15. DOA KANG SUTO

8 12 2009

15. DOA KANG SUTO

Pernah saya tinggal di Perumnas Klender. Rumah itu dekat
mesjid yang sibuk. Siang malam orang pada ngaji. Saya tak
selalu bisa ikut. Saya sibuk ngaji yang lain.

Lingkungan sesak itu saya amati. Tak cuma di mesjid. Di
rumah-rumah pun setiap habis magrib saya temui kelompok
orang belajar membaca Al Quran. Anak-anak, ibu-ibu dan
bapak-bapak, di tiap gang giat mengaji. Ustad pun diundang.

Di jalan Malaka bahkan ada kelompok serius bicara sufisme.
Mereka cabang sebuah tarekat yang inti ajarannya berserah
pada Tuhan. Mereka banyak zikir. Solidaritas mereka kuat.
Semangat agamis, pendeknya, menyebar di mana-mana.

Dua puluh tahun lebih di Jakarta, tak saya temukan corak
hidup macam itu sebelumnya. Saya bertanya: gejala apa ini?
Saya tidak heran Rendra dibayar dua belas juta untuk membaca
sajak di Senayan. Tapi, melihat Ustad Zainuddin tiba-tiba
jadi superstar pengajian (ceramahnya melibatkan panitia,
stadion, puluhan ribu jemaah dan honor besar), sekali lagi
saya dibuat bertanya: jawaban sosiologis apa yang harus
diberikan buat menjelaskan gairah Islam, termasuk di
kampus-kampus sekular kita? Benarkah ini wujud santrinisasi?

Di Klender yang banyak mesjid itu saya mencoba menghayati
keadaan. Sering ustad menasihati, “Hiasi dengan bacaan
Quran, biar rumahmu teduh.”

Para “Unyil” ke mesjid, berpici dan ngaji. Pendeknya, orang
seperti kemarok terhadap agama.

Dalam suasana ketika tiap orang yakin tentang Tuhan, muncul
Kang Suto, sopir bajaj, dengan jiwa gelisah. Sudah lama ia
ingin salat. Tapi salat ada bacaan dan doanya. Dan dia tidak
tahu. Dia pun menemui pak ustad untuk minta bimbingan,
setapak demi setapak.

Ustad Betawi itu memuji Kang Suto sebagai teladan. Karena,
biarpun sudah tua, ia masih bersemangat belajar. Katanya,
“Menuntut ilmu wajib hukumnya, karena amal tanpa ilmu tak
diterima. Repotnya, malaikat yang mencatat amal kita cuma
tahu bahasa Arab. Jadi wajib kita paham Quran agar amal kita
tak sia-sia.”

Setelah pendahuluan yang bertele-tele, ngaji pun dimulai.
Alip, ba, ta, dan seterusnya. Tapi di tingkat awal ini Kang
Suto sudah keringat dingin. Digebuk pun tak bakal ia bisa
menirukan pak ustad. Di Sruweng, kampungnya, ‘ain itu tidak
ada. Adanya cuma ngain. Pokoknya, kurang lebih, ngain.

“Ain, Pak Suto,” kata Ustad Bentong bin H. Sabit.

“Ngain,” kata Kang Suto.

“Ya kaga bisa nyang begini mah,” pikir ustad.

Itulah hari pertama dan terakhir pertemuan mereka yang
runyem itu. Tapi Kang Suto tak putus asa. Dia cari guru
ngaji lain. Nah, ketemu anak PGA. Langsung Kang Suto
diajarinya baca Al-Fatihah.

“Al-kham-du …,” tuntun guru barunya.

“Al-kam-ndu …,” Kang Suto menirukan. Gurunya bilang,
“Salah.”

“Alkhamdulillah …,” panjang sekalian, pikir gurunya itu.

“Lha kam ndu lilah …,” Guru itu menarik napas. Dia merasa
wajib meluruskan. Dia bilang, bahasa Arab tidak sembarangan.
Salah bunyi lain arti. Bisa-bisa kita dosa karena mengubah
arti Quran.

Kang Suto takut. “Mau belajar malah cari dosa,” gerutunya.

Ia tahu, saya tak paham soal kitab. Tapi ia datang ke rumah,
minta pandangan keagamaan saya.

“Begini Kang,” akhirnya saya menjawab. “Kalau ada ustad yang
bisa menerima ngain, teruskan ngaji. Kalau tidak, apa boleh
buat. Salat saja sebisanya. Soal diterima tidaknya, urusan
Tuhan. Lagi pula bukan bunyi yang penting. Kalau Tuhan
mengutamakan ain, menolak ngain, orang Sruweng masuk neraka
semua, dan surga isinya cuma Arab melulu.”

Kang Suto mengangguk-angguk.

Saya ceritakan kisah ketika Nabi Musa marah pada orang yang
tak fasih berdoa. Beliau langsung ditegur Tuhan. “Biarkan,
Musa. Yang penting ketulusan hati, bukan kefasihan
lidahnya.”

“Sira guru nyong,” (kau guruku) katanya, gembira.

Sering kami lalu bicara agama dengan sudut pandang Jawa.
Kami menggunakan sikap semeleh, berserah, pada Dia yang
Mahawelas dan Asih. Dan saya pun tak berkeberatan ia zikir,
“Arokmanirokim,” (Yang Pemurah, Pengasih).

Suatu malam, ketika Klender sudah lelap dalam tidurnya, kami
salat di teras mesjid yang sudah tutup, gelap dan sunyi. Ia
membisikkan kegelisahannya pada Tuhan.

“Ya Tuhan, adakah gunanya doa hamba yang tak fasih ini.
Salahkah hamba, duh Gusti, yang hati-Nya luas tanpa batas
…”

Air matanya lalu bercucuran. Tiba-tiba dalam penglihatannya,
mesjid gelap itu seperti mandi cahaya. Terang-benderang. Dan
kang Suto tak mau pulang. Ia sujud, sampai pagi …


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: