08. DIALOG

8 12 2009

08. DIALOG

Desember, 1990. Kampus Monash mulai sepi. Hari Natal itu
tiba. Sejumlah teman bernatalan di rumah keluarga Ruffin
Kedang, sahabat kami, yang sekarang sudah jadi Aussie.

Di antara para tamu, sore itu, ada beberapa muslimin dan
muslimat. Mereka minta izin salat. Ada rasa canggung pada
mulanya, khawatir dianggap demonstratif. Tapi, panggilan
salat tak bisa ditunda. Waktu magrib cuma begitu pendek.

“Oh, silakan saja, Bapak. Mari, silakan, Ibu,” kata tuan
rumah, masih kentara logat Flores-nya.

Mengherankan. Ruffin, yang selalu lembut tutur katanya itu,
mengeluarkan sajadah dan mukena. Tamu wanita yang tadinya
tak ingin salat, berkat mukena itu, salat juga jadinya.

Saya dengar cerita ini dari seorang teman. Malu, saya
sendiri tak hadir. Namun, sebagai balas jasa, ingin benar
saya bangun gereja buat Bung Ruffin, bila saya banyak uang.

Awal Februari, 1991. Kampus Monash masih sepi. Tapi,
konferensi dunia tentang Agama dan Perdamaian itu dimulai.

Tema konferensi itu Understanding Neighbouring Faiths.
Sebuah forum dialog antar-berbagai umat beragama. Terutama,
kita dari Indonesia (dengan warna Islam) dan Australia
(dengan warna Kristen). Sejumlah tokoh dari Indonesia
diundang.

Sambil mendengarkan pidato pembukaan, saya berpikir, dari
mana dialog akan dimulai, bila sikap kita telah begitu
tegas: la kum dinukum waliyaddin, bagiku agamaku dan
bagimulah agamamu?

Saya teringat Warsito Utomo (sedang menulis disertasi di
Monash), teman diskusi, yang taat ke gereja itu. Baginya,
agama tak saling mencemari. Ia tak menganggap agama sebagai
“penjara” yang menjerat gerak jiwanya untuk mewujudkan makna
“kasih” yang universal itu.

Akan selancar dialog saya dengan diakah konferensi ini
berjalan? Saya belum tahu.

Dalam sidang komisi, di konferensi itu, saya pernah memilih
satu ruangan bersama Herbert Feith (ahli politik Indonesia
yang beken itu), para kolumnis Indonesia (Soetjipto
Wirosardjono, Djohan Effendi, Fachry Ali), dan sejumlah
orang Australia.

Ketika tiap orang harus menunjuk apa yang dirasa sebagai
“ganjelan” bangsa Australia dalam pergaulan dengan bangsa
Indonesia, mereka menyebut “rasa takut” pada Islam. Bagi
mereka, Islam itu pedang terhunus, potret Khomeini, atau
Saddam.

Citra Islam seperti ini belum pupus di mata orang Barat.
Dan, meletusnya Perang Teluk memperburuk citra tersebut.
Kemudian, diam-diam, rasa takut menyebar di Australia.
Mereka khawatir jika Indonesia memihak Saddam.

Ketakutan itu, sebagian, disebabkan semacam perasaan
“berdosa” di kalangan rakyat, karena pemerintah mereka
mengirim pasukan ke Timur Tengah. Rakyat protes, tapi
pemerintah lebih mendengar titah big boss di Amerika
daripada suara rakyatnya sendiri.

Di tengah rasa takut ini, kemudian muncul orang-orang yang
“marah” kepada umat Islam, kelompok minoritas di negeri itu.
Di Sydney, misalnya, umat harus berjaga di luar masjid
ketika salat jamaah, karena mereka diganggu.

Dengan malu seorang sahabat, mahasiswa Australia, mengakui
bahwa pemukulan atas seorang muslim Indonesia oleh oknum
Australia di Melbourne, seminggu sebelum konferensi
berlangsung, merupakan sebuah corengan di wajahnya.

Bagi saya, kejadian ini lebih menegaskan betapa perlunya
dialog. Dalam abad ketika secara geografis dunia bertambah
sempit –Indonesia-Australia ibarat cuma tetangga dalam satu
komplek perumahan– memahami tetangga itu sebuah keharusan.
Untuk bisa bertetangga secara damai, kita perlu menghormati
agama keluarga sebelah

Memang, dalam konferensi itu, sekali terdengar self mockery:
pihak Islam menertawakan Islam, Kristen menertawakan
Kristen. Suatu cara “produktif” untuk saling berbagi.

Tak lupa, pihak Islam menjelaskan, misalnya Soetjipto
Wirosardjono, Islam itu damai, dan bahwa di Indonesia tak
ada bukti penyebaran Islam dengan pedang. Satu lagi, Islam
itu rahmatan Iil alamin: rahmat bagi semesta alam. Kristen
juga menjelaskan makna kasih dan persaudaraan universal,
inti ajaran mereka.

Peserta, dengan kata lain, menikmati “hidangan” serba ideal
dari kandungan tiap agama. Dalam dialog ini, tiap pihak
mengakui akan betapa luhur ajaran pihak lain. Sejenak, semua
melupakan realitas yang tak selamanya mulus itu.

Orang Barat, terutama kaum feminisnya, menganggap bahwa
Islam itu opresif terhadap wanita. Marwah Daud lalu
menjelaskan posisi wanita dan Islam, dengan contoh
Indonesia. Ada saja yang heran, ternyata dalam masyarakat
Islam ada wanita yang berprestasi sebagai doktor.

Dialog begini, bagaimanapun, diperlukan. Menenggang perasaan
pihak lain diutamakan. Perbedaan teologis tak usah
dibicarakan. Bukankah, dalam ajarannya, tiap agama
mengandung antroposentrisme, yang perlu lebih digarisbawahi,
agar dialog berjalan dalam suasana persaudaraan? Di sinilah
titik kuat dialog itu.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: