29. SI PENUNGGANG KUDA DAN ULAR

7 12 2009

29. SI PENUNGGANG KUDA DAN ULAR

Ada sebuah pepatah yang mengatakan, “sangkalan” orang
berpengetahuan lebih berharga daripada, “dukungan” si bodoh.

Aku, Salim Abdali, bersaksi bahwa hal itu benar dalam
jangkauan pengalaman yang lebih agung, juga benar dalam
taraf pengalaman yang lebih rendah.

Hal ini terwujud dalam kebiasaan Sang Bijak, yang telah
menurunkan kisah Si Penunggang Kuda dan Ular.

Seorang Penunggang kuda, dari suatu tempat yang aman,
melihat ada seekor ular menyusup ke dalam tenggorokan
seseorang lagi tidur. Penunggang kuda itu menyadari bahwa
apabila orang itu dibiarkannya terus tidur, tentulah racun
ular tersebut akan mematikannya

Oleh karena itu ia mencambuk Si Tidur sampai terbangun.
Karena mendesaknya waktu, ia pun memaksa orang itu pergi
ketempat yang terdapat sejumlah buah apel yang busuk, dan
memaksanya memakan buah-buah busuk itu. Setelah itu, Si
Penunggang Kuda, memaksanya minum air sungai
sebanyak-banyaknya.

Selama itu, orang tersebut selalu berusaha melepaskan diri,
tangisnya, “Apa dosaku, hai kemanusiaan, sehingga aku kau
siksa begini kejam?”

Akhirnya, ketika ia hampir lemas, dan sore hari tiba, lelaki
itu jatuh ke tanah dan memuntahkan buah apel, air, dan ular
tadi. Ketika diketahuinya apa yang telah dimuntahkannya, ia
memahami apa yang telah terjadi, dan mohon maaf kepada Si
Penunggang Kuda.

Ini syaratnya. Dalam membaca kisah ini, jangan mengelirukan
sejarah untuk ibarat, atau ibarat untuk sejarah. Mereka yang
dianugerahi pengetahuan memiliki kewajiban. Mereka yang
tidak berpengetahuan, tidak memiliki apapun di balik apa
yang bisa mereka terka-terka.

Orang yang di tolong itu mengatakan, “Kalau tadi kau
mengatakan hal itu, tentu saya terima perlakuanmu itu dengan
rasa terima kasih.”

Si Penunggang Kuda menjawab, “Kalau tadi kukatakan hal itu,
tentu kau tidak percaya Atau kau menjadi kejang ketakutan.
Atau kau lari pontang-panting. Atau malah tidur lagi.”

Sambil memacu kudanya, orang yang diliputi rahasia itu
segera berlalu.

Catatan

Salim Abdali (1700-1765) menyebabkan para Sufi menerima
caci-maki dari pada cerdik-cendekia yang sebelumnya tak
pernah terjadi karena pernyataannya bahwa seorang Sufi ulung
bisa mengetahui ketidakberesan seseorang, dan mungkin harus
bertindak cepat dan dengan cara yang tampaknya bertentangan
dengan seharusnya dilakukan untuk menolong orang itu, dan
oleh karenanya bisa menimbulkan kemarahan orang-orang yang
sebenarnya tidak mengetahui apa yang ia lakukan

Kisah ini dikutip oleh Abdali dari Rumi. Bahkan kini,
mungkin tidak banyak orang mau menerima pernyataan yang
tersirat dalam kisah ini. Namun, pernyataan semacam itu
telah diterima oleh semua Sufi, dalam bentuk yang
berbeda-beda. Dalam komentarnya terhadap hal ini, guru Sufi
Haidar Gul hanya mengatakan, ada batas tertentu, yang
apabila dilanggar menyebabkan keburukan bagi manusia, yakni
menyembunyikan kebenaran hanya agar tidak menyinggung
perasaan mereka yang dipikirannya tertutup.”


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: