02. BERSIH DESA

8 12 2009

02. BERSIH DESA

PARA tokoh desa sudah duduk bersila di atas panggung yang
dibangun dengan atap tenda di bawah pohon besar yang tampak
berwibawa dan memancarkan pesona magis. Di pohon besar
itu-menurut kepercayaan setempat-bersemayam danyang, pepunden,
atau leluhur, atau roh penjaga desa. Dialah yang pada siang
itu, dan malam nanti, ketika pertunjukan wayang kulit
berlangsung, yang menjadi pusat perhatian seluruh penduduk
desa.

Rombongan tamu-para priyayi Solo-satu per satu menyusul dengan
tertib ke panggung. Ada Sardono W Kusumo, ada sejarawan
Soedarmono, ada psikolog Yayah Kisbiyah, ada Taufik Rahzen,
sejumlah aktivis LSM, para seniman, juga dosen-dosen, dan
sejumlah wartawan. Saya pun hadir. Di sana saya orang asing.
Minat saya besar untuk mengikuti upacara tradisional desa itu.
Orang menyebut acara-yang diadakan tiap tahun sekali-itu
“bersih desa”. Biarpun secara kultural saya sudah tercabut
dari desa sejak kelas satu SMP, saya ingat di kampung saya
acara itu tak ada.

Bacaan antropologi berjasa menyambungkan kembali saya dengan
akar kebudayaan desa yang terputus tadi. Dan saya kira Ben
Anderson dan Geertz, yang mengembalikan saya menjadi orang
Jawa yang agak tahu tentang kebudayaan Jawa.

***

KARANGPANDAN, tempat upacara bersih desa itu berlangsung,
terletak di lereng barat kaki Gunung Lawu. Udara masih terasa
agak sejuk. Aroma pedesaan masih sangat kentara.

Hidangan untuk kami pun khas desa: gethuk (dari singkong) dan
ubi goreng. Keduanya masih hangat. Juga teh manisnya. Sambil
menikmati gethuk saya mengamati para warga desa, terutama
perempuan, berdatangan membawa sesajen, ditaruh di bawah pohon
besar itu. Sesajen terdiri dari nasi tumpeng dan nasi biasa,
dengan aneka macam lauk-pauk. Ada pula sambal kerecek dan ayam
goreng. Di kampung saya, ayam goreng macam itu dulu cuma bisa
ditemui setahun sekali tiap ada hajatan penting.

Di bawah pohon itu sesajen berderet makin panjang dan makin
bervariasi. Para antropolog memandang peristiwa itu sebagai
momentum simbolik. Tetapi, bagi para pelakunya, peristiwa
kebudayaan itu konkret. Dalam wawasan dan kesadaran kosmologi
mereka, sesajen itu bentuk persembahan konkret. Makanan itu
secara wadag memang dibawa pulang kembali dan menjadi berkah
bagi semua anggota keluarga, atau siapa saja yang turut makan.
Tetapi para pepunden atau danyang sudah menikmati inti
sarinya.

Bagi para pelakunya, berkah itu pun bukan cuma artikulasi
simbolik tetapi nyata. Mereka percaya setelah melakukan
sesajen hidup lebih tenteram, lebih secure. Sebaliknya, bila
upacara tak diadakan, gangguan-gangguan bisa muncul dan
membikin hidup kehilangan unsur security-nya.

Peneliti asing tanpa keraguan sedikit pun menyebut peristiwa
macam ini sebagai ekspresi keagamaan orang Jawa. Memang dalam
kacamata antropologi, ini bagian sistem religi atau
kepercayaan. Saya kira, lebih tepat jangan diterjemahkan
menjadi agama. Ia bagian dari wujud kesadaran kosmologi yang
jauh beda dibanding agama (tiga agama besar yang diturunkan
Tuhan lewat malaikat untuk para nabi dan pengikut mereka, dan
bagi manusia pada umumnya).

Dalam kesadaran kosmologi orang Jawa, lelembut, danyang, dan
makhluk halus dianggap sesuatu yang “nyata”. Mereka ada di
sekitar kita. Mereka pun dianggap perlu “ruang” atau
“akomodasi” dan hidup berdampingan dengan kita. Agar mereka
tak mengganggu kita, maka diperlukan sejenis “traktat”. Dan
wujud “traktat” itu tampak dalam tradisi “bersih desa” tadi.
Ini wacana kebudayaan yang hidup dan berkembang di desa.
Bahkan mungkin otomatis menjadi salah satu elemen “roh” desa.
Dia bagian dari kajian antropologi yang memikat.

Apa fungsi “bersih desa” sebagai “traktat” yang meliputi hidup
warga desa-orang, manusia-dengan “lelembut” atau “danyang”
tadi?

Saya kira fungsinya untuk mewujudkan harmoni, rukun, dan guyub
antartiap unsur di dalam power relations kedua belah pihak.
Untuk apa? Jelas untuk mewujudkan gagasan “koeksistensi” damai
antara semua aktor yang terlibat. “Koeksistensi” damai itu
akan bertahan bila tiap pihak sadar bahwa mereka harus berbagi
ruang “budaya” secara adil dan manusiawi.

Keadilan dalam pembagian ruang “budaya” itu menjadi peneguh
kohesi sosial agar konflik tak terjadi. Sekali lagi cita-cita
untuk harmoni, guyub, dan rukun tadi dengan begitu lalu
terwujud. Si danyang tidak usil, tidak mengganggu, dan si
manusia tak menyimpang dari keteraturan kosmologis yang
namanya “tradisi bersih desa” tadi.

***

TRADISI yang hidup di tingkat lokal dan yang kelihatannya cuma
kesibukan rutin biasa di desa, saya kira bisa memberi kita
refleksi dan perenungan politik bagi kepentingan di luar
kolektivitas desa bersangkutan. Apa yang cuma lokal itu
diam-diam bisa menyumbang kepentingan lebih luas pada tingkat
nasional? Apa sumbangan nasionalnya? Kita bisa menggagas dan
menerapkan tradisi “bersih desa” menjadi-boleh saja-“bersih
nasional” atau “bersih negara”.

Ajaran apa yang dari sana bisa diteladani dan dikembangkan di
tingkat nasional saat ini? Mungkin, khususnya, semangat rukun,
guyub, dan relasi harmonis antarsemua kekuatan sosial,
politik, ekonomi, dan budaya, yang sedang berserak-serak dan
dalam situasi disintegrasi sosial ini. Kita bisa belajar dari
desa prinsip berbagi ruang “budaya” secara adil. Kita bisa
meniru orang desa untuk mewujudkan gagasan “koeksistensi
damai” dengan semua kekuatan sosial, politik, dan budaya yang
ada di tengah atau di sekitar kita.

Disintegrasi sosial dan aneka corak ketegangan, Insya Allah
semoga otomatis teratasi oleh semangat koeksistensi damai
tadi. Meneladani semangat ini saya tunjuk dengan, dan bukan
bentuk lahiriahnya, karena saya kira akan banyak orang yang
keberatan dari sudut agama. Tetapi, sekali lagi, hal ini
urusan lain. Kita sedang bicara perkara kebudayaan dan bukan
urusan agama. Maka, di bidang kebudayaan, bila dengan lelembut
atau danyang saja orang desa mau berbagi ruang demi harmoni
dan rukun, dan guyub, orang kota, tokoh-tokoh, yang pandai dan
peduli pada masa depan bangsa, mengapa tak mungkin atau tak
mau berjuang demi koeksistensi damai, demi harmoni, dan rukun
bagi segenap kekuatan dalam masyarakat? Negara, saya kira,
wajib bersih dari dengki, iri, dendam, dan keserakahan.

“Bersih desa” mungkin sebuah sukma kehidupan yang dengan
sendirinya bisa merayap jauh ke tatanan “bersih negara.

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: