11. GURU

8 12 2009

11. GURU

Dalam ilmu othak-athik gathuk-nya orang Jawa, suku kata gu
dari kata guru itu berarti digugu dan ru, artinya ditiru.
Barangkali benar, guru memang digugu (dianut) dan ditiru,
diteladani para murid. Dari sana, barangkali Ki Hajar
Dewantara merumuskan peran guru yang terkenal: ing ngarso
asung tulodo, ing madyo mangun karso, tutwuri handayani itu.
Barangkali dari sana pula pepatah kita “guru kencing
berdiri, murid kencing berlari” itu memperoleh inspirasinya.

Sardono W. Kusumo pernah mengatakan kepada saya bahwa di
masyarakat Jawa, guru tidak harus merupakan sebuah sosok
pribadi, melainkan bisa juga cuma berupa citra atau sosok
bayangan. Dalam sebuah lakon disebutkan, ketika Resi Durna
sedang mengajar para satria Pandawa dan Astina memanah,
seorang satria lain datang hendak berguru memanah kepada
resi tersebut.

“Tidak bisa, ki sanak,” sahut Begawan Durna. “Saya sudah
teken kontrak untuk hanya mengajar para satria ini, dan tak
akan lagi pernah menerima murid lain.”

Satria itu kemudian pergi dengan rasa kecewa. Namun,
tekadnya untuk berguru kepada Begawan Durna tetap membara.
Citra Durna sebagai guru sakti tak ada duanya sangat
mempengaruhinya.

Syahdan, sang satria pun kemudian membuat patung Pandita
Durna Ia lalu mulai belajar memanah, sambil membayangkan
bahwa ia sedang benar-benar belajar kepada pandita sakti
itu. Dan konon, kehebatan satria ini tak kalah dari para
murid yang belajar dari Durna secara langsung.

Mudah diduga, andaikata Durna menerimanya sebagai murid,
pasti satria itu bakal menjadi murid yang taat kepada guru.
Apa pun perintah sang guru, murid itu pasti akan
mematuhinya. Dengan kata lain, murid itu pasti akan mampu
memanggul tugasnya sebagai murid yang harus senantiasa
membuktikan bahwa guru memang seyogianya digugu lan ditiru.

Tapi, masihkah sekarang ini guru memperoleh kehormatan
sebagai orang tua yang tetap digugu lan ditiru (didengar
petuahnya, ditiru tindakannya?). Zaman berubah. Musim pun
berganti. Dan dalam pergantian itu, kita tiba-tiba
dihadapkan pada kenyataan yang tak lagi sejalan dengan
tafsir ideal tentang guru sebagai yang digugu lan ditiru.

Kita dibuat terkejut oleh sejenis pemberontakan moral dan
penjungkirbalikan tatanan ideal dalam tafsir Jawa tadi. Dan,
kita sepertinya tak siap menghadapi kenyataan ketika guru
bukan cuma tak lagi digugu lan ditiru, melainkan juga
digebuk oleh sang murid.

Kita belum punya jawaban, apa yang mesti kita katakan
sekarang ketika kita melihat murid datang kepada guru sambil
membawa parang, golok, atau belati untuk mengancam sang
guru, ketika gurunya tak bersedia memberinya nilai bagus
atau menaikkannya ke kelas tinggi

Kondisi sosio-psikologis macam apa yang mendorong ada murid
mengamuk melempari kaca dan jendela, merusak sekolah, dan
mengeroyok gurunya sendiri? Apa yang salah dalam diri guru?
Dan, apa sebenarnya yang sedang terjadi dalam masyarakat
kita? Ringkasnya, mengapa kewibawaan guru merosot serendah
itu? Guru-guru berjumpalitan, mencoba berakrobatik untuk
menyesuaikan diri dengan panduan dari pusat. Mereka
tergencet situasi: mengejar target yang besar dari pusat
akan selalu berarti menemui kesulitan dengan murid-muridnya
sendiri, tapi bila ia mencoba memberi murid sedikit
keleluasaan ia akan terbentur dengan atasan.

Guru memang masih tetap disanjung sebagai “pahlawan tanpa
tanda jasa”. Ada bahkan yang mengatakan bahwa umumnya tiap
orang besar pernah menjadi guru. Mungkin benar, tapi guru
dalam masyarakat kita sekarang jelas bukan orang besar.
Jadi, apakah gunanya menghibur guru dengan ucapan seperti
itu?

Bagi saya, gelar pahlawan tanpa tanda jasa lebih terasa
ejekan, bukan penghormatan, karena seolah-olah guru memang
tak berhak memperoleh tanda jasa itu.

Guru bukan manusia merdeka. Ia tidak bebas. Ia tidak
mempunyai otonomi dalam memutuskan nasib murid-muridnya,
meskipun tak seorang pun berani membantah bahwa dialah yang
paling tahu tentang kemampuan murid-muridnya.

Orang-tua murid yang tidak tahu ujung pangkal persoalan tak
jarang campur tangan, melakukan intimidasi, atau menyogok
sang guru dengan materi. Ini sekali lagi, membuktikan juga
betapa guru memang bukan orang yang bebas. Ia tak merdeka.
Tampaknya guru, dalam kondisinya, tak bisa berkata tidak
seperti dulu ketika Durna menolak satria, calon murid yang
hendak berguru kepadanya.

Guru-guru tarekat yang tak terikat panduan atasan, yang tak
menggantungkan kurikulum pendidikannya kepada kekuasaan
orang pusat, tampaknya masih memiliki kharisma yang besar di
mata para muridnya. Guru-guru tarekat, dengan kata lain,
masih tetap pengejawantahan dari konsep ideal tentang guru
sebagai yang digugu lan ditiru.

Petuah sang guru tarekat didengarkan. Perintahnya disimak.
“Sabda” mereka disetengahsucikan oleh para murid. Guru
tarekat adalah sejenis raja yang paling berkuasa. Namun,
mereka memperoleh kekuasaannya bukan dengan paksa, melainkan
dengan wibawa.

Begitulah, sejarah yang digali Sartono Kartodirdjo bercerita
kepada kita bahwa sebagian guru tarekat bukan cuma didengar
komando jihatnya untuk menyembelih si kafir Belanda,
melainkan juga dipandang sebagai penjelmaan Ratu Adil yang
bakal mengembalikan harmoni dalam masyarakat serta
menjanjikan ketentraman dan kemakmuran hidup mereka.

Murid-murid tarekat pernah rela mempertaruhkan leher demi
melaksanakan perintah guru. Dan, murid-murid tarekat, sampai
saat ini, rela mencium tangan sang guru, bahkan berebut sisa
makanannya untuk ngalap berkah.

Kemandirian, kebebasan, kharismanya yang besar, dan
keteladanan moralnya itu yang membuat murid tarekat rela
mencium tangan bahkan sungkem, menyembah, di hadapan sang
guru.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: