04. BUNGLON

8 12 2009

04. BUNGLON

Bagaimana upaya memanjat
Supaya selalu selamat
Bagaimana cara jatuh
Supaya tidak mengaduh
Kakekku yang amat cermat
Turunkan ilmu secara cepat
(Taufiq Ismail)

Adakah hal yang begitu penting dalam hidup kita, melebihi
keselamatan? Agama mengajarkan perilaku agar manusia
memperoleh keselamatan. Islam memiliki doktrin selamat dunia
dan akhirat. Kristen menekankan salvation (penyelamatan
jiwa).

Ketika saya mau hijrah ke Jakarta dua puluhan tahun lalu,
nenek, kakek, ayah, paman, pakde, dan tetangga-tetangga
memberi saya sangu (bekal) slamet (selamat). “Tak sangoni
slamet” (aku bekali kau selamat), kata mereka.

Tiap kali saya pulang ke kampung, yang pertama-tama mereka
tanyakan ialah apakah saya dalam keadaan “selamat”. Pak
Arno, salah seorang guru SMA saya, memberi saya petuah
tentang empat “S” (sluman, slumun, sarwo, slamet). Intinya,
bergaul di mana saja, dalam kelompok apa saja, orang harus
berperilaku begitu rupa agar jangan lupa memperhitungkan
upaya mencari selamat.

Pinter itu perlu, tapi pinter yang membawa selamat. Kaya
juga baik, asal kekayaan itu juga membikin kita selamat.

Miskin pun tak dicela, karena bukankah yang penting selamat?
Kalau jasad dan jiwa selamat, harta bisa dicari.

Ditambah moralitas Jawa bahwa hidup di dunia cuma sesaat,
ibarat cuma orang mampir ngombe (singgah buat minum di
kedai), sikap toleran terhadap kemiskinan dan mengutamakan
keselamatan di dunia yang kelak akan tiba, menjadi lebih
jelas lagi. Selamat terletak di atas segalanya!

Di depan gedung LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
itu ada jalan memotong ke arah kompleks perumahan menteri.
Di jalan itu mangkal sejumlah kecil ojek. Satu di antara
tukang ojek itu seorang kakek dari Blitar, Jawa Timur. Saya
sering menggunakan ojek kakek itu. Vespa tua itu
tersuruk-suruk di jalan-jalan Jakarta, mengantar penumpang
dengan mengutamakan keselamatan. “Biar pelan asal jalan,
lambat tapi selamat,” kata kakek itu.

Ketika baru kenal tiap kali mau berangkat dengan vespa itu
saya selalu ditanya, apakah saya terburu-buru. Sebagai
sesama Jawa, saya paham ke mana arah pertanyaannya. Maka,
biarpun saya harus mengejar waktu, saya selalu menjawab
bahwa waktu saya cukup longgar

“Soalnya, Pak,” kata kakek itu, “bagi saya yang penting itu
selamat. Kalau penumpang terburu-buru pun akan saya minta
kerelaannya untuk saya antar secara pelan asal jalan,”
katanya.

Ketika sebuah Kopaja berhenti mendadak, dan kakek itu
terpaksa menginjak rem secara mendadak juga, sehingga ujung
ban depan vespanya hampir menempel bagian belakang Kopaja
yang sembarangan itu, si kakek bukannya hanya tidak marah,
melainkan malah merasa beruntung.

“Untung tidak nabrak,” katanya kalem. Ketika bus kota
memepetnya di trotoar, dia cuma menggerutu: piye bus iki
karepe (“apa maunya bus itu”). Rem diinjak dengan kalem. Dan
kami berhenti. Tak ada makian apa-apa. Yang ada malah sikap
syukur, karena bagaimanapun semuanya selamat.

Kalau prinsip mengutamakan selamat di jalan raya itu
terdengar oleh Polantas, kakek kita dari Blitar itu pasti
mendapat hadiah istimewa. Sekurang-kurangnya ucapan terima
kasih.

Prinsip “asal selamat” itu tak cuma berlaku di jalan raya.
Dalam tiap langkahnya kakek itu menomorsatukan keselamatan.
Ia memang bukan sembarang tukang ojek.Ia dulu pernah bekerja
di kantor. Memang benar, ia hanya pegawai rendahan. Tapi
pernah ia menolak perintah atasan untuk menandatangani
kuitansi fiktif. Semua pegawai sudah bertandatangan, dan
mereka kebagian rejeki. Cuma si kakek dari Blitar yang tak
mau.

“Saya butuh uang seperti mereka juga. Tapi saya tak setuju
caranya,” katanya. “Cara itu tidak membawa selamat,”
tambahnya.

“Lho, bukannya atasan yang menyuruh? Bukankah atasan
menanggung semuanya?” kata saya.

“Betul. Tapi atasan saya itu punya atasan. Dan atasannya
atasan saya juga punya atasan lagi. Raja yang paling kuasa
pun punya atasan. Kepada atasan yang paling atas itu saya
takut …,” katanya.

Kakek kita dari Blitar ini mengingatkan saya pada sajak
Kisah Kakek dan Cucu Keluarga Chameleon yang ditulis oleh
penyair top kita, Taufiq Ismail. Chameleon alias bunglon
memiliki kemampuan untuk secara alamiah menyelamatkan diri
dengan cara mengubah warna kulit sesuai keadaan sekitar.

Dalam sajak itu, kakek bunglon menceritakan pengalamannya
bahwa ia pernah ditangkap manusia. Dokter hewan yang bisa
bicara bahasa bunglon telah memindahkan bintil-bintil di
bawah kulit dan getah di ujung lidah si kakek, ke tubuh
manusia

“Dalam waktu dua musim hujan saja, sesudah bintil-bintil itu
masuk ke kulit manusia, manusia di dunia ini sudah lebih
sempurna cara berganti warna mereka. Dan lidah mereka,
semakin bergetah keadaannya,” tulis Taufiq Ismail lagi.

Teman-teman kakek dari Blitar itu mungkin juga sudah menjadi
bunglon. Mereka menyesuaikan warna “tubuh” mereka dengan
warna “tubuh” sang atasan. Itulah “ilmu selamat” dalam
pengertian mereka.

Sebab, kalau mereka menolak, atasannya akan menganggap
mereka klilip (penghalang) dan harus disingkirkan. Nasib
mereka kemudian akan sama dengan nasib kakek dari Blitar:
terpental.

Di sini kita berhadapan dengan dua fenomena: kakek dari
Blitar dan kawan-kawannya. Sering kita harus memilih satu di
antara keduanya. Ini pilihan susah. Dua-duanya punya
justifikasi sebagai “ilmu selamat”.

Barangkali, umumnya kita adalah potret dari kawan-kawan
kakek kita dari Blitar karena dua alasan. Pertama, kita
umumnya lebih mengutamakan upaya penyelamatan jasad
ketimbang roh. Kedua, kita diam-diam telah menukar kulit
kemanusiaan kita dengan kulit bunglon. Kita semua,
pendeknya, mungkin sudah jadi bunglon.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: