05. CERMIN BUAT TETANGGA

8 12 2009

05. CERMIN BUAT TETANGGA

Ketika ditanya wartawan The Age, koran terbesar di Australia
pada tahun 1988, tentang bagaimana hubungan
Indonesia-Australia, Rendra balik bertanya: hubungan yang
mana? Hubungan pemerintah Indonesia dengan pemerintah
Australia, baik. Hubungan masyarakat Indonesia dengan
masyarakat Australia, mulus. Hubungan pers Indonesia dengan
pers Australia, lancar. Yang selalu jadi masalah ialah
hubungan pers Australia dengan pemerintah Indonesia.

Kecuali Australia, Indonesia mempunyai tetangga lain. Dan
para tetangga itu juga memiliki sendiri pers masing-masing.
Mereka juga bisa menulis apa saja soal Indonesia. Tetapi tak
seperti pers Australia, pers para tetangga lain tak begitu
“mengancam” ketenangan pemerintah kita.

Banyak ahli Indonesia di Australia yang mengetahui persoalan
Indonesia secara mendalam, jauh lebih mendalam dari
kebanyakan pemahaman orang Indonesia sendiri atas kondisi
masyarakatnya. Kritik orang-orang seperti itu jelas berguna,
betapapun pahitnya karena mereka mengritik dengan fakta yang
sahih.

Pada awal masa tugasnya di Australia, Duta Besar Rusman
Nuryadin mengunjungi Universitas Monash untuk melakukan
dialog dari hati ke hati dengan para intelektual yang
bercokol di kampus itu. Ada yang memuji tindakan pejabat itu
sebagai terobosan baru, dan mengandung sejenis keberanian
karena konon baru dia pejabat Indonesia yang berani masuk
kandang “macan” itu.

Saya kurang tahu macan jenis apa. Setahu saya biasa-biasa
saja. Mahasiswa Indonesia di sana, yang dikhawatirkan
menjadi “macan” radikal juga, nyatanya tidak. Sebagian dari
mereka bahkan tampak sangat korpri-minded: bisa tersinggung
oleh kritik apa saja yang tertuju pada pemerintah.
Pendeknya, mereka anak-anak yang “saleh”. Saya ingat, Dubes
Rusman saat itu bertanya: “Siapa di sini yang masih suka
bicara sumbang tentang Indonesia? Tolong, perkenalkan saya
dengan mereka itu, agar saya bisa memberi mereka penjelasan
yang benar tentang kondisi negeri kami.”

Herbert Feith, ahli politik Indonesia yang kondang itu, saat
itu duduk di sebelah saya, dan hanya tersipu-sipu mendengar
pertanyaan itu. Tak seorang pun yang menjawab. Mereka bukan
tidak tahu persoalan.

Di mata orang Australia (para wartawan, para ahli, termasuk
mahasiswa, dan masyarakat awam), daya tarik Indonesia memang
besar. Seminar rutin tiap Kamis yang diadakan oleh Pusat
Studi Asia Tenggara, Universitas Monash, menunjukkan hal
itu. Bila seminarnya mengenai Indonesia, ruangan 505 itu
sering tak mampu menampung peminat. Tapi sebaliknya, bila
seminarnya menyangkut Malaysia, misalnya, ruangan itu begitu
sepi.

Dugaan saya, banyak orang Australia yang membangun persepsi
tentang Indonesia semata berdasarkan informasi pers mereka.
Selama di negeri itu saya bertemu banyak orang, kalangan
muda, yang bersikap “marah” terhadap, pertama, Islam dan
kedua, pemerintah (Indonesia). Kritik mereka terhadap Islam
dan pemerintah begitu khas; ciri orang marah, tanpa memahami
seluk-beluk persoalannya secara memadai. Kesan saya, Islam
dan pemerintah Indonesia merupakan sesuatu yang menakutkan
bagi mereka.

Seminggu sebelum seminar tentang “Agama dan Perdamaian” di
Universitas Monash tahun lalu, ketika Perang Teluk masih
berlangsung, seorang Muslim Indonesia digebuk oleh anak-anak
muda Australia yang marah terhadap Islam. Ini menjadi salah
satu bukti ketakutan, atau mungkin kebencian, itu.

Jumlah ahli Indonesia di berbagai universitas di Australia,
makin lama makin banyak, seiring dengan dibukanya
Pusat-pusat Studi Asia Tenggara di universitas yang dulu
belum memilikinya. Pejuang-pejuang agama, yang berusaha
mengadakan dialog antar-umat beragama berdasarkan kasih dan
saling pengertian, juga ada. Beberapa di antara mereka
sahabat saya. Tetapi suara mereka tampaknya tak cukup keras
untuk didengar. Pengaruh mereka tak tampak sebesar akibat
tulisan seorang wartawan di sebuah media massa.

Saya juga mengenal orang yang dengan tulus berusaha membantu
mencari jalan pemecahan persoalan Timor Timur. Tulisannya di
media massa Australia tampak mencerminkan sikap yang
bijaksana. Tidak ada kutukan terhadap pihak mana pun,
termasuk terhadap pemerintah Indonesia, di dalamnya. Tidak
ada kesan menghardik dan sikap radikal. Tidak ada kebencian.

Mungkin karena itu semua, suara bijak itu justru hilang
seolah tanpa bekas. Orang-orang “romantis”, yang bersikap
paling suci itu, sama sekali tak terimbas oleh pemikiran
moderat mereka.

Pemerintah memang bisa salah. Dan ia sah untuk dikritik.
Meskipun pemerintah Indonesia marah dengan kritikan, namun
diam-diam mereka memanfaatkan kritik itu buat perbaikan.
Jadi kritik terhadap pemerintah sehubungan peristiwa 12
November di Dili, yang dilakukan antara lain dengan membakar
Bendera Merah Putih kita, buat saya merupakan persoalan
tersendiri.

Bendera negara bukan hanya milik pemerintah, melainkan juga
milik seluruh rakyat Indonesia. Sikap brutal mereka jadinya,
juga melukai hati masyarakat.

Saya menghargai keluhuran perjuangan mereka. Tapi cara
mereka melihat kita hanya dari sudut-sudut paling dramatis
itu sungguh tidak adil.

Melihat orang Aborigin keleleran di taman-taman di kota
Sydney atau Melbourne, compang-camping, kelaparan, tanpa
pendidikan, tanpa lapangan kerja, mengapa tak pernah
menyentuh keharuan kalbu mereka?

Saya tidak keberatan pemerintah Indonesia dikritik. Tapi
mendengar Bendera kita diinjak-injak, saya merasa perlu
bereaksi. Saya ingin mengirimi tetangga kita itu sebuah
cermin. Siapa tahu, pada saat senggang mereka bisa melihat
wajah sendiri di cermin itu. Siapa tahu, noda yang sudah
jauh terpendam dalam sejarah penindasan kaum Aborigin masih
bisa terlihat.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: