37. SANTAPAN DARI SORGA

7 12 2009

37. SANTAPAN DARI SORGA

Yunus, putra Adam, pada suatu saat memutuskan untuk tidak
sekedar menyerahkan hidupnya pada nasib, tetapi mencari cara
dan alasan penyediaan kebutuhan manusia.

“Aku manusia,” katanya kepada dirinya sendiri. “Sebagai
manusia aku mendapat sebagian dari kebutuhan dunia, setiap
hari. Bagian itu aku dapat karena usahaku sendiri, didukung
oleh usaha orang lain juga. Dengan menyederhanakan proses
ini, aku akan mencari tahu bagaimana cara makanan mencapai
manusia, dan belajar sesuatu mengenai bagaimana dan
mengapanya. Daripada hidup di dunia kacau-balau ini, dimana
makanan dan kebutuhan lain jelas datang melalui masyarakat,
aku akan menyerahkan diriku kepada Penguasa langsung yang
memerintah segalanya. Pengemis hidup lewat perantara: Lelaki
dan wanita yang pemurah, yang merelakan sebagian hartanya
berdasarkan desakan hati yang tidak sepenuh-penuhnya. Mereka
melakukan itu karena telah dididik berbuat demikian. Aku
tidak mau menerima sumbangan yang tidak langsung itu.”

Selesai berbicara sendiri itu, iapun berjalan ke tempat
terpencil, menyerahkan dirinya kepada bantuan kekuatan gaib
dengan keyakinan yang sama seperti ketika ia menyerahkan
dirinya kepada bantuan yang kasat mata, yakni ketika ia dulu
menjadi guru di sebuah sekolah.

Ia pun jatuh tertidur, yakin bahwa Allah akan mengurus
kebutuhannya sebaik-baiknya, sama seperti burung-burung dan
binatang lain mendapatkan keperluannya di dunia mereka
sendiri.

Waktu subuh, kicau burung membangunkannya, dan anak Adam itu
mula-mula berbaring saja, menanti munculnya makanan.
Meskipun ia mula-mula sepenuhnya menyerahkan dirinya kepada
kekuatan gaib dan yakin bahwa ia akan mampu memahaminya
kalau kekuatan gaib itu mula bekerja di tempat itu, Yunus
segera menyadari bahwa renungan saja tidak akan banyak
membantunya di medan yang tidak biasa ini.

Ia berbaring di tepi sungai, dan menghabiskan seluruh hari
memperhatikan alam, mengintai ikan di sungai, dan
bersembahyang. Satu demi satu lewatlah orang-orang kaya dan
berkuasa, disertai pengiring yang naik kuda bagus-bagus;
terdengar kelinting pakaian kuda menandakan keyakinan jalan
yang ditempuhnya, dan mendengar salam orang-orang itu karena
mereka melihat ikat kepala yang dikenakannya.
Kelompok-kelompok penziarah beristirahat dan mengunyah kue
kering dan keju, dan air liurnya pun semakin mengucur
membayangkan makanan yang paling sederhana.

“Ini hanya ujian, dan semua akan segera berlalu,” pikir
Yunus, ketika ia selesai mengerjakan sembahyang Isya, dan
memulai tepekurnya menurut cara yang pernah diajarkan
kepadanya oleh seorang darwis yang memiliki pandangan tajam
dan luhur dalam mencapai tujuan.

Malam pun berlalu.

Dan Yunus sedang duduk menatap berkas-berkas sinar matahari
yang patah-patah terpantul di Sungai Tigris yang agung,
ketika lima jam sesudah subuh, pada hari kedua, tampak
olehnya sesuatu menyembul-nyembul di antara alang-alang.
Barang itu ternyata sebuah bungkusan daun yang diikat dengan
serabut kelapa.

Yunus, anak Adam, terjun ke sungai dan mengambil benda aneh
itu.

Beratnya sekitar setengah kilogram. Ketika dibukanya
pengikat itu, bau yang sedap menyerang lubang hidungnya.
Yunus mendapat halwa Bagdad. Halwa makanan itu, dibuat dari
cairan buah badam, air mawar madu, dan kacang – dan pelbagai
bahan lain yang berharga – oleh karenanya sangat digemari
karena rasanya yang enak dan khasiatnya yang tinggi bagi
kesehatan. Putri-putri cantik penghuni harem menggigit-
gigitnya karena rasanya yang enak; para prajurit membawanya
ke medan perang karena bisa menimbulkan ketahanan tubuh. Ia
pun bisa dipergunakan untuk mengobati seratus penyakit.

“Keyakinanku terbukti!” kata Yunus. “Dan kini tinggal
mengujinya. Jika ada halwa yang sebesar ini, atau makanan
yang sama, diantarkan kepadaku lewat sungai ini setiap
hari, atau pada waktu-waktu yang teratur, aku akan
mengetahui cara yang ditempuh oleh Sang Pemelihara
untuk memberi makanan padaku. Dan sesudah itu aku bisa
menggunakan akalku untuk mencari sumbernya.”

Tiga hari berturut-turut sesudah itu, pada jam-jam yang
tepat sama, sebungkus halwa terapung menuju ke tempat Yunus.

Ia berkeyakinan kuat bahwa hal itu merupakan penemuan yang
maha penting. Kita sederhanakan saja keadan kita, dan Alam
terus menjalankan tugasnya dengan cara yang kira-kira sama.
Hal itu saja melupakan penemuan yang dirasanya harus
disebarkan ke seluruh dunia. Bukankah sudah dikatakan,
“Kalau kau mengetahui sesuatu, ajarkan itu.” Namun kemudian
disadarinya bahwa ia tidak mengetahui, ia baru mengalami.
Langkah berikutnya yang harus ditempuh adalah mengikuti
jalan halwa itu mudik sampai ia mencapai sumbemya. Tentu ia
nanti tidak hanya mengetahui asal usulnya, tetapi juga cara
bagaimana makanan itu sengaja disediakan untuk dimakannya.

Berhari-hari lamanya Yunus mengikuti alur sungai setiap hari
secara teratur tetapi pada waktu yang semakin lama semakin
awal halwa itu muncul, dan Yunus memakannya.

Akhirnya Yunus melihat bahwa sungai itu bukannya tambah
sempit di udik, tetapi malah melebar. Di tengah-tengah
sungai yang luas itu terdapat sebidang tanah yang amat
subur. Di tanah itu berdiri sebuah istana yang kokoh namun
indah. Dari sanalah, pikirnya, makanan itu berasal.

Ketika ia sedang memikirkan langkah berikutnya Yunus melihat
seorang darwis yang tinggi dan kusut, yang rambutnya kusut
bagaikan pertapa dan pakaiannya bertambal warna-warni,
berdiri dihadapannya.

“Salam, Bapak,” kata Yunus.

“Salam, huuu!” jawab pertapa itu keras. “Apa pula urusanmu
disini?”

“Saya melakukan suatu penyelidikan suci,” anak Adam itu
menjelaskan, “dan saya harus mencapai benteng di seberang
itu untuk menyempurnakannya. Barangkali Bapak mengetahui
akal agar saya bisa kesana?”

“Karena tampaknya kau tak mengetahui apa-apa tentang benda
itu, walaupun aku sendiri menaruh minat padanya,” kata
pertapa itu, “akan kuberi tahu juga kau tentangya.

Pertama-tama, putri seorang raja tinggal di sana, dalam
tawanan dan pembuangan, dijaga oleh sejumlah dayang-dayang
jelita, memang enak, tetapi terbatas juga geraknya. Sang
Putri tidak bisa melarikan diri sebab lelaki yang menangkap
dan memenjarakannya disana -karena Sang Putri menolak
lamarannya- telah mendirikan rintangan-rintangan yang kokoh
tak terlampaui, yang tak tampak oleh mata. Kau harus
mengungguli rintangan-rintangan itu agar bisa memasuki
benteng dan mencapai tujuanmu.”

“Bapak bisa menolong saya?”

“Aku sendiri sedang akan memulai perjalanan khusus demi
pengabdian. Tetapi, kukatakan padamu rahasia sepatah kata,
Wazifa, yang-kalau memang sesuai untuk itu- akan membantumu
mengumpulkan kekuatan gaib para Jin berbudi, makhluk api,
yakni satu-satunya makhluk yang dapat mengungguli kekuatan
sihir yang telah mengunci benteng tersebut. Semoga kau
selamat.” Dan pertapa itupun pergi, setelah mengucapkan
suara-suara aneh berulang-ulang dan bergerak tangkas dan
cekatan, sangat mengagumkan mengingat sosoknya yang patut
dimuliakan itu.

Berhari-hari lamanya Yunus duduk latihan dan memperhatikan
munculnya halwa. Kemudian, pada suatu malam ketika sedang
disaksikannya matahari bersinar-sinar di menara benteng,
tampak olehnya pemandangan yang aneh. Disana, berkilauan
dalam keindahan sorgawi, berdirilah seorang gadis yang
tentunya putri yang dikisahkan itu. Beberapa saat lamanya ia
berdiri menyaksikan matahari, dan kemudian menjatuhkan
sesuatu ke ombak yang mengalun jauh di bawah kakinya -yang
dijatuhkannya itu adalah halwa. Nah, ternyata itulah sumber
langsung karunianya.

“Sumber Makanan Sorga!” teriak Yunus. Kini ia merasa berada
diambang kebenaran. Kapanpun nanti, Pemimpin Jin, yang
dipanggil-panggilnya lewat wazifa darwis, tentu datang, dan
akan dapatlah ia mencapai benteng, putri, dan kebenaran itu.

Tidak berapa lama sesudah pikiran itu melintas di benaknya,
ia merasa dirinya terbawa terbang melewati langit yang
tampaknya seperti kerajaan dongeng, penuh dengan rumah-rumah
yang indah mengagumkan. Ia memasuki salah satu diantaranya,
dan disana berdiri seorang makhluk bagai manusia, yang
sebenarnya bukan manusia: tampaknya masih muda, namun
bijaksana, dan jelas sudah sangat tua. “Hamba,” kata makhluk
itu, “adalah Pemimpin Jin, dan hamba telah membawa Tuan
kemari sesuai dengan permintaan Tuan melalui Nama Agung yang
telah diberikan kepada Tuan oleh Sang Darwis Agung. Apa yang
bisa hamba lakukan untuk Tuan?”

“O Pemimpin Jin yang perkasa,” kata Yunus gemetar, “aku
Pencari Kebenaran,dan jawaban bagi pencarianku itu hanya
bisa aku dapatkan di dalam benteng yang mempesona di dekat
tempatku berdiri ketika kau memanggilku ke mari. Berilah aku
kekuatan untuk memasuki benteng itu dan untuk berbicara
kepada putri yang terkurung di sana.”

“Permohonan dikabulkan!” kata Sang Pemimpin Jin. “Tetapi
ketahuilah, orang mendapatkan jawaban bagi pertanyaannya
sesuai dengan kemampuannya memahami dan persiapannya
sendiri.”

“Kebenaran tetap kebenaran,” kata Yunus, “dan aku akan
mendapatkannya, apa pun juga ujudnya nanti. Berikan anugerah
itu.”

Segera saja Yunus dikirim cepat-cepat dalam keadaan tak
kelihatan (dengan kekuatan sihir Jin), dikawal oleh
sekelompok Jin kecil-kecil sebagai pembantunya, yang oleh
Pemimpinnya diberi tugas mempergunakan kepandaian khususnya
untuk membantu manusia yang sedang mencari kebenaran itu.
Ditangan Yunus ada sebuah batu cermin khusus yang menurut
petunjuk Pemimpinnya diberikan tugas mempergunakan
kepandaian khususnya untuk membantu manusia yang sedang
mencari kebenaran itu. Di tangan Yunus ada sebuah batu
cermin khusus yang menurut petunjuk Pemimpin Jin harus
diarahkan ke benteng untuk melihat rintangan-rintangan yang
tak kelihatan.

Lewat batu itulah anak Adam mengetahui bahwa benteng
tersebut di jaga oleh sederet raksasa, tak tampak tetapi
mengerikan, yang menghantam siapapun yang mendekat. Jin-jin
pembantu yang ahli dalam tugas khusus berhasil menyingkirkan
mereka. Berikutnya Yunus melihat ada semacam jala atau
jaring yang tak kelihatan, yang menutupi seluruh benteng
itu. Itu pun bisa disingkirkan oleh Jin-jin yang memiliki
kccerdikan untuk melaksanakan tugasnya. Akhirnya ada
seonggokan batu besar yang tak kelihatan yang ternyata
memenuhi jarak antara benteng dan tepi sungai. Batu-batu itu
dibongkar semua oleh kelompok Jin tersebut, yang setelah
menjalankan tugas-tugasnya, memberi salam lalu pergi secepat
kilat ke tempat asalnya.

Yunus menyaksikan ada sebuah jembatan yang dengan kekuatan
gaib, muncul dari dasar sungai sehingga ia bisa berjalan
sampai ke benteng itu dengan tetap kaki kering. Seorang
pengawal gerbang langsung membawanya menghadap Sang Putri,
yang kini bahkan tampak lebih elok lagi dari pada dulu
ketika pertama kali tampak.

“Kami sangat berterima kasih pada Tuan karena telah
menghancurkan rintangan yang mengurus benteng ini,” kata
putri itu. “Dan sekarang saya bisa pulang ke ayah dan ingin
sekali memberi hadiah Tuan yang telah bersusah-payah selama
ini. Katakan, sebut apa saja, dan saya akan memberikannya
kepada Tuan.”

“Mutiara tiada tara,” kata Yunus, “hanya ada satu hal yang
saya cari, yakni kebenaran. Karena sudah merupakan kewajiban
siapa pun yang memiliki kebenaran untuk memberikan kepada
siapapun yang bisa memanfaatkannya, saya memohon dengan
sangat, Yang Mulia, agar memberikan kebenaran yang sangat
saya butuhkan.”

“Katakan, dan kebenaran yang bisa saya berikan, akan
sepenuhnya menjadi milik Tuan.”

“Baiklah, Yang Mulia. Bagaimana, dan atas perintah apa
Makanan Sorga, yakni halwa yang setiap harinya Tuan Putri
berikan kepada saya itu, diatur pengirimannya secara
demikian?”

“Yunus, anak Adam,” kata Sang Putri, “halwa, begitu nama
yang kauberikan, yang saya lemparkan setiap hari itu
sebenarnya tak lain sisa-sisa bahan perias yang saya gosok
setelah saya mandi air susu keledai.”

“Akhirnya saya memahami,” kata Yunus, “bahwa pengertian
manusia sesuai dengan syarat kemampuannya untuk mengerti.
Bagi Tuan Putri, itu merupakan sisa bahan perias. Bagi saya,
Makanan Sorga.”

Catatan

Menurut Halqawi (penulis kisah ini), hanya beberapa kisah
Sufi yang bisa dibaca oleh siapapun waktu kapanpun, dan
tetap bisa memberikan perbaikan “kesadaran batin.”

“Hampir semua yang lain,” katanya, “tergantung pada di mana,
kapan, dan bagaimana kisah-kisah itu dipelajari.
Demikianlah, kebanyakan orang akan menemukan hal-hal yang
mereka harapkan: hiburan, teka-teki, ibarat.”

Yunus, anak Adam, adalah orang Suriah, meninggal tahun 1670.
Ia memiliki kekuatan penyembuhan yang luar biasa dan juga
seorang penemu.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: