Buya Hamka: Ahmadiyah Qadian dan Lahore

1 12 2009

Buya Hamka menjawab pertanyaan orang tentang Ahmadiyah Qadian dan Lahore

Assalamualaikum wr.wb.

Saudara-saudara para hadirin hadirat yang berbahagia,

Dalam membicarakan persolan Da’watul Islam masa sekarang , seorang
kolumnis terkemuka H. Rosihan Anwar mengatakan: “Kita harus berani
memeriksa diri sendiri, baik sebagai individu ataupun sebagai anggota
daripada suatu organisasi Islam.” Dan untuk melakukan koreksi itu a.l.
ia katakan lagi : “Adakah saya cukup bertoleransi terhadap ummat yang
bukan Islam?”…. (Gema Islam no:11 halaman 11, kolom 1).

Apa yang dikatakan Rosihan Anwar ini tepat sekali untuk direnungkan
dalam-dalam sebelum kita melaksanakan da’watul Islam….amar ma’ruf nahi
munkar……Jika terhadap golongan sesama Islam saja, Buya Hamka belum
sanggup memperlihatkan toleransinya , bagaimanakah dapat diharapkan
bahwa Buya dan juga Ulama-Ulama pengikut beliau ini akan sanggup
bertoleransi kepada ummat-ummat yang bukan Islam? Entahlah kalau mereka
bisa bertoleransi secara pura-pura….yakni toleransi yang hanya mereka
berikan kepada golongan-golongan yang kuat diantara ummat-ummat yang
bukan Islam. Tetapi terhadap golongan minoritas yang kecil dan lemah ,
tentu mereka akan berlaku sebagaimana terhadap Ahmadiyah juga.

Dengarlah apa lagi petuah Ulama terkemuka itu terhadap orang yang
bertanya tentang Ahmadiyah Qadian dan Lahore itu…..

“Sebab itu mereka berpedirian bahwa tidak sah seorang Ahmadi
bersembahyang dibelakang Imam yang tidak masuk Ahmadi…..”……(Hamka
membahas soal-soal Islam, halaman 432).

Jawaban Buya ini sangat mengherankan orang-orang Ahmadi. Mengapa soal
orang Ahmadi tak mau sembahyang dibelakang Imam yang bukan Ahmadi itu
sengaja pula dibesar-besarkan dan diheboh-hebohkan? Padahal soal semacam
ini dikalangan ummat Islam adalah suatu soal yang sangat remeh dan itu
tidak hanya terjadi dikalangan orang-orang Ahmadi saja. Ikut mengikuti
Imam dalam sembahyang itu bukan saja disebabkan perlainan paham, akidah
dan kepercayaan saja, melainkan masalah furu’ dan cabang-cabang agamapun
sering terjadi yang demikian itu….

Umpamanya, orang-orang yang menganut Mazhab Maliki dan Sjafii,
sekali-kali tidak akan mau bersembahyang dibelakang Imam yang bermazhab
Hanafi, apabila Imam itu ketika hendak sembahyang telah menyentuh kulit
seorang perempuan yang bukan muhrimnya. Karena menurut Mazhab Maliki dan
Syafii menyentuh kulit wanita yang bukan muhrim menyebabkan batalnya
wudu’, sedangkan menurut Mazhab Hanafi yang demikian itu tidak
membatalkan. Jadi menurut menurut Mazhab Maliki dan Syafii sembahyang
Imam itu tidak sah, karena wudu’nya telah batal lebih dahulu. Mengapa
soal yang begini tidak digembar gemborkan oleh Buya Hamka…..padahal
masalah ini sama keadaanya dengan apa yang diperbuat oleh orang-orang
Ahmadi?

Lebih lanjut Ulama Gema Islam itu menulis lagi….” Tidak sah nikah
seorang gadis Ahmadiyah dengan laki-laki bukan Ahmadi..”……

Ini juga sebuah tafsiran yang sangat menyesatkan dari beliau terhadap
pendirian Ahmadiyah. Memang menurut peraturan Jemaat Ahmadiyah seorang
perempuan Ahmadiyah tidak boleh menikah dengan laki-laki yang bukan
Ahmadiyah, akan tetapi bukanlah disebabkan karena perkawinan itu
dianggap tidak sah oleh orang-orang Ahmadi, sebagaimana Buya Hamka
mengakui juga bawha perkawinan antara laki-laki Ahmadi dengan wanita
yang bukan Ahmadi adalah sah menurut pendirian Ahmadiyah. Jadi, jika
kedua ini sah , tentu saja yang pertama juga sah, karena diantara kedua
macam perkawinan itu pada hakekatnya tidak ada perbedaan sedikit jua.

Dengan ini menjadi jelaslah bahwa yang menyebabkan tidak bolehnya
perempuan Ahmadi kawin dengan laki-laki bukan Ahmadi, bukanlah karena
tidak sahnya perkawinan itu melainkan karena hal-hal yang lain.
Tanggapan yang begini tak akan timbul apabila seandainya Buya memahami
tentang hukum Islam yang melarang perempuan Islam kawin dengan laki-laki
Ahlilkitab. Jika Buya dan juga Ulama-Ulama Islam lainnya pengikut telah
memahami masalah ini secara mendalam, maka dengan sendirinya akan
hilanglah kesamaran mereka tentang tentang orang Ahmadiyah tidak
membolehkan wanita-wanita dikalangan mereka untuk kawin dengan laki-laki
yang bukan Ahmadi. Sebenarnya hal-hal begini tidak perlu dikemukakan
karena sebagai alat untuk menanamkan kebencian dan perpecahan.

Apapun organisasi dan perkumpulan , terutama organisai-organsasi agama
yang ingin memberikan pendidikan dan pimpinan yang khusus kepada
generasi penerusnya, selamanya melebihkan penjagaan kepada kaum
perempuan melebihi penjagaan terhadap kaum laki-lakinya. Karena hal ini
sudah sama-sama dimaklumi dan dialami pula, bahwa dalam soal keimanan
dan kepercayaan jenis yang lemah lembut ini mudah dipengaruhi oleh jenis
yang gagah perkasa. Dan itulah sebabnya ada beberapa hal dalam agama
Islam yang dibolehkan bagi kaum laki-laki, tetapi tidak diizinkan bagi
kaum wanitanya.

Persoalan ini pernah dikemukakan oleh Sayyid Nazir Hussein dari
Saharanpur India dalam suratnya kepada seorang penulis terkemuka Niaz
Fatahpuri , pemimpin Redaksi Majalah “Nigaar” yang terbit di Lucknow dan
sangat populer di India dan Pakistan.

“Mengenai mereka (orang-orang Ahmadi) tidak mau mengadakan hubungan
perkawinan dengan orang-orang yang bukan Ahmadi dan tidak mau sembahyang
dibelakang orang bukan Ahmadi , maka yang demikian itu bukanlah suatu
hal yang patus disalahkan. Apakah Tuan sendiri suka kawin dilingkungan
keluarga yang yang anggota-anggota menentang pendirian Tuan? Dan apakah
Tuan sudi sembahyang dibelakang orang-orang yang menurut Tuan tingkah
lakunya tidak layang menajdi Imam? Jemaat Ahmadiyah mempunyai satu
pandangan hidup yang khusus yang sama-sama diikuti oleh laki-lakinya,
perempuannya dan angkatan mudanya. Oleh karena itu apabila mereka
mengadakan hubungan perkawinan dengan laki-laki atau wanita yang bukan
Ahmadi tentu saja kesatu paduan mereka akan terpengaruh olehnya,
sehingga kesamaan dan keseragaman yang menajdi keistimewaan Jemaat itu
akan binasa sama sekali. Sikap mereka yang begini “Tuan” namakan
kefanatikan , akan tetapi saya menaminya “keteguhan pendirian dan
kebijaksanaan”……..”……..(Majalah “Nigar”, Lucknow, Oktober 1960,
halaman 44,45….dikutip dari Bantahan Lengkap).

Buya Hamka masih saja melanjutkan fitnahnya terhadap Jemaat Ahmadiyah
lewat uraian selanjutnya….

“Maka kalau demikian perndirian mereka terhadap sekalian orang yang
beragama Islam yang tkidak mempercayai Ghulam Ahmad , bagaimana lagi
pendirian orang Islam terhadap mereka? Kalau mereka dikatakan sah,
artinya kita telah mengakui bahwa pegangan kita selama ini tidak sah.
Artinya kita ini adalah kafir kalau tidak masuk Ahmadi atau tidak
mempercayai Ghulam Ahmad sebagai Nabi sesudah Muhammad
SAW”……..(Hamka membahas soal-soal Islam , halaman 432).

Dengan tulisan ini Mantan Ketua MUI itu ingin memberikan kesan kepada
khalayak ramai seolah-olah Ahmadiyah lah yang mula-mula mengkafirkan
orang-orang yang bukan Ahmadi dan bukanlah para Alim Ulama yang
mengkafirkan sebahagian ummat Islam yakni Jemaat Ahmadiyah. Disini kita
bisa melihat bahwa pernyataan Buya Hamka ini jauh dari kejujuran dan
menyimpang dari kebenaran. Menurut kenyataan yang terjadi semenjak
bermula hingga saat ini, dimana saja orang Ahmadiyah berada, dan kemana
saja mereka pergi, asal diketahui orang mereka itu orang Ahmadiyah maka
selamanya mereka dihujani fitnah, dihujani dengan fatwa-fatwa Ulama
Mainsream Islam yang mengkafirkan mereka, menghina-nistakan mereka ,
memboikot mereka dan mengancam mereka.

Iklan

Aksi

Information

8 responses

4 12 2009
dildaar80

salam kenal..sy jg dri JAI..

10 02 2010
akudanjiwa

saudaraku…
hendaklah kita hormat dan santun kepada ulama pewaris nabi
sedangkan beliau rahimahullah adalah ulama yang telah diakui kaum muslimin
penentangan padanya hanyalah menimbulkan keresahan..
beliau telah meninggalkan dunia ini, dan tak layak untuk disalahkan karena tentu beliau tak bisa menjawab gugatan saudara..

23 06 2010
humza

ditempat terpencil dan tersembunyi dia berkoar dan memuntahkan ungkapan – ungkapan fitnah. wahai ahmadiyah, ketua kalian yang mafhum tentang ahmadiyah saja takut muncul di tv untuk di ajak klarifikaasi tentang apa ahmadiyah dan uji kelayakannya tentang ahmadiyah. sungguh….bau busk itu tak bisa ditutupi walau dengan sekotak baja…wallahu a’lam..

18 08 2010
ryomin >

Dari sejak dahulu dan sudah jadi ciri khas pengikut ahmadiyah selalu berkelit dan menghindar dari nash dan dalil yang qath’i, memutar balikan fakta yg dilakukan oleh penganutnya diantaranya dalam soal berma’mum dan pernikahan.
Sudah sejak zaman alm Ust A. Hassan dari Persis dahulu, selalu menghindar jika diajak dialog mencari kebenaran dengan alasan yang semakin menunjukan bahwa mereka hanya pantas dijuluki para pendusta yg licik.

11 09 2010
Hidayay Syam

buya hamka sudah jelas dan benar sikapnya dalam menghadapi orang ahmadiyah yang kafir, anda yang belum jelas?

14 09 2010
Ki Semar

Buat Sahabat: Hidayay Syam

Sama dengan anda saya berharap semua sudah jelas.

Salam: Ki Semar

16 09 2010
iswanto anto

apapun yang menjadi pernyataan Buya Hamka itu ada benar jikalau kita menjadi penganut muslim sejati. Dimana hubungan antara akidah dengan kehidupan Dunia tidak dapat dapat dipisahkan tetapi didalam hukum-hukumnya atau yang termuat ada aturan atau kaidah yang harus di jaga menurut hukum islam itu sendiri dan hal ini jangan menimbulkan keterlepasan akidah akhirnya . jikalau kita ingin menjadi muslim sejati hal yang menyangkut aturan keimanan itu perlu di pertahankan dan diperjuangkan .

26 09 2010
indra

Ahmadiyah itu golongan sesat dan menyesatkan.wahai saudara ku.sudah jelas,bahwa nabi Muhammad itu SAW,penghujung Nabi,tidak ada Nabi setelah Nabi Muhammad SAW.Jadi kalau ada orang yang mengaku Nabi setelah Baginda Muhammad SAW,tunjuk saja jidadnya bahwa orang itu sinting….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: