14. AYAH DAN PICI

8 12 2009

14. AYAH DAN PICI

Manusia bukan gunung. Ini pepatah Rusia yang saya dengar
dalam film The Gulag Archipelago. Artinya, manusia bisa
berubah. Begitu juga Ayah.

Saya hidup dalam dunia kecil yang ruwet. Desa saya desa
Muhammadiyah. Pengajian saya pun, di sore hari,
Muhammadiyah; maka, jadilah saya anak Muhammadiyah.

Ayah lain lagi. Ia sudah ada sebelum datang ke desa kami
unsur pembaru itu. Ia abangan. Apa boleh buat.

Abangan? Ia memang tak mendefinisikan diri begitu. Maka,
baiknya diperjelas: ia tak salat lima waktu. Tapi ia pernah
bertapa, seperti dilakukan Gusti Kanjeng Nabi Muhammad
sebelum masa kenabiannya. Ayah juga mengajar saya berhenti
makan sebelum terlalu kenyang seperti teladan Kanjeng Rasul.
Dan ia pun doyan tirakat, seperti riadloh teman-teman NU di
pesantren: makan cuma umbi-umbian, cegah daging, cegah
garam. Dan melek malam.

Wisdom-nya: jangan sebut keburukan orang. Lupakan kebaikanmu
sendiri. Baginya, agama itu hidup. Kalau kita sudah mengerti
makna hidup, baru kita paham apa itu agama.

Ketika saya masih sembilan tahunan ia pernah menegur, “Untuk
apa kamu jengkang-jengking (salat)? Tahu apa kamu?”

Saya sedih. Di luar rumah, tahun 1960-an itu, teman-teman
yang lebih dewasa bicara ideologi. Juga soal jihad, perang
sabil, dan keluhuran agama. Tapi tiap lagu Genjer-Genjer
dinyanyikan sebelum dan sesudah pertunjukan ketoprak, terasa
di sana bagaimana pihak “musuh” meremehkan agama. Ada bahkan
ketoprak dengan lakon: Patine Gusti Allah (Kematian Tuhan).

Di tengah kemiskinan yang mencekam, bicara tentang ideologi
dan tentang kawan dan lawan memang terasa seperti jalan
keluar yang baik. Ideologi membuat lupa bahwa sebetulnya
kita lapar, dan bahwa kita tak mampu beli beras.

Beras ibarat semahal emas. Kami makan bubur. Mungkin lebih
tepat minum, sebab terlalu encer. Itu pun kadang kurang.
Sering Ayah menahan diri dan tak makan. Hampir tiap malam
Ibu tidur di lantai, di depan pintu, tanda prihatin.

Menjelang tidur, Simbah selalu bicara tentang zaman normal,
zaman lampau yang lebih baik, ketika Ayah masih anak-anak.
Simbah, Ayah, dan Ibu percaya zaman susah itu akan berakhir
segera setelah datang Ratu Adil suatu hari nanti.

Saya tidak tahu Ratu Adil. Yang saya ketahui ialah bahwa
saya takut. Sikap mereka, bicara setengah berbisik,
bercerita setengah berharap, buat saya terasa seolah isyarat
akan datangnya sesuatu yang lebih gawat.

Goro-goro, menurut orang Jawa, pertanda akan datangnya
perubahan alam serta zaman. Dalam dunia wayang, setelah
goro-goro di tengah malam itu, keluar Petruk, Semar, Gareng,
Bagong: simbolisasi rakyat. Mereka mengawal, dan juga gigih
membantu, satria utama menegakkan kebenaran.

Gerakan 30 September PKI yang bikin bumi kita
gonjang-ganjing, barangkali juga goro-goro itu. Pemerintahan
diganti sesudahnya. Tatanan politik diubah. Pancasila dan
UUD 45 dikedepankan. Partai politik dibuat sederhana. Dan
kehidupan agama lebih semarak. Terbukti, ketakwaan kepada
Tuhan jadi salah satu syarat pengangkatan seorang menteri.

Rapat-rapat raksasa dan ganyang ini ganyang itu harus juga
menjadi jiwa dan semangat rakyat di zaman Orla dulu, tetapi
deru “mesin” pembangunan Orba menggantikannya. Kurang lebih
jargonnya berbunyi: partai/ideologi politik mengakibatkan
perpecahan, pembangunan menghasilkan beras. Kongkret sekali.

Keadilan sosial belum tercapai tak menjadi soal karena
pembangunan belum selesai. Maka, rakyat harus membantu para
“satria” mendorong roda pembangunan. Tiap suasana kritis,
rakyat diminta mengetatkan sabuk. Ini demi pembangunan.
Betul jihad itu bukan melulu berarti kibasan pedang dalam
luapan rasa marah. Tapi kata itu telanjur tidak cocok buat
alam pembangunan.

Petugas KB malah diberi hak “mengintip” kamar tidur tiap
pasangan suami-istri agar mereka tak terlalu banyak
bersanggama. Alasannya pun jelas: lebih baik energi itu buat
pembangunan.

Wajah Indonesia berubah cepat. Di sana-sini yang tampak cuma
pembangunan dan pembangunan. Begitu juga wajah desa saya.
Muhammadiyah makin gaya. Pembinaan umat meluas. Dan Ayah
kini sembahyang. Ke sana kemari bersafari dan berpici.
Seolah takut bahwa tanpa pici lalu bukan Islam.

“Saya senang Ayah jadi santri,” saya kasih komentar.

“Dari dulu, sebetulnya Ayah juga Islam,” sahutnya. “Hanya
dulu itu belum ‘nglakoni’ (menjalankan).”

Dari dulu Islam? Saya tak mengerti. Dalam benak saya terpola
rumusan Clifford Geertz: yang salat itu santri, yang tidak
berarti abangan.

“Tidak begitu,” kata Bambang Pranowo dalam disertasi
doktornya di Universitas Monash Australia itu. “Keislaman
bukan state of being. Ia state of becoming. Dikotomi santri
abangan itu tidak tepat.”

“Sekarang Ayah salat,” Ayah menjelaskan, “tapi tetap seperti
dulu: tak suka ideologi karena bikin ricuh, mengganggu
stabilitas nasional,” katanya lagi, persis pejabat, atau Pak
Kades dalam film Si Unyil.

Pendeknya, fenomena Ayah sembahyang pun ada kaitan dengan
pembangunan. Maka, malam itu saya pun salat habis-habisan.
Saya cuma berdoa, semoga Ayah diangkat jadi menteri …


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: