41. SIFAT MURID

7 12 2009

41. SIFAT MURID

Diceritakan bahwa Ibrahim Khawas, ketika ia masih muda,
ingin mengikuti seorang guru. Iapun mencari seorang bijak,
dan mohon agar diperbolehkan menjadi pengikutnya.

Sang Bijak berkata. “Kau belum lagi siap.”

Karena anak muda itu bersikeras juga, guru itu berkata,
“Baiklah, aku akan mengajarimu sesuatu. Aku akan berziarah
ke Mekkah. Kau ikut.”

Murid itu teramat gembira.

“Karena kita mengadakan perjalanan berdua, salah seorang
harus menjadi pemimpin,” kata Sang Guru “Kau pilih jadi apa?”

“Saya ikut saja, Bapak yang memimpin,” kata Ibrahim.

“Tentu aku akan memimpin, asal kau tahu bagaimana menjadi
pengikut,” kata Sang Guru.

Perjalananpun dimulai. Sementara mereka beristirahat pada
suatu malam di padang pasir Hejaz, hujan pun turun. Sang
guru bangkit dan memegangi kain penutup, melindungi muridnya
dari kebasahan.

“Tetapi seharusnya sayalah yang melakukan itu bagi Bapak,”
kata Ibrahim.

“Aku perintahkan agar kau memperbolehkan aku melindungimu,”
kata Sang Bijak.

Siang harinya, anak muda itu berkata, “Nah ini hari baru.
Sekarang perkenankan saya menjadi pemimpin, dan Bapak
mengikut saya.” Sang gurupun setuju.

“Saya akan mengumpulkan kayu, untuk membuat api,” kata
pemuda itu.

“Kau tak boleh melakukan itu; aku yang akan melakukannya,”
kata Sang Bijak.

“Saya memerintahkan agar Bapak duduk Saja sementara saya
mengumpulkan kayu!” kata pemuda itu.

“Kau tak boleh melakukan hal itu,” kata orang bijaksana itu;
“sebab hal itu tidak sesuai dengan syarat menjadi murid;
pengikut tidak boleh membiarkan dirinya dilayani oleh
pemimpinnya.”

Demikianlah, setiap kali Sang Guru menunjukkan kepada murid
apa yang sebenarnya makna menjadi murid dengan
contoh-contoh.

Mereka berpisah di gerbang Kota Suci. Waktu kemudian bertemu
dengan orang bijaksana itu, Si pemuda tidak berani menatap
matanya.

“Yang kaupelajari itu,” kata Sang Bijak, “adalah sesuatu
yang berkaitan dengan sedikit menjadi murid.”

Catatan

Ibrahim Khawas (‘Si Penganyam Palem’) memberi batasan jalan
Sufi sebagai, “Biarkan saja apa yang dilakukan untukmu
dikerjakan orang untukmu. Kerjakan sendiri apa yang harus
kau kerjakan bagi dirimu sendiri.”

Kisah ini menggaris-bawahi dengan cara dramatik, perbedaan
antara apa yang dipikirkan calon pengikut tentang bagaimana
seharusnya hubunganya dengan gurunya, dan bagaimana hubungan
tersebut dalam kenyataannya.

Khawas adalah salah seorang di antara guru-guru agung zaman
awal, dan perjalanan ini dikutip oleh Hujwiri dalam
Pengungkapan Yang Terselubung, ikhtisar tertua yang masih
ada tentang Sufisme dalam Bahasa Persia.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: