18. SI LUMPUH DAN SI BUTA

7 12 2009


18. SI LUMPUH DAN SI BUTA

Pada suatu hari seorang lumpuh pergi ke sebuah warung dan
duduk disamping seseorang yang sudah sejak tadi disana.
“Saya tidak bisa datang ke pesta Sultan,” keluhnya, karena
kakiku yang lumpuh sebelah ini aku tak bisa berjalan cepat.”

Orang disebelahnya itu mengangkat kepalanya. “Saya pun di
undang,” katanya, “tetapi keadaanku lebih buruk dari
Saudara. Saya buta, dan tak bisa melihat jalan, meskipun
saya juga diundang.”

Orang ketiga, yang mendengar percakapan kedua orang itu,
berkata, “Tetapi, kalau saja kalian menyadarinya, kalian
berdua mempunyai sarana untuk mencapai tujuan. Yang buta
bisa berjalan, yang lumpuh didukung di pungung. Kalian bisa
menggunakan kaki si Buta, dan Si Lumpuh untuk menunjukkan
jalan.”

Dengan cara itulah keduanya bisa mencapai tujuan, dan pesta
sudah menanti.

Dalam perjalanan, keduanya sempat berhenti di sebuah warung
lain. Mereka menjelaskan keadaannya kepada dua orang lain
yang duduk bersedih disana. Kedua orang itu, yang seorang
tuli, yang lain bisu. Keduanya juga diundang ke pesta. Yang
bisu mendengar, tetapi tidak bisa menjelaskannya kepada
temannya yang tuli itu. Yang tuli bisa bicara, tetapi tidak
ada yang bisa dikatakannya.

Kedua orang itu tak ada yang bisa datang ke pesta; sebab
kali ini tak ada orang ketiga yang bisa menjelaskan kepada
mereka bahwa ada masalah, apalagi bagaimana cara mereka
memecahkan masalah itu.

Catatan

Dikisahkan bahwa Abdul Kadir yang Agung meninggalkan sebuah
jubah Sufi yang bertambal-tambal untuk diberikan kepada
calon pemakainya yang baru akan lahir enam ratus tahun
setelah kematian Sufi Agung itu.

Pada tahun 1563, Sayid Iskandar Syah, Qadiri, setelah
mendapat kepercayaan ini, menunjuk Syeh Ahmad Faruk dari
Sirhind sebagai pewaris mantel itu.

Guru Naqshibandi ini telah ditahbiskan menjadi anggota enam
belas Kaum Sufi oleh ayahnya, yang telah mencari dan
membangkitkan kembali adat dan pengetahuan Sufisme sepanjang
pengembaraannya yang jauh dan berbahaya.

Orang percaya bahwa Sirhind merupakan tempat yang ditentukan
munculnya Guru Agung, dan turun-temurun orang-orang suci
telah menanti perwujudan itu.

Sebagai akibat dari munculnya Faruqi dan penerimaannya oleh
semua Kaum pada masanya, Kaum Naqshibandi kini meresmikan
pengikut-pengikutnya menjadi empat jalur utama dalam
Sufisme: Chishti, Qadiri, Suhrawardi, dan Naqshibandi.

“Si Lumpuh dan Si Buta” dianggap sebagai ciptaan Syeh Ahmad
Faruk, yang meninggal tahun 1615. Kisah ini baru boleh
dibaca setelah menerima perintah untuk membacanya: atau oleh
mereka yang telah mempelajari Karya Hakim Sanai,
“Orang-orang Buta dan Gajah.”


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: