03. AIR SORGA

6 12 2009

03. AIR SORGA

Haris seorang Badawi, dan istrinya Nafisa hidup

berpindah-pindah tempat membawa tendanya yang tua. Dicarinya

tempat-tempat yang ditumbuhi beberapa kurma, rumputan untuk

untanya, atau yang mengandung sumber air betapapun kotornya.

Kehidupan semacam itu telah dijalani bertahun-tahun lamanya,

dan Haris jarang sekali melakukan sesuatu di luar

kebiasaannya. Ia biasa menjerat tikus untuk diambil

kulitnya, dan memintal tali dari serat pohon kurma untuk di

jual kepada kafilah yang lewat.

Namun, pada suatu hari sebuah sumber air muncul di padang

pasir, dan Haris pun mencicipi air itu. Baginya air itu

terasa bagaikan air sorga, sebab jauh lebih bersih dari air

yang biasa diminumnya. Bagi kita, air itu akan terasa

memuakkan karena sangat asin. “Air ini,” katanya, “harus aku

bawa keseseorang yang bisa menghargainya.”

Karena itulah ia berangkat ke Bagdad, ke Istana Harun

al-Rasyid; ia pun berjalan tanpa berhenti kecuali kalau

makan beberapa butir kurma. Haris membawa dua kantong kulit

kambing penuh berisi air: satu untuk dirinya sendiri, yang

lain untuk Sang Kalifah.

Beberapa hari kemudian, ia mencapai Bagdad, dan langsung

menuju istana. Para penjaga istana mendengarkan kisahnya dan

hanya karena begitulah aturan di istana mereka membawa Haris

ke hadapan Raja.

“Pemimpin Kaum yang Setia,” kata Haris, “Hamba seorang

Badawi miskin, dan mengetahui segala macam air di padang

pasir, meskipun mungkin hanya mengetahui sedikit tentang

hal-hal lain. Hamba baru saja menemukan Air Sorga ini, dan

menyadari bahwa ini merupakan hadiah yang sesuai untuk Tuan,

hamba pun segera membawanya kemari sebagai persembahan.”

Harun Sang Terus terang mencicipi air itu dan, karena ia

sepenuhnya memahami rakyatnya, diperintahkannya para penjaga

membawa pergi Haris dan mengurungnya di suatu tempat sampai

ia mengambil keputusan. Kemudian dipanggilnya kepala

penjaga, katanya, “Apa yang bagi kita sama sekali tak

berguna, baginya berarti segala-galanya. Oleh karena itu

bawalah ia pergi dari istana pada malam hari. Jangan sampai

ia melihat Sungai Tigris yang perkasa itu. Kawal orang itu

sepanjang perjalanan menuju tendanya tanpa memberinya

kesempatan mencicipi air segar. Kemudian berilah ia seribu

mata uang emas dan terima kasihku untuk persembahannya itu.

Katakan bahwa ia adalah penjaga air sorga, dan bahwa atas

namaku ia boleh membagikan air itu kepada kafilah yang lalu,

tanpa pungutan apapun.

Catatan

Kisah ini juga dikenal sebagai “Kisah tentang Dua Dunia.”

Kisah ini disampaikan oleh Abu al-Atahiya dan suku Aniza

(sezaman dengan Harun al-Rasyid dan pendiri Darwis Mashkara

(‘Suka Ria’) yang namanya di abadikan dalam istilah Mascara

dalam bahasa-bahasa Barat. Pengikutnya tersebar sampai

Spanyol, Perancis. dan negen-negeri lain.

Al-Atahiya disebut sebagai “Bapak puisi suci Sastra Arab.”

Ia meninggal tahun 828.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: