11. ORANG YANG BERJALAN DI ATAS AIR

6 12 2009

11. ORANG YANG BERJALAN DI ATAS AIR

Seorang darwis yang suka berpegang pada kaidah, yang berasal

dari mazhab sangat saleh, pada suatu hari berjalan menyusur

tepi sungai. Ia memusatkan perhatian pada pelbagai masalah

moral dan ajaran, sebab itulah yang menjadi pokok perhatian

pengajaran Sufi dalam mazhabnya. Ia menyamakan agama

perasaan dengan pencarian Kebenaran mutlak.

Tiba-tiba renungannya terganggu oleh teriakan keras:

seseorang terdengar mengulang-ngulang suatu ungkapan darwis.

“Tak ada gunanya itu,” katanya kepada diri sendiri, “sebab

orang itu telah salah mengucapkannya. Seharusnya

diucapkannya YA-HU, tapi dia mengucapkannya U-YA-HU.”

Kemudian ia menyadari bahwa, sebagai Darwis yang lebih

teliti, ia mempunyai kewajiban untuk meluruskan ucapan orang

itu. Mungkin orang itu tidak pernah mempunyai kesempatan

mendapat bimbingan yang baik, dan karenanya telah berbuat

sebaik-baiknya untuk menyesuaikan diri dengan gagasan yang

ada di balik suara yang diucapkannya itu.

Demikianlah Darwis yang pertama itu menyewa perahu dan pergi

ke pulau di tengah-tengah arus sungai, tempat asal suara

yang didengarnya tadi.

Didapatinya orang itu duduk disebuah gubuk alang-alang,

bergerak-gerak sangat sukar teratur mengikuti ungkapan yang

diucapkannya itu. “Sahabat,” kata darwis pertama, “Anda

keliru mengucapkan ungkapan itu. Saya berkewajiban

memberitahukan hal ini kepada Anda, sebab ada pahala bagi

orang yang memberi dan menerima nasehat. Inilah ucapan yang

benar.” Lalu di beritahukannya ucapan itu.

“Terima kasih,” kata darwis yang lain itu dengan rendah

hati.

Darwis pertama turun ke perahunya lagi, sangat puas, sebab

baru saja berbuat amal. Bagaimanapun, kalau orang bisa

mengulang-ngulang ungkapan rahasia itu dengan benar, ada

kemungkinan bisa berjalan diatas air. Hal itu memang belum

pernah disaksikannya sendiri tetapi –berdasarkan alasan

tertentu– darwis pertama itu ingin sekali bisa melakukannya.

Kini ia tak mendengar lagi suara gubuk alang-alang itu,

namun ia yakin bahwa nasehatnya telah dilaksanakan

sebaik-baiknya.

Kemudian didengarnya kembali ucapan U-YA yang keliru itu

ketika darwis yang di pulau tersebut mulai mengulang-ngulang

ungkapannya.

Ketika darwis pertama merenungkan hal itu, memikirkan betapa

manusia memang suka bersikeras mempertahankan kekeliruan,

tiba-tiba disaksikannya pandangan yang menakjubkan. Dari

arah pulau itu, darwis kedua tadi tampak menuju perahunya,

berjalan diatas air.

Karena takjubnya, ia pun berhenti mendayung. Darwis keduapun

mendekatinya, katanya, “Saudara, maaf saya mengganggu Anda.

Saya datang untuk menanyakan cara yang benar untuk

mengucapkan ungkapan yang Anda beritahukan kepada saya tadi;

sulit benar rasanya mengingat-ingatnya.”

Catatan

Dalam Bahasa Indonesia, hanya satu arti yang bisa

diungkapkan oleh kisah ini. Dalam versi Arab sering

dipergunakan kata-kata yang bunyinya sama tetapi berbeda

arti (homonim) untuk menyatakan bahwa kata itu bisa

dipergunakan untuk memperdalam kesadaran, disamping juga

menunjukkan sesuatu yang nilainya dangkal.

Di samping terdapat dalam sastra masa kini yang populer di

Timur, kisah ini juga didapati dalam naskah-naskah pelajaran

darwis, beberapa diantaranya sangat penting.

Versi ini berasal dan Kaum Asaaseen (‘hakiki,’ ‘asli’), di

Timur Dekat dan Tengah.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: