan saya, Bung Karno punya banyak komitmen nilai,
sekaligus golongan. Di tengah kaum Marhaen, ia bilang ia
juga Marhaenis. Di tengah orang-orang Komunis dia bilang
bahwa dia seorang Marxis. Orang pun tahu, ia juga menyebut
dirinya seorang agamawan.

Apakah Bung Karno plin-plan? Ia Bapak bangsa. Ia merasa
harus berdiri di atas semua golongan. Agaknya ia
beranggapan, meskipun tak dikatakannya, keragaman identik
dengan perpecahan. Sedang ia gandrung akan persatuan. Kata
Bernard Dahm, hanya Bung Karno-lah yang karena
ke-Jawa-annya, bisa menggabungkan ketiga hal berbeda satu
sama lain itu ke dalam satu sintesa harmonis. Karena bagi
orang Jawa, segala sesuatu itu pada dasarnya satu.

Dalam salah satu sajak religiusnya, Farriduddin Attar
memandang Dunia, penyair Taufiq Ismail bicara tentang
pemikiran Attar. Bagi Attar, katanya, dunia ini nampak
sebagai sebuah kotak. Manusia hidup, beranak, bercucu,
berkemenakan, bekerja, tidur dan bermimpi, di dalam kotak.
Manusia, di dunia ini, kerjanya sibuk membuat kotak-kotak.

Amir Machdum, guru saya, melarang saya masuk partai politik.
Alasannya, partai mengurung, membatasi kita. Padahal ia
sendiri, dulu, orang PNI. Saya sendiri anak Muhammadiyah
karena lahir di lingkungan Muhammadiyah, dan sekolah di
sekolah Muhammadiyah. Setelah saya tahu NU, ibadah saya
mirip NU tapi “partai” saya tetap Muhammadiyah.

Ketika mahasiswa, kotak yang saya pilih HMI. Tapi ketika Ogi
Indra Yoga, golongan independen, mencalonkan diri jadi ketua
Senat Mahasiswa FIS UI (nama dulu), saya mendukungnya karena
dia populer, rajin bekerja, dan mau berpikir. Masriel
Mansyur, lawannya dari HMI, tidak saya dukung. Benar dugaan
saya, Masriel kalah. Toh saya menolak tawaran Ogi, sang
pemenang, untuk menjadi salah satu stafnya. Saya
memperlihatkan solidaritas terhadap kawan-kawan HMI lain,
yang tak satu pun mendapat tawaran Ogi. Dalam hal ini, saya
tegas memperlihatkan warna “jaket” HMI. “Lebih baik, kalau
tidak mau, bilang saja tidak mau. Jangan banyak alasan,”
katanya.

Belakangan saya mikir, kita gandrung demokrasi dan sadar
akan kebhinekaan etnis, agama, dan corak pemikiran dalam
masyarakat kita, tapi mengapa kita tak cukup longgar
mendengar argumen lain yang tak sejalan dengan kita? Mengapa
kita tak sabar menghadapi kebhinekaan? “Kalau mau serba
seragam,” kata Rendra, “lebih baik jadilah pembuat batu
bata.”

Keseragaman memang mengesankan berfungsinya mesin rekayasa
yang otoriter, kaku, dan dingin, mirip teriak kebulatan
tekad yang mekanistis. Saya lebih suka kebhinekaan. Tapi
dalam kebhinekaan ada cacat yang tak saya sukai. Di sini
orang bisa, dan mungkin mudah, tergelincir ke dalam kotak
fanatisme yang selalu siap mengurung kita.

Potensi ricuh dalam kotak ini sama besar dengan rasa sumpek
di bawah keseragaman yang serba otoriter. Kedua-duanya,
dengan kata lain, punya kemungkinan untuk jadi jelek. Namun,
karena lazimnya orang harus memilih, bagi saya, kebhinekaan
itu baik, asal kita tidak terkurung. Artinya, di saat
diperlukan, kita harus bisa keluar dari kepompong (agama,
kelompok, golongan, etnis, partai politik) yang mengurung
kita karena, sekali lagi mengutip Nurcholish Madjid,
komitmen kita pada nilai, bukan pada golongan.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: