26. KISAH PASIR

7 12 2009

26. KISAH PASIR

Dari mata airnya yang nun jauh di gunung sana, sebatang
sungai mengalir melewati apapun di tebing dan ngarai,
akhirnya mencapai padang pasir. Selama ini ia telah berhasil
mengatasi halangan apapun dan sekarang berusaha menaklukkan
halangan yang satu ini. Tetapi setiap kali sungai itu
cepat-cepat melintasinya, airnya segera lenyap di pasir.

Sungai itu sangat yakin, bahwa ia ditakdirkan melewati
padang pasir itu, namun ia tidak bisa mengatasi masalahnya
Lalu, terdengar suara tersembunyi yang berasal dari padang
pasir itu, bisiknya, “Angin bisa menyeberangi pasir, Sungai
pun bisa.”

Sungai menolak pernyataan itu, ia sudah cepat-cepat
menyeberangi padang pasir, tetapi airnya terserap: angin
bisa terbang, dan oleh karena itulah ia bisa menyeberangi
padang pasir.

“Dengan menyeberang seperti yang kulakukan itu jelas, kau
tak akan berhasil. Kau hanya akan lenyap atau jadi
paya-paya. Kau harus mempersilahkan angin membawamu
menyeberangi padang pasir, ketempat tujuan.”

Tetapi bagaimana caranya? “Dengan membiarkan dirimu terserap
angin.”

Gagasan itu tidak bisa diterima Si Sungai. Bagaimanapun,
sebelumnya ia sama sekali tidak pernah terserap. Ia tidak
mau kehilangan dirinya. Dan kalau dirinya itu lenyap, apakah
bisa dipastikan akan didapatnya kembali?

“Angin,” kata Si Pasir, “menjalankan tugas semacam itu. Ia
membawa air, membawanya terbang menyeberang padang pasir,
dan menjatuhkannya lagi. Jatuh ke bumi sebagai hujan, air
pun menjelma sungai.”

“Bagaimana aku bisa yakin bahwa itu benar?”

“Memang benar, dan kalau kau tak mempercayainya, kau hanya
akan menjadi paya-paya; dan menjadi paya-paya itupun
memerlukan waktu bertahun-tahun berpuluh tahun. Dan
paya-paya itu jelas tak sama dengan sungai, bukan?”

“Tapi, tak dapatkah aku tetap berupa sungai, sama dengan
keadaanku kini?”

“Apapun juga yang terjadi, kau tidak akan bisa tetap berupa
dirimu kini,” bisik suara itu. “Bagian intimu terbawa
terbang, dan membentuk sungai lagi nanti. Kau disebut sungai
juga seperti kini, sebab kau tak tahu bagian dirimu yang
mana inti itu.”

Mendengar hal itu, dalam pikiran Si Sungai mulai muncul
gema. Samar-samar, ia ingat akan keadaan ketika ia –atau
bagian dirinya? –berada dalam pelukan angin. Ia juga
ingat– benar demikiankah? bahwa hal itulah yang nyatanya
terjadi, bukan hal yang harus terjadi.

Dan sungai itu pun membubungkan uapnya ke tangan-tangan
angin yang terbuka lebar, dan yang kemudian dengan tangkas
mengangkatnya dan menerbangkannya, lalu membiarkannya
merintik lembut segera setelah mencapai atap gunung –nun
disana yang tak terkira jauhnya. Dan karena pernah meragukan
kebenarannya, sungai itu ini bisa mengingat-ingat dan
mencatat lebih tandas pengalamannya secara terperinci. Ia
merenungkannya, “Ya, kini aku mengenal diriku yang
sebenarnya.”

Sungai itu telah mendapat pelajaran. Namun Sang Pasir
berbisik, “Kami tahu sebab kami menyaksikannya hari demi
hari; dan karena kami, pasir ini, terbentang mulai dari tepi
pasir sampai ke gunung.”

Dan itulah sebabnya mengapa dikatakan bahwa cara Sungai
Kehidupan melanjutkan perjalanannya tertulis di atas Pasir.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: