47. TIGA CINCIN BERLIAN

7 12 2009


47. TIGA CINCIN BERLIAN

Pada zaman dahulu, ada seorang bijaksana dan sangat kaya
yang mepunyai seorang anak laki-laki. Katanya kepada
anaknya, “Ini cincin permata. Simpanlah sebagai bukti bahwa
kau ahli warisku, dan nanti wariskan kepada anak-cucumu.
Harganya mahal, bentuknya indah, dan memiliki kemampuan pula
untuk membuka pintu kekayaan.”

Beberapa tahun kemudian, Si Kaya itu mempunyai anak
laki-laki lagi. Ketika anak itu sudah dewasa, ayahnya
memberi pula cincin serupa, disertai nasehat yang sama.

Hal yang sama juga terjadi atas anak laki-lakinya yang
ketiga, yang terakhir.

Ketika Si Tua sudah meninggal dan anak-anaknya menjadi
dewasa, masing-masing mengatakan keunggulannya sehubungan
dengan cincin yang dimilikinya. Tak ada seorangpun yang bisa
memastikan cincin mana yang paling berharga.

Masing-masing anak mempunyai pengikut, yang menyatakan
cincinnya memiliki nilai dan keindahan lebih unggul.

Namun kenyataan yang mengherankan adalah bahwa pintu
kekayaan itu selama ini masih juga tertutup bagi pemilik
cincin itu, juga bagi pengikutnya terdekat. Mereka tetap
saja meributkan hak yang lebih tinggi, nilai, dan keindahan
sehubungan dengan cincin tersebut.

Hanya beberapa orang saja yang mencari pintu kekayaan Si Tua
yang sudah meninggal itu. Tetapi cincin-cincin itu memiliki
kekuatan magis juga. Meskipun disebut kunci, cincin-cincin
itu tidak bisa langsung dipergunakan membuka pintu kekayaan.
Sudah cukup kalau diperhatikan saja, salah satu nilai dan
keindahannya tanpa rasa persaingan atau rasa sayang yang
berlebihan. Kalau hal itu dilakukan, orang yang melihatnya
akan bisa mengatakan tempat kekayaan itu, dan dapat
membukanya dengan hanya menunjukkan lingkaran cincin itu.
Harta itu pun memiliki nilai lain: tak ada habisnya.

Sementara itu para pembela ketiga cincin itu
mengulang-ngulang kisah leluhurnya tentang manfaatnya,
masing-masing dengan cara yang agak berbeda.

Kelompok pertama beranggapan bahwa mereka telah menemukan
harta itu.

Yang kedua berpikir bahwa kisah itu hanya ibarat saja.

Yang ketiga menafsirkannya sebagai kemungkinan membuka pintu
kearah masa depan yang dibayangkan sangat jauh dan terpisah.

Catatan

Kisah ini, yang oleh beberapa pihak dianggap mengacu ke tiga
agama: Judaisme, Kristen, dan Islam, muncul dalam
bentuk-bentuk yang berbeda dalam Gesta Romarzorum dan karya
Boccacio Decameron.

Versi di atas itu konon merupakan jawaban salah seorang guru
Sufi Suhrahwardi, ketika ditanya mengenai kebaikan pelbagai
agama. Beberapa penanggap beranggapan ada unsur-unsur dalam
kisah ini yang menjadi sumber karya Swift, Tale of a Tub
‘Kisah sebuah Bak mandi.’


Aksi

Information

2 responses

1 09 2010
AF Hidayat

Alhamdulillah. Teruslah jadi pena Allah Agar saya terus dapat membaca apa yang saya tidak paham. Terimakasih

14 09 2010
Ki Semar

Untuk Saudaraku : AF Hidayat

Apa yang ada dalam situs ini terutama saya tujukan buat petunjuk diri saya
yang penuh dengan dosa ini, dan Alhamdulillah apabila bisa memberikan manfa’at
bagi orang lain. Amin

Salam: Ki Semar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: