06. EMAS TANDA CINTA BUTA

8 12 2009

06. EMAS TANDA CINTA BUTA

AKHIRNYA musyawarah dalam keluarga kecil itu berhasil
memutuskan mudik juga meskipun kondisi ekonomi begitu lesu.
Harga semua barang naik. Tunjangan hari raya dari kantor
tidak ada. Uang tetap sukar diperoleh. Bahkan sangat jauh
lebih sukar hari ini dibanding beberapa bulan lalu.

Tapi, mengapa Kang Mudi berkeras hati untuk tetap pulang dan
sang istri tetap “manut” kehendak sang suami? Soalnya, kata
Kang Mudi, ini sudah tradisi. Lebaran di Jakarta memang
Lebaran juga namanya. Bahkan, di Jakarta lebih dekat dengan
kawan-kawan di tempat kerja. Kalau mau, saling mengunjungi
untuk maaf-memaafkan bisa dilakukan dengan mudah.

Tapi, saling mengunjungi dan maaf-memaafkan dengan cara itu
bukan tradisi. Mereka bisa melakukannya dengan baik setelah
–seperti biasa– kembali masuk kerja. Tradisi mereka
dilakukan di kantor. Jadi, tradisi di kampung itulah yang
perlu dibela dengan susah payah.

Lagi pula, Kang Mudi juga mempunyai rasa cinta tanah air
seperti orang-orang Jakarta. Ketika di layar televisi
melihat beberapa tokoh menukar dolar dengan rupiah, Kang
Mudi diam membisu. Kerongkongannya seperti tersekat. Ia
hendak memberi komentar, tapi suara itu tak kunjung keluar.

Apa yang hendak dikatakannya? Ketika acara televisi itu
selesai, ia baru merasa sedikit lebih tenang. Kemampuan
berpikir jernih dan daya nalarnya pulih kembali secara
pelan-pelan. Dan, berkatalah ia kepada Yu Kemi, istrinya.

“Wong-wong itu jane dho pamer opo piye to (Orang-orang itu
sebenarnya pada pamer atau apa)?”

“Orang kaya selalu bebas berbuat apa saja. Namanya juga
orang kaya,” sahut istrinya.

“Lha pamer kok diembel-embeli cinta rupiah, cinta negara,
segala macam,” gerutunya.

“Lha Pakne juga bebas kok kalau mau ikut pamer dolar.”

“Dolare mbahmu, ya,” gerutunya.

Memang, tidak pada tempatnya Kang Mudi ikut pamer dolar.
Uang dolar itu saja ibaratnya belum pernah dilihatnya. Ia
sejak dulu cuma melihat rupiah. Membeli jeruk dengan rupiah.
Membeli aqua dengan rupiah. Membeli rokok kethengan di
pinggir jalan pun dengan rupiah. Juga tiap membeli kaus,
baju, sarung, sepatu.

Ia pegawai negeri. Posisinya lumayan. Tapi, gajinya rendah.
Boleh dikata, dari tahun ke tahun, selama hampir lima belas
tahun masa dinas, ia hanya makan gaji. Tak ada “cabang”, tak
ada “ranting” apa pun. Penghasilan utamanya juga gaji itu.

Tapi, Yu Kemi membuka warung kecil-kecilan di rumah. Warung
itu berkembang. Dan, lama-lama, penghasilan dari warung bisa
jauh lebih besar daripada gaji yang diperoleh Kang Mudi. Yu
Kemi dengan sendirinya sangat mandiri secara ekonomi.

Tiga anak mereka –Ato, Adi, dan Ami– masing-masing sudah
kelas tiga, kelas dua, dan kelas satu SMP. Biaya untuk
mereka –kata Yu Kemi– uleng-ulengan, artinya sangat banyak.
Kalau Yu Kemi lagi merasa ruwet, ia mengeluh karena
anak-anak itu keperluannya sebentar-sebentar duit,
sebentar-sebentar duit. Dikiranya duit itu cuma tinggal
diraup dari laci kantor bapaknya.

“Laci kantor bapakmu isinya bukan duit, tapi kertas kosong,
amplop surat dari kampung, surat tagihan televisi, dan tanda
utang dari koperasi. Makanya, suruh bapakmu mengisi laci
dengan duit negara. Suruh bapakmu korup duit negara kalau
semua kebutuhan harus selalu dipenuhi.”

“Wis, wis, Bune,” kata Kang Mudi menenangkan sang istri.
Diam-diam Kang Mudi sadar, tugas istrinya alangkah rumit dan
beratnya. Dia sendiri tiap hari cuma pergi ke kantor. Dan,
di kantor ia tak harus banyak berpikir. Orang lain
–atasannya– yang selalu berpikir untuk dia, mengenai apa
yang harus dilakukan. Dia tinggal bekerja sebaik-baiknya.
Bahkan tak harus sebaik-baiknya.

Jiwa Yu Kemi lilih, leleh, luluh kalau sang suami sudah
berkata lembut. Dan, saat itulah Kang Mudi memainkan kartu
utamanya. Dia menanyakan emas yang disimpan sang istri.

“Bukankah dulu ada sekitar sepuluh gram?”

“Lima belas,” sahut sang istri.

“Itu kalung apa ali-ali (cincin) to Bu?”

“Kalung,” sahut sang istri.

Inilah kunci utama yang memaksa mereka mudik. Kang Mudi
berhasil dengan gemilang meyakinkan istrinya bahwa mudik
kali ini lebih patriotik sifatnya dibanding semua jenis
mudik sebelumnya. Dia ingin menyerahkan kalung emas simpanan
sang istri kepada Pak Camat di kampung sebagai tanda duka
atas krisis sekarang.

Dengan sumbangan emas itu, semoga para pemudik lain –juga
para saudagar dan orang-orang kaya di kampung– terketuk
jiwanya dan mereka pun bersedia berkorban demi tanah air.
Ketika wajah tanah air sedang bermuram durja seperti
sekarang, siapa yang diharapkan bertindak tepat kalau bukan
kita sendiri? Kalau kita tak berbuat sesuatu, apa tanda
cinta kita pada tanah air?

Sikap patriotik harus diperlihatkan. Berapa pun nilai yang
kita sumbangkan, jumlah itu ada gunanya. Minimal buat
menyumbang pembangunan desa mereka sendiri.

Yu Kemi tahu, suaminya hanya latah. Khas latahnya golongan
atas, demi menyenangkan bos mereka. Atau ikut meneladani
tindakan patriotik dua orang kiai di Jakarta, yang juga
menyerahkan emas kepada negara.

Tapi, Yu Kemi tak mau berkomentar. Biarlah lima belas gram
emas itu diserahkan kepada Pak Camat kalau betul itu memberi
suaminya harga diri dan rasa bangga. Ia sebenarnya diam-diam
sudah merasa tergiur untuk ikut muncul di televisi sambil
menukar dolar dengan rupiah. Keinginan itu jelas tak
terpenuhi. Dan, ia pun tahu bahwa ia tak diharap melakukan
peran itu.

Dan, begitulah sebenarnya pergolakan dalam jiwa Kang Mudi.
Dan, sekarang, ketika jalan keluar diperoleh, keluarga kecil
itu kemudian naik kereta api dari Gambir menuju kampung
halaman.

Kota demi kota dilintasi. Semalam suntuk mereka duduk di
kursi keras dalam ruangan penuh sesak manusia yang juga
ingin mudik. Bedanya, mungkin, Kang Mudi mudik dengan tujuan
utama menyumbang tanah kelahiran.

Sambil terkantuk-kantuk, di sepanjang jalan dia sudah
membayangkan adegan besok pagi di kecamatan, ketika dia
menyerahkan kalung emas kepada Pak Camat. Dia membayangkan
di kecamatan ada wartawan daerah yang memotretnya dan
mewartakan komitmen kebangsaan yang diperlihatkannya.

Dapatkah sumbangan itu memecahkan krisis moneter kita?
Tidak. Sama sekali tidak. Saya kira, cuma memperlihatkan
kepada kita bahwa benar, cinta memang buta. Juga cinta yang
diwujudkan dengan emas atau dolar.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: