33. RAKSASA DAN SUFI

7 12 2009

33. RAKSASA DAN SUFI

Seorang ahli sufi yang sedang mengadakan perjalanan lewat
sebuah perbukitan yang terpencil tiba-tiba berhadapan dengan
raksasa–setan tinggi besar, yang akan menghancurkannya.
Sufi itu berkata, “Baik, silahkan mencobanya; tetapi aku
bisa mengalahkanmu, sebab aku sangat perkasa dalam pelbagai
hal, lebih dari yang kau bayangkan.” “Omong kosong,” kata
Raksasa. “Kau ahli Sufi, yang terpikat pada masalah rohani.
Kau tak akan bisa mengalahkan aku, sebab aku memiliki
kekuatan badaniah, aku tiga puluh kali lebih besar darimu.”

“Kalau kau menginginkan uji kekuatan,” kata Sufi, “ambil
batu ini dan perahlah air darinya.” Ia memungut sebutir batu
kecil lalu memberikannya kepada Si Setan. Setelah berusaha
sekuat tenaga, Raksasa itu menyerah. “Tak mungkin; tak ada
air dalam batu ini. Coba tunjukkan kalau memang ada airnya.”
Dalam keremang-remangan, Sang Sufi mengambil batu itu, juga
mengambil sebutir telur dari kantungnya, lalu memerah
keduanya, meletakkan tangannya di atas tangan Raksasa. Sang
Raksasa sangat terkesan; sebab orang memang suka terkesan
oleh hal-hal yang tidak dipahami, dan menghargainya
tinggi-tinggi, lebih tinggi dari yang seharusnya mereka
berikan.

“Aku harus memikirkan hal ini,” katanya. “Mari kuajak kau ke
guaku, dan akan kujamu kau malam ini.” Sang Sufi
mengikutinya masuk ke sebuah gua yang sangat besar, penuh
dengan barang-barang milik para pengembara tersesat yang
sudah dibunuh, benar-benar merupakan gua Aladin.
“Berbaringlah disebelahku, dan tidurlah,” kata Si Setan,
“besok aku akan rnemberikan keputusan.” Iapun membaringkan
dirinya dan segera tertidur.

Sang Sufi, yang secara naluri mengetahui adanya bahaya
pengkhianatan, segera merasa harus bangkit dan
menyembunyikan diri ditempat yang agak jauh dari Raksasa.
Itu dilakukannya sesudah mengatur tempat pembaringannya
tadi, agar seolah-olah nampak ia masih tidur disamping Si
Raksasa

Tidak lama setelah ia pindah tempat itu, Si Raksasa pun
bangun. Ia mengambil sebuah batang pohon, menghajar Ahli
Sufi yang dikiranya masih tidur disebelahnya itu dengan
tujuh pukulan yang sangat kuat. Lalu ia berbaring lagi,
langsung tidur. Sang Sufi kembali ketempat tidurnya semula,
berbaring lalu memanggil Raksasa.

“O Raksasa, guamu ini sangat menyenangkan, tetapi aku baru
saja digigit nyamuk tujuh kali. Kau harus menyingkirkan
nyamuk itu.”

Hal ini tentu saja sangat mengejutkan Raksasa sehingga ia
tidak berani lagi menyerang Sang Sufi. Bagaimanapun, kalau
seorang telah dipukul tujuh kali dengan sebuah batang pohon
oleh Raksasa yang menggunakan tenaga sekuat-kuatnya…

Paginya, Si Raksasa memberikan kantong kulit lembu kepada
Sang Sufi, katanya, “Ambil air untuk makan pagi, agar kita
bisa membuat teh.” Sang Sufi tidak mengambil kantong itu
(yang begitu besar sehingga diangkatpun sulit), tetapi pergi
menuju ke sebuah sungai kecil untuk menggali saluran air
kecil ke arah gua. Si Raksasa menjadi haus, “Kenapa tak kau
bawa air?”

“Sabar, Sobat, saya sedang membuat saluran tetap menuju
mulut gua, agar nantinya kau tak usah membawa-bawa kantong
berat itu untuk mengambil air.” Tetapi Raksasa itu terlalu
haus dan tak sabar menanti. Diambilnya kantong kulit itu,
lalu ia menuju ke sungai mengisinya dengan air. Ketika teh
sudah tersedia, ia meminum beberapa galon, dan pikirannya
mulai menjadi agak jernih. “Kalau kau memang kuat –dan kau
memang telah membuktikannya– kenapa tak bisa kau gali
saluran itu secara cepat, tetapi sejengkal demi sejengkal?”

“Sebab,” kata Sang Sufi, “tak ada hal yang sungguh-sungguh
berharga bisa dikerjakan tanpa penggunaan tenaga sesedikit
mungkin. Setiap hal menuntut penggunaan tenaga
sendiri-sendiri; dan saya menggunakan tenaga sesedikit
mungkin untuk menggali saluran. Disamping itu, aku tahu
bahwa kau begitu terbiasa menggunakan kantong kulit itu
sehingga tidak bisa meninggalkan kebiasaanmu.”

Catatan

Kisah ini sering terdengar di warung-warung di Asia Tengah,
dan menyerupai cerita rakyat di Eropa pada abad pertengahan.
Versi ini berasal dari suatu Majmua (kumpulan kisah darwis)
yang aslinya ditulis oleh Hikayati pada abad kesebelas,
menurut kolofon, tetapi dalam bentuknya yang kita baca ini
ia berasal dari abad ke enam belas.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: