12. MASYARAKAT KAGETAN

8 12 2009

12. MASYARAKAT KAGETAN

Tiga bulan lalu kita diguncang oleh Jusuf Randy, tokoh
komputer yang licin itu. Sebelumnya juga kita pernah
dikagetkan Jusuf Ongkowijaya yang juga penggombal.

Di sekitar kita nampaknya banyak orang “sakit” yang gemar
membuat sensasi yang merugikan masyarakat.

Dalam kasus Randy kita terperangah sukses besarnya. Di balik
kekaguman massa yang buru-buru itu sedikitnya orang melihat
dua hal: uang dan kemasyhuran.

Kursus komputer, lambang “kemajuan” hari ini, lalu menjamur
di mana-mana. Mungkin ada bahkan peserta kursus yang
diam-diam memendam ambisi menjadi semacam Randy lain karena
tergiur oleh figur Randy yang mengesankan: pintar, kaya,
dermawan, terkenal.

Di tingkat lebih bawah keadaan seperti itu juga menggejala.
Tukang soto yang sukses, misalnya, tak akan dibiarkan
sendirian. Di sekitarnya akan segera bermunculan
tukang-tukang soto lain yang ingin meraih sukses serupa.

Agaknya kita tangkas dalam mengagumi dan meniru pihak yang
dikagumi itu bila di dalamnya ada unsur uang dan ketenaran.
Nampaknya uang dan ketenaran sudah menjadi tujuan hidup.

Kita lalu jadi terbiasa menilai sukses seseorang hanya dari
segi pemilikan materi. Sukses artinya kaya, terkenal.
Prestasi dalam bentuk lain: kejujuran ketekunan, seperti tak
punya arti lagi.

Akibatnya terjadi semacam pendangkalan rasa malu dan harga
diri. Orang tak lagi merasa malu atau risi menjadi kaya
dengan jalan tak halal.

Benar juga barangkali, kita hidup dalam masyarakat yang
gelisah. Di sekitar kita banyak kemapanan lama berubah
cepat, sering tanpa kita kehendaki. Pijakan moral kita
digugat di sana sini untuk menjawab persoalan-persoalan
baru. Segi-segi yang bersifat tabu dan sakral dituntut, demi
modernisasi, demi pembangunan, untuk dirasionalkan. Kita
diminta menjadi lebih sekular.

Tapi di situlah persoalannya: kita belum siap. Maka
muncullah kemudian situasi anomi dalam masyarakat kita, yang
membuat kita goyah, karena dasar pijakan moral lama telah
bergeser meninggalkan “kekolotan” kita, sementara dasar
pijakan moralitas baru belum lagi ditemukan.

Tak mengherankan, banyak kejadian membuat kita
terkaget-kaget dan gelisah. Sejak hasil penelitian dokter
Wimpi tentang kehidupan seks remaja di Bali diumumkan,
menyusul angket Eko dari Yogya, yang juga mencari jawab atas
persoalan seks di kalangan remaja kota itu, kemudian
menyusul lagi kasus kumpul kebo di kota yang sama, kita
dihadapkan pada hal-hal yang mengejutkan.

Ribut-ribut tentang “adik baru” akhir-akhir ini barangkali
bisa dimasukkan ke dalam kategori kejutan kita. Celakanya,
kita tak punya jawaban tuntas atas persoalan-persoalan
tersebut kecuali moralitas lama yang sudah barang tentu
tidak lagi cocok dengan tuntutan.

Kita memang hidup dalam situasi dilematis. Pada satu sisi
kita menghendaki aspek-aspek tertentu dalam kehidupan kita
diubah demi kemajuan, tapi kita masih belum rela bila
tiba-tiba kita dituntut menghadapi kenyataan berubahnya
aspek-aspek lain yang maunya masih ingin kita pertahankan.
Kita menjadi gelisah.

Dalam kegelisahan itu kita mencari pegangan. Kita juga butuh
tokoh yang bisa dijadikan panutan.

Dalam kaitan dengan kasus kumpul kebo di Yogya, sejarawan
Sartono Kartodirdjo tampil dengan kesaksian, bahwa kumpul
kebo merupakan gejala yang sudah lama terjadi. Masyarakat
yang kaget dan kecewa melihat potret diri telah ternoda,
dengan pernyataan itu bisa ditenangkan kembali.

Gampang kita dibikin kaget, tapi gampang juga dibikin tenang
kembali. Kita rela mengikuti tokoh panutan kita. Dalam
berbagai hal, kita memang sudah terbiasa ditentukan oleh
pihak lain. Kita lalu jadi terbiasa juga untuk tak berpikir
sendiri. Mungkin hal itu karena lingkungan budaya kita kaya
dengan petunjuk, nasihat, pengarahan, dan
penataran-penataran, sebelum kita mulai melakukan suatu
tugas tertentu. Lingkungan nampaknya cukup memanjakan kita.
Jadi buat apa susah payah berpikir sendiri?

Juklak (petunjuk pelaksanaan) dan tuntas (tuntutan dari
atas) yang mengesankan ketidakdewasaan itu, selalu
diberikan. Bawahan di kantor-kantor umumnya bertindak hanya
bila sudah memperoleh juklak itu. Pola tindakan kita sudah
ditentukan, tak peduli aneka ragam kenyataan lapangan yang
butuh pendekatan lain. Kita selalu tak punya jawab atas
soal-soal yang datang mendadak.

Hidup sudah menjadi amat teknis, dan mungkin kering juga.
Tak mengherankan bila kita tak bisa lagi terharu melihat
derita orang lain. Wajar bila pusat-pusat kesenian sepi,
tapi pusat-pusat perbelanjaan berjejal. Kecuali seniman,
mungkin tinggal sedikit di masyarakat kita orang yang
terbiasa merenung. Kehidupan “normal” sudah dibakukan dengan
rumus-rumus tetap. Lebih-lebih dikalangan birokrat.

Sejak kecil kita sudah terbiasa “ditentukan” oleh
kekuatan-kekuatan di luar diri kita sendiri. Di sekolah
ujian dibiasakan dengan pilihan ganda yang kurang merangsang
daya nalar. Memasuki dunia kerja kita dibimbing untuk
tangkas menghapal kategori-kategori yang Pancasilais dan
yang bukan Pancasilais, tanpa sepenuhnya sadar apa
sebetulnya penjabaran konsep “Pancasilais” itu di dalam
kehidupan sehari-hari.

Tradisi tuntun menuntun ini merayap juga ke dalam kehidupan
politik praktis. Tak jarang sikap dan pernyataan politik
kaum muda dituntun dan diarahkan ke suatu tujuan yang belum
tentu sepenuh hati diterima kaum muda. Tapi demi harmoni,
selaras, seimbang dengan lingkungan, mereka manut saja.
Sebagai generasi penerus yang baik, pemuda mewarisi betul
bakat para pejabat yang dalam setiap pidatonya selalu sarat
dengan slogan-slogan besar.

Di forum DPR pun para senator kita yang terhormat
melembagakan kebiasaan mohon petunjuk sebelum sidang-sidang
penting dimulai. Barangkali ini memang unggah-ungguh dan
tradisi ketimuran yang harus dilestarikan? Saya tidak tahu
pasti. Yang jelas, dalam dunia yang sedang berubah kita
memerlukan pegangan yang pasti-pasti, buat memperkecil
risiko. Kalau toh risiko itu ada, kita tahu kita tak
sendirian memikulnya.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: