44. SUMPAH

7 12 2009

44. SUMPAH

Pada suatu hari, seorang yang kalut pikirannya bersumpah,
jika semua kesulitannya terpecahkan ia akan menjual rumahnya
dan semua hasil penjualan itu akan diberikannya kepada kaum
miskin.

Akhirnya sampai juga saatnya, ia harus menunaikan sumpahnya.
Tetapi ia tidak ingin memberikan uang yang didapatnya. Iapun
mencari akal.

Ia menjual rumahnya seharga seperak saja. Namun penjualan
itu harus sekalian dengan kucingnya. Harga kucing itu
sepuluh ribu uang perak.

Rumah itu pun terjual. Dan bekas pemilik rumah itupun
memberikan uangnya yang seperak kepada kaum miskin, yang
sepuluh ribu dimasukkan ke kantong sendiri.

Banyak orang berpikiran demikian itu. Mereka berketetapan
menuruti pelajaran; namun, mereka menafsirkan sedemikian
rupa agar menguntungkan dirinya Sampai mereka mampu
mengalahkan kecenderungan itu dengan latihan khusus, mereka
sebenarnya tidak bisa menarik pelajaran apa-apa.

Catatan

Akal-akalan yang digambarkan dalam kisah ini, menurut
pengisahnya (Syeh Nasir Al-Din Syah) mungkin memang
disengaja –atau mungkin menggambarkan pikiran tertutup yang
secara tak sadar menampilkan akal-akalan semacam itu.

Sang Syeh, yang juga dikenal sebagai “Pelita Delhi,”
meninggal tahun 1846. Makamnya di Delhi, India. Versi ini,
yang dianggap ciptaannya, berasal dari tradisi lisan kaum
Chishti. Kisah ini dipergunakan untuk memperkenalkan teknik
kejiwaan yang dimaksudkan untuk menenangkan jiwa, agar tidak
bisa melaksanakan tindak akal-akalan yang menipu diri
sendiri.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: