13. SAYA CUMA KAMINO

8 12 2009

13. SAYA CUMA KAMINO

salat keno, ora yo keno
pokoke mbela Bung Karno
salat keno, ora yo keno
sing penting mbelo Bung Karno.

(Salat boleh, tidak pun tak soal,
yang penting membela Bung Karno.)

Di tahun 1960-an, salawat Badar yang dikorup ini pernah
populer, termasuk di Bantul. Ini “ular” berkepala dua:
kultus pada Bung Karno dan ejekan buat kekuatan Islam.
Terutama, tentu saja, NU yang dianggap pemilik asli “lagu”
ini.

Bukan karena “pembajakan” lagu itu bila di ujung desa sana
lalu terjadi duel antara Pemuda Ansor dan Pemuda Rakyat atau
Marhaen. Saling ejek dan benturan fisik, sebagai akibatnya,
merupakan kelaziman waktu itu. Dan biarpun pahit, malah
harus diakui bahwa semua itu berfungsi sebagai gladi resik
buat menyambut “Bharatayudha” yang kelak meletus di tahun
1965.

Berita pemuda berjaket merah atau hitam roboh oleh pemuda
“kita” yang bersabuk jimat dari kiai di tahun 1960-an itu
bisa membangkitkan semangat “juang” dan kentalnya fanatisme
ideologi buat orang desa yang tak tahu arti politik
sekalipun. Sekurangnya jadi semacam penegasan akan betapa
benarnya pilihan ideologi yang kita ambil.

Coretan di tembok-tembok rumah, di pagar-pagar, dan juga
pada jembatan di ujung desa merupakan variasi lain dari
benturan ideologi waktu itu. Bila kita dapati pagi hari
tulisan “Marhaen Menang” atau “Hidup PKI”, esoknya pasti
sudah dijawab: “Islam Jaya” atau “Ganyang PKI”. Tapi bila
yang kita temui hanya “salawat”: “Hidup Bung Karno PBR
kita”, atau “Hidup Ganefo”, dus netral, semua kekuatan
politik yang ada di desa ayem saja.

Dengan mata seorang bocah yang belum lagi tamat SD, saya
menyaksikan suasana diam yang tegang. Guru-guru saya, pihak
Muhammadiyah yang mengharamkan segala jimat itu, diam-diam
juga pergi ke kiai minta “diisi” kadigdayan kanuragan.
Doktrin pokok: “Mintalah langsung kepada Allah, jangan lewat
perantara”, pernah tak berlaku. Perbedaan paham antara
Muhammadiyah dan NU dalam soal jimat, usali, witir, tarwih,
doa talkin praktis terlupakan selama menghadapi common
enemy.

Rapat raksasa pun disimak. Tiap orang lalu peka terhadap
perbedaan warna jaket. Dan tiap-tiap “yang bukan kita”
dicurigai. Tak peduli bahwa itu menyangkut tetangga sebelah.

Pemuda, atau bocah yang “tak sabar” menunggu dewasa, ingin
tampil heroik. Begitu juga Kang Kamino. Anak mbah Wongso
Dadung yang buta huruf ini pun tak mau ketinggalan. Ia
terpesona oleh palu arit: lambang PKI, yang adalah barang
kongkret buat orang macam dia. Harus diakui memang, PKI
tangkas merumuskan ide-ide abstrak ke dalam bahasa Kang
Kamino. Bermula dari gurauan bahwa “wong tani” pegangannya
harus palu dan arit, dan bukan Lintang Rembulan (bintang
bulan, Masyumi) atau gambar Jagat Lintang Sanga (bola dunia
berbintang sembilan, NU) karena petani bekerja dengan arit,
ia berubah makin sinis pada Islam akibat “pergaulan bebas”
dengan PKI.

Setelah makin aktif menghadiri rapat dan main ketoprak
(Lekra), ia ganti nama menjadi Kaminonov. Edan. Selanjutnya
blak-blakan ia membuka diri sebagai kaum salat keno ora yo
keno. Ia juga jadi terampil mengejek lawan sebagai kaum
nggoiril (dari kata ghairil … dalam surat Al Fatihah).

Kami pun “mengintip”. Kang Kaminonov jarang di rumah,
akhirnya. Kalau pulang selalu bersama empat atau lima
kamerad lain. Anak mbah Wongso Dadung ini sudah jadi orang
penting rupanya. Konon, pernah suatu hari ia kedapatan
bicara tentang pembagian sawah dan rencana aksi sepihak.

Tapi, sawah belum lagi dibagi, Gestapu meletus. Islam
bangkit. Perang sabil diteriakkan. Di berbagai daerah
kemarahan tak terkendalikan. PKI disembelih.

Namun, segala puji hanya bagi-Mu, darah tak menetes di desa
saya. Pak Lurah, biarpun pernah diancam PKI, melindungi
mereka. Prinsipnya semua saudara. Lagi pula, PKI di desa
saya cuma golongan cepethe. Pak Lurah sering bilang, mereka
cuma ikut-ikutan. Sebagian hanya senang karena tiap rapat
ada makan. Tahu apa mereka tentang politik?

Benar juga. Digertak petugas untuk wajib lapor pun mereka
sudah menggigil. Betul, ada di antara mereka yang fanatik,
tapi untuk mati demi partai orang masih mikir. Maka
Kaminonov pun mengaku, akhirnya mendengar suara daun gugur
pun dia kaget. Dikiranya sepatu tentara.

Pendeknya musuh telah tak berdaya. Tokoh-tokoh tua bilang,
perang tak layak lagi diteruskan. Petuahnya, “Islam itu
selamat dan menyelamatkan”. Dan tiap khotbah, Pak Lurah
berseru “Kita memang punya hukum qisas: bunuh balas bunuh.
Tapi memberi maaf itu lebih satria …”.

Tuhan tiba-tiba menjadi kongkret. Termasuk buat Kaminonov.
Haji Thohir yang “sepuh” itu rajin mengajarinya ngaji. Ia
merawat rohani “si anak hilang” yang telah kembali. Maka,
tak lupa tiap pengajian usai, ia ulang petuahnya: “Lembaran
yang sudah dibaca ditutup. Begitu juga masa lalumu.”

Kaminonov tunduk sambil lirih mengucap: “Nggih, nggih, Pak
Kaji, insya Allah.” Fasih dia. Dan bila orang menyindir nama
Rusianya, ia cuma senyum. Jawabnya: “Lembaran lama sudah
ditutup. Saya cuma Kamino …”


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: