10. BATAS DOGMA

6 12 2009

10. BATAS DOGMA

Pada suatu hari, Sultan Mahmud yang Agung berada dijalan di

Ghazna, ibu kota negerinya. Dilihatnya seorang kuli

mengangkut beban berat, yakni sebungkah batu yang didukung

di punggungnya. Karena rasa kasihan terhadap kuli itu,

Mahmud tidak bisa menahan perasaannya, katanya memerintah:

“Jatuhkan batu itu, kuli.”

Perintah itupun langsung dilaksanakan. Batu tersebut berada

di tengah jalan, merupakan gangguan bagi siapapun yang ingin

lewat, bertahun-tahun lamanya. Akhirnya sejumlah warga

memohon raja agar memerintahkan orang memindahkan batu itu.

Namun Mahmud, menyadari akan kebijaksanaan administratif,

terpaksa menjawab.

“Hal yang sudah dilaksanakan berdasarkan perintah, tidak

bisa dibatalkan oleh perintah yang sama derajatnya. Sebab

kalau demikian, rakyat akan beranggapan bahwa perintah raja

hanya berdasarkan kehendak sesaat saja. Jadi, biar saja batu

itu disitu.”

Oleh karenanya batu tersebut tetap berada di tengah jalan

itu selama masa pemerintahan Mahmud. Bahkan ketika ia

meninggal batu itu tidak dipindahkan, karena orang-orang

masih menghormati perintah raja.

Kisah itu sangat terkenal. Orang-orang mengambil maknanya

berdasarkan salah satu dari tiga tafsiran, masing-masing

sesuai dengan kemampuannya.

Mereka yang menentang kepenguasaan beranggapan bahwa kisah

itu merupakan bukti ketololan penguasa yang berusaha

mempertahankan kekuasaannya.

Mereka yang menghormati kekuasaan merasa hormat terhadap

perintah, betapapun tidak menyenangkannya.

Mereka yang bisa menangkap maksudnya yang benar, bisa

memahami nasehat yang tersirat. Dengan menyuruh menjatuhkan

batu di tempat yang tidak semestinya sehingga merupakan

gangguan, dan kemudian membiarkannya berada disana, Mahmud

mengajar kita agar mematuhi penguasa duniawi -dan sekaligus

menyadarkan kita bahwa siapapun yang memerintah berdasarkan

dogma kaku, tidak akan sepenuhnya berguna bagi kemanusiaan.

Mereka yang menangkap makna ini akan mencapai taraf pencari

kebenaran, dan akan bisa menambah jalan menuju Kebenaran.

Catatan

Kisah ini muncul dalam karya klasik yang terkenal,

Akhlaq-i-Mohsini ‘Akhlak Dermawan,’ ciptaan Hasan Waiz

Kashifi; hanya saja tanpa tafsir seperti yang ada dalam

versi ini.

Versi ini merupakan bagian ajaran syeh Sufi Daud dari

Qandahar, yang meninggal tahun 1965. Kisah ini merupakan

pengungkapan yang bagus tentang pelbagai taraf pemahaman

terhadap tindakan; masing-masing orang akan menilainya

berdasarkan pendidikannya. Metode penggambaran tak langsung

yang dipergunakan Sultan Mahmud itu dianut pada Sufi, dan

bisa diringkaskan dalam ungkapan, “Bicaralah kepada dinding,

agar pintu bisa mendengar.”


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: