08. KISAH API

6 12 2009

08. KISAH API

Pada zaman dahulu ada seorang yang merenungkan cara

bekerjanya Alam, dan karena ketekunan dan percobaan-

percobaannya, akhirnya ia menemukan bagaimana api diciptakan.

Orang itu bernama Nur. Ia memutuskan untuk berkelana dari

satu negeri ke lain negeri, menunjukkan kepada rakyat banyak

tentang penemuannya.

Nur menyampaikan rahasianya itu kepada berbagai-bagai

kelompok masyarakat. Beberapa di antaranya ada yang

memanfaatkan pengetahuan itu. Yang lain mengusirnya, mengira

bahwa ia mungkin berbahaya, sebelum mereka mempunyai waktu

cukup untuk mengetahui betapa berharganya penemuan itu bagi

mereka. Akhirnya, sekelompok orang yang menyaksikannya

memamerkan cara pembuatan api menjadi begitu ketakutan

sehingga mereka menangkapnya dan kemudian membunuhnya, yakin

bahwa ia setan.

Abad demi abad berlalu. Bangsa pertama yang belajar tentang

api telah menyimpan rahasia itu untuk para pendeta, yang

tetap berada dalam kekayaan dan kekuasaan, sementara rakyat

kedinginan.

Bangsa kedua melupakan cara itu, dan malah memuja alat-alat

untuk membuatnya. Bangsa yang ketiga memuja patung yang

menyerupai Nur, sebab ialah yang telah mengajarkan hal itu.

Yang keempat tetap menyimpan kisah api dalam kumpulan

dongengnya: ada yang percaya, ada yang tidak. Bangsa yang

kelima benar-benar mempergunakan api, dan itu bisa

menghangatkan mereka, menanak makanan mereka, dan

mempergunakannya untuk membuat alat-alat yang berguna bagi

mereka.

Setelah berpuluh-puluh tahun lamanya, seorang bijaksana dan

beberapa pengikutnya mengadakan perjalanan melalui

negeri-negeri bangsa-bangsa tadi. Para pengikut itu

tercengang melihat bermacam-macamnya upacara yang dilakukan

bangsa-bangsa itu; dan mereka pun berkata kepada gurunya,

“Tetapi semua kegiatan itu nyatanya berkaitan dengan

pembuatan api, bukan yang lain. Kita harus mengubah mereka

itu!”

Sang Guru menjawab, “Baiklah. Kita akan memulai lagi

perjalanan ini. Pada akhir perjalanan nanti, mereka yang

masih bertahan akan mengetahui masalah kebenarannya dan

bagaimana mendekatinya.”

Ketika mereka sampai pada bangsa yang pertama rombongan itu

diterima dengan suka hati. Para pendeta mengundang mereka

menghadiri upacara keagamaan, yakni pembuatan api. Ketika

upacara selesai, dan bangsa itu sedang mengagumi apa yang

mereka saksikan, guru itu berkata, “Apa ada yang ingin

mengatakan sesuatu?”

Pengikut pertama berkata, “Demi Kebenaran, saya merasa harus

menyampaikan sesuatu kepada rakyat ini.”

“Kalau kau mau melakukannya atas tanggungan sendiri,

silahkan saja,” kata gurunya.

Dan pengikut pertama itupun melangkah ke muka kehadapan

pemimpin bangsa dan para pendeta itu, lalu katanya, “Aku

bisa membuat keajaiban yang kalian katakan sebagai

perwujudan kekuatan dewa itu. Kalau aku kerjakan hal itu,

maukah kalian menerima kenyataan bahwa bertahun-tahun

lamanya kalian telah tersesat?”

Tetapi para pendeta itu berteriak, “Tangkap dia!” dan orang

itu pun dibawa pergi, tak pernah muncul kembali.

Para musafir itu melanjutkan perjalanan, dan sampai di

negeri bangsa yang kedua dan memuja alat-alat pembuatan api.

Ada lagi seorang pengikut yang memberanikan diri mencoba

menyehatkan akal bangsa itu.

Dengan izin gurunya ia berkata, “Saya mohon izin untuk

berbicara kepada kalian semua sebagai bangsa yang berakal.

Kalian memuja alat-alat untuk membuat sesuatu, dan bukan

hasil pembuatan itu. Dengan demikian kalian menunda

kegunaannya. Saya tahu kenyataan yang mendasari upacara

ini.”

Bangsa itu terdiri dari orang-orang yang lebih berakal.

Tetapi mereka berkata kepada pengikut kedua itu, “Saudara

diterima baik sebagai musafir dan orang asing di antara

kami. Tetapi, sebagai orang asing, yang tak mengenal sejarah

dan adat kami, Saudara tak memahami apa yang kami kerjakan.

Saudara berbuat kesalahan. Barangkali Saudara malah berusaha

membuang atau mengganti agama kami. Karena itu kami tidak

mau mendengarkan Saudara.”

Para musafir itu pun melanjutkan perjalanan.

Ketika mereka sarnpai ke negeri bangsa ke tiga, mereka

menyaksikan di depan setiap rumah terpancang patung Nur,

orang pertama yang membuat api. Pengikut ketiga berkata

kepada pemimpin besar itu.

“Patung itu melambangkan orang, yang melambangkan kemampuan,

yang bisa dipergunakan.”

“Mungkin begitu,” jawab para pemuja Nur, “tetapi yang bisa

menembus rahasia sejati hanya beberapa orang saja.”

“Hanya bagi beberapa orang yang mau mengerti, bukan bagi

mereka yang menolak menghadapi kenyataan,” kata pengikut

ketiga itu.

“Itu bid’ah kepangkatan, dan berasal dari orang yang bahkan

tak bisa mempergunakan bahasa kami secara benar, dan bukan

pendeta yang ditahbiskan menurut adat kami,” kata

pendeta-pendeta itu. Dan pengikut darwis itupun bisa

melanjutkan usahanya.

Musafir itu melanjutkan perjalanannya, dan sampai di negeri

bangsa keempat. Kini pengikut keempat maju ke depan

kerumunan orang.

“Kisah pembuatan api itu benar, dan saya tahu bagaimana

melaksanakannya,” katanya.

Kekacauan timbul dalam bangsa itu, yang terpecah menjadi

beberapa kelompok. Beberapa orang berkata, “Itu mungkin

benar, dan kalau memang demikian, kita ingin mengetahui

bagaimana cara membuat api.” Ketika orang-orang ini diuji

oleh Sang Guru dan pengikutnya, ternyata sebagian besar

ingin bisa membuat api untuk kepentingan sendiri saja, dan

tidak menyadari bahwa bisa bermanfaat bagi kemajuan

kemanusiaan. Begitu dalamnya dongeng-dongeng keliru itu

merasuk ke dalam pikiran orang-orang itu sehingga mereka

yang mengira dirinya mewakili kebenaran sering merupakan

orang-orang yang goyah, yang tidak akan juga membuat api

bahkan setelah diberi tahu caranya.

Ada kelompok lain yang berkata, “jelas dongeng itu tidak

benar. Orang itu hanya berusaha membodohi kita, agar ia

mendapat kedudukan di sini.”

Dan kelompok lain lagi berkata, “Kita lebih suka dongeng itu

tetap saja begitu, sebab ialah menjadi dasar keutuhan bangsa

kita. Kalau kita tinggalkan dongeng itu, dan kemudian

ternyata penafsiran baru itu tak ada gunanya, apa jadinya

dengan bangsa kita ini?”

Dan masih banyak lagi pendapat di kalangan mereka.

Rombongan itu pun bergerak lagi, sampai ke negeri bangsa

yang kelima; di sana pembuatan api dilakukan sehari-hari,

dan orang-orang juga sibuk melakukan hal-hal lain.

Sang Guru berkata kepada pengikut-pengikutnya,

“Kalian harus belajar cara mengajar, sebab manusia tidak

ingin diajar. Dan sebelumnya, kalian harus mengajar mereka

bahwa masih ada saja hal yang harus dipelajari. Mereka

membayangkan bahwa mereka siap belajar. Tetapi mereka ingin

mempelajari apa yang mereka bayangkan harus dipelajari,

bukan apa yang pertama-tama harus mereka pelajari. Kalau

kalian telah mempelajari ini semua, kalian baru bisa

mengatur cara mengajar. Pengetahuan tanpa kemampuan istimewa

untuk mengajarkannya tidak sama dengan pengetahuan dan

kemampuan.”

Catatan

Untuk menjawab pertanyaan “Apakah orang barbar itu?” Ahmad

al-Badawi (meninggal tahun 1276) berkata,

“Seorang barbar adalah manusia yang daya pahamnya begitu

tumpul sehingga ia mengira bisa mengerti dengan memikirkan

atau merasakan sesuatu yang hanya dipahami lewat

pengembangan dan penerapan terus-menerus terhadap usaha

mencapai Tuhan.

Manusia menertawakan Musa dan Yesus, atau karena mereka

sangat tumpul, atau karena mereka telah menyembunyikan diri

mereka sendiri apa yang dimaksudkan mereka itu ketika mereka

berbicara dan bertindak.”

Menurut cerita darwis, ia dituduh menyebarkan Kristen dan

orang Islam, tetapi ditolak oleh orang-orang Kristen karena

menolak dogma Kristen lebih lanjut secara harafiah.

Ia pendiri kaum Badawi Mesir.


Aksi

Information

2 responses

6 12 2009
Red
6 12 2009
Ki Semar

Hallo Red, Gimana kabarnya Bandung.
Salam kenal balik dari aku, dan trims kamu mau ngasih coretan di pondokku.

Salam: Ki Semar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: