BAB 16 : Kapan Dibolehkan Atau Diwajibkannya Menerangkan Keadaan Seseorang

7 12 2009

BAB 16 : Kapan Dibolehkan Atau Diwajibkannya Menerangkan Keadaan Seseorang

146. Hamdun Al Qashshar ditanya : “Kapankah waktu membicarakan seseorang?”
Ia menjawab : “Jika telah pasti baginya untuk menunaikan kewajiban Allah ini berdasarkan ilmunya atau ia khawatir orang banyak celaka karena bid’ah itu dan ia berharap agar Allah menyelamatkannya.” (Al I’tisham 1/127)

147. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :
[Jika nasihat itu adalah kewajiban bagi kemaslahatan agama secara
khusus maupun umum seperti penukilan hadits yang mereka bersalah atau
berdusta sebagaimana kata Yahya bin Sa’id :
Saya bertanya kepada Imam Malik dan Ats Tsauri dan Al Laits bin Sa’d
–saya menduganya Al Auza’iy– tentang seseorang yang tertuduh dalam
periwayatan hadits atau tidak hafal. Mereka mengatakan :
“Terangkan keadaannya itu.”
Dan sebagian ada yang berkata kepada Imam Ahmad bin Hanbal :
“Sesungguhnya berat bagiku mengatakan bahwa Fulan begitu, Fulan begini.”
Maka kata beliau : “Jika kamu dan saya diam dalam masalah ini maka
kapan orang yang jahil itu tahu mana hadits yang shahih dan mana yang
cacat?! Dan seperti imam-imam ahli bid’ah yang memiliki berbagai
pendapat dan ibadah yang menyelisihi Al Quran dan As Sunnah maka
menjelaskan keadaan mereka dan memperingatkan manusia dari mereka
adalah wajib berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin (Ahli Ilmu).”
Sampai dikatakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal : “Seseorang berpuasa,
shalat, i’tikaf lebih Anda cintai ataukah jika ia menerangkan keadaan
ahli bid’ah?”
Beliau berkata : “Jika ia puasa, shalat, dan i’tikaf maka itu untuk
dirinya sendiri sedangkan apabila ia menerangkan keadaan ahli bid’ah
maka ini adalah untuk kebaikan kaum Muslimin dan ini lebih utama maka
menerangkan perkara ini agar berguna bagi kaum Muslimin dalam agama
mereka termasuk salah satu jihad di jalan Allah sebab membersihkan
jalan Allah dan agama, manhaj, dan syariat-Nya serta menghalau
kejahatan ahli bid’ah dan permusuhan mereka adalah Fardlu Kifayah
menurut kesepakatan kaum Muslimin. Dan apabila tidak ada orang yang
Allah bangkitkan untuk menolak bahaya ahli bid’ah ini benar-benar akan
hancurlah agama ini. Dan kerusakannya jauh lebih besar daripada
kerusakan akibat penjajahan musuh dari kalangan orang-orang yang kafir
yang mesti diperangi. Sebab mereka ini jika berkuasa belum tentu mampu
merusak hati manusia yang dijajahnya kecuali pada kesempatan berikutnya
sedangkan ahli bid’ah ini jika mereka berkuasa akan merusak hati lebih
dahulu.” ] (Majmu’ Fatawa 28/231 dan 232)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: