Hadits Dhaif Pada Kitab Riyadus Shalihin

21 09 2010


Hadits Dhaif Pada Kitab Riyadus Shalihin

Daftar Isi

Bab 005: Muraqabah (Pengawasan)

Bab 023: Menyeru Kebaikan dan Mencegah Kemungkaran

Bab 035 : Hak Suami Terhadap Istri

Bab 040: Berbakti Kepada Kedua Orang Tua dan Silaturrahim

Bab 042 : Berlaku Baik Terhadap Kawan Kedua Orang Tua

Bab 044: Menghormati dan Mengutamakan Para Ulama

Bab 045: Mengunjungi dan Bergaul dengan Orang Shalih

Bab 050: Takut Kepada Allah

Bab 055: Keutamaan dan Anjuran Zuhud Terhadap Dunia

Bab 056 : Keutamaan Lapar dan Kesederhanaan

Bab 065: Mengingat Kematian dan Mengurangi Angan-angan

Bab 066: Disunnahkan Ziarah Kubur Bagi Laki-laki

Bab 068: Wara’ (kesederhanaan) dan Menjauhi Syubhat

Bab 096: Mengucapkan Pesan Wasiat Kepada Teman yang Akan Bepergian

Bab 111: Adab Dalam Minum

Bab 119: Gambaran Tentang Panjang, Gamis, Kain, dan Ujung Serban

Bab 129: Adab Dalam Majelis dan Kawan

Bab 143: Sunnah Berjabat Tangan, Bermuka Manis

Bab 147: Apa yang Dibaca oleh Orang yang Putus Asa dalam Kehidupan

Bab 159: Segera Membayar Utang si Mayit

Bab 174: Apa yang Dibaca Jika Turun atau Berhenti Pada Suatu Tempat

Bab 180: Keutamaan Membaca Al Quran

Bab 184: Anjuran Untuk Membaca Beberapa Surah dan Ayat-ayat Khusus

Bab 185: Keutamaan Wudhu

Bab 189: Keutamaan Berjalan ke Masjid

Bab 194: Keutamaan Barisan Pertama Pada Shalat

Bab 200: Shalat Sunah Sebelum Ashar

Bab 210: Keutamaan Hari Jum’at

Bab 211: Disunnahkan Sujud Syukur Jika Mendapat Kenikmatan

Bab 222: Keutamaan Segera Berbuka Puasa

Bab 225: Keutamaan Puasa Pada Bulan Muharram dan Sya'ban

Bab 231: Keutamaan Orang yang Memberi Buka Puasa

Bab 234: Kewajiban Jihad

Bab 241: Keutamaan Menuntut Ilmu dan Mengajarkannya Karena Allah SWT

Bab 242: Kewajiban Syukur Kepada Allah SWT

Bab 244: Anjuran dan Keutamaan Berdzikir

Bab 250: Tentang Doa-doa

Bab 254: Larangan Ghibah (Menggunjing Orang) dan Perintah Memelihara Lidah

Bab 258: Larangan Menyampaikan Berita dan Omongan Orang Kepada Pemerintah

Bab 270: Haramnya Hasad (Mengharap Hilangnya Nikmat Seseorang)

Bab 274: Larangan Menunjukkan Kegembiraan Ketika Seorang Muslim sedang Kesusahan

Bab 290: Haram Melihat Wanita yang Bukan Mahram

Bab 295: Larangan Mencukur Sebagian Rambut

Bab 303: Larangan Mendatangi Dukun dan Ahli Nujum

Bab 304: Larangan Menganggap Sial Terhadap Sesuatu Hal

Bab 314: Larangan Bersumpah dengan Makhluk Seperti Nabi, Ka'bah, Malaikat, dan Lain-lain

Bab 319. Dimakruhkan Meminta Selain ' Surga Dengan Nama Allah

Bab 341: Makruh Menoleh Pada Saat Shalat Tanpa Ada Udzur Hukumnya Makruh

Bab 370: Tentang Dajjal dan Tanda-tanda – Hari Kiamat

Bab 371: Perintah Untuk Memohon Ampunan dan Keutamaannya

Wassalam: Ki Semar





Hadits Dhaif Riyadus Shalihin 51

21 09 2010


Bab 371: Perintah Untuk Memohon Ampunan dan Keutamaannya


64/1882
. Ibnu Abbas RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda.

(( مَنْ لَزِمَ الاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجاً ، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجاً ، وَرَزَقهُ مِنْ حَيثُ لاَ يَحْتَسِبُ )) . رواه أبو داود

Barangsiapa membiasakan memohon ampunan, maka Allah akan melepaskan dari segala kesukaran dan melapangkan dari segala kesempitan, dan akan memberinya rezeki tanpa terduga“(HR. Abu Daud)

Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada perawi bernama Al Hakam bin Mush’ab yang majhul (tidak diketahui identitasnya), sebagaimana dikatakan oleh Al Hafizh (di dalam kitab At-Taqrib) dan Adz-Dzahabi. Abu Hatim Ar-Razi berkata, “la orang yang majhul” Ibnu Hibban juga menyebutkan hadits tersebut di dalam Adh-Dhu’afa.

Lihat Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah hadits no. 705, Dha’if Sunan Abu Daud hadits no. 327, Dha’if Sunan Ibnu Majah hadits no. 834, Dhaiful Jami’ hadits no. 5829, Al Misykah hadits no. 2339, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1873, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1873.

Wassalam: Ki Semar





Hadits Dhaif Riyadus Shalihin 50

21 09 2010


Bab 370: Tentang Dajjal dan Tanda-tanda – Hari Kiamat


63/1841
. Abu Tsa’labah Al Khusyani Jurtsum bin Nasyir RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

(( إنَّ اللهَ تَعَالَى فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا ، وَحَدَّ حُدُوداً فَلاَ تَعْتَدُوهَا ، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوهَا ، وَسَكَتَ عَنْ أشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ فَلاَ تَبْحَثُوا عَنْهَا )) حديث حسن . رواه الدارقطني وغيره

Sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi telah menetapkan beberapa kewajiban, maka jangan kalian abaikan, dan menetapkan beberapa hukum, maka jangan kalian langgar, dan menetapkan beberapa yang haram, maka jangan kalian langgar. Sedangkan mendiamkan beberapa hal dikarenakan adanya kasih sayang untuk kalian bukan dikarenakan hal itu terlupakan, maka jangan kalian mencari-carinya (menyelidiki lebih dalam)” (HR. Ad-Daruquthni dan lainnya, hadits hasan).

Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada dua illat (cacat), sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Rajab di dalam kitab Syarah Al Arba’in An-Nawawiyah (halaman 200, sebagai berikut:

  • Sebenarnya perawi yang bernama Makhul tidak mendengar dari Abu Tsa’labah.

  • Meskipun benar dia mendengar dari Abu Tsa’labah, tetapi ia melakukan dan meriwayatkannya secara mu’an’an dari Abu Tsa’labah.

  • Adanya perselisihan pendapat ahli hadits tentang kedudukan haditsnya yang disandarkan kepada Abu Tsa’labah,

Riwayat hadits tersebut ada syahidnya lewat dua jalur periwayatan dari Abu Ad-Darda seperti yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Ad-Daruquthni:

Apa saja yang dihalalkan oleh Allah di dalam kitab-Nya maka menjadi halal, apa yang diharamkannya maka ia menjadi haram, dan apa yang didiamkannya darinya maka itu termaafkan. Jadi kalian terimalah apa yang dimaafkannya, karena sesungguhnya Allah tidak lalai akan segalanya.” Kemudian Nabi SAW membacakan ayat yang berbunyi, ”Tidaklah Tuhanmu menjadi lupa” (Surah Maryam ayat 64); (HR. Ath-Thabrani dan Ad-Daruquthni)

Namun hadits ini lemah sekali karena pada jalur periwayatan Ath-Thabrani ada perawi yang bernama Ashram bin Hausyib, dia seorang pendusta Jalur periwayatan dari Ad-Daruquthni ada perawi yang bernama Nahsyal Al Khurasani, yang juga seorang pendusta.

Namun ada riwayat hadits hasan dari riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah yang memberikan makna seperti hadits tersebut, ketika Nabi SAW ditanya tentang hukum samin (lemak) dan jubn (keju), maka Nabi SAW menjawab,

Yang halal sudah ditetapkan kehalalannya oleh Allah di dalam kitab-Nya, yang haram sudah ditetapkan keharamannya di dalam kitab-Nya, dan apa saja yang didiamkannya maka itu perkara yang di maafkan-Nya” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah; Lihat Shahih Sunan At-Tirmidzi, hadits no. 1410)

Lihat Ghayatul Maram fi Takhrij Ahadits Halal wal Haram hadits no. 4, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1832, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1832

Wassalam: Ki Semar





Hadits Dhaif Riyadus Shalihin 49

21 09 2010


Bab 341: Makruh Menoleh Pada Saat Shalat Tanpa Ada Udzur Hukumnya Makruh


62/1765
. Anas RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

(( إيَّاكَ والالتِفَاتَ فِي الصَّلاَةِ ، فَإنَّ الالتفَاتَ في الصَّلاَةِ هَلَكَةٌ ، فَإنْ كَانَ لاَ بُدَّ ، فَفِي التَّطَوُّعِ لاَ في الفَريضَةِ )) . رواه الترمذي ، وقال : (( حديث حسن صحيح ))

“Hindarilah menoleh pada saat shalat, karena menoleh dalam shalat berarti celaka. Kalau terpaksa, maka boleh dalam shalat sunah, bukan shalat wajib“. (HR. At-Tirmidzi, ia berkata: “Hadits hasan shahih”).

Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada dua illat (cacat), yaitu:

  • Periwayatan Said bin Al Musayyib dari Anas merupakan periwayatan yang terputus.

  • Pada sanadnya ada perawi yang dha’if yaitu Ali bin Zaid bin Jad’an, sebagaimana perkataan Ibnu Al Qaththan, “Haditsnya tidak dipakai”. Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Ma’in berkata, “la orang yang tidak kuat periwayatannya”

Kedua illat ini juga dijelaskan oleh Ibnu Qayim Al Jauziyah di Zadul Ma’ad (1/249).

Ada hadits lain yang melarang menoleh ketika dalam shalat (tanpa membedakan apakah shalat wajib atau sunah), tetapi haditsnya dha’if Lihat Dha’if Sunan Abu Daud hadits no. 194 dan Dha’if Sunan An-Nasa’i hadits no. 57, yaitu sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Daud, An-Nasa’i, dan Imam Ahmad dari Abu Dzar, mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda,

“Allah SWT tetap mendatangi seorang hamba di dalam shalatnya selama ia tidak menoleh, tetapi jika ia memalingkan wajahnya (menoleh) dari-Nya, maka Allah akan pergi darinya“. (HR. Abu Daud, An-Nasa’i, dan Ahmad)

Ada jalur sanad lain yang shahih, yang melarang menoleh di dalam shalat, diantaranya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At-Tirmidzi:

“….. maka jika kalian shalat janganlah menoleh, karena sesungguhnya Allah SWT akan menegakkan (memperhatikan) wajah-Nya ke wajah hambanya di dalam shalatnya, selama ia tidak menoleh“”. (Hadits riwayat Ahmad dan At-Tirmidzi. Lihat Shahih Sunan At-Tirmidzi hadits no. 2298 dan Shahih Jami’ Ash-Shaghir hadits no. 1724).

Lihat Dha’if Sunan At-Tirmidzi hadits no. 90, Al Misykah hadits no. 997, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1756, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1756.

Wassalam: Ki Semar





Hadits Dhaif Riyadus Shalihin 48

21 09 2010


Bab 319. Dimakruhkan Meminta Selain ‘ Surga Dengan Nama Allah


61/1731
. Jabir RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

لاَ يُسْأَلُ بِوَجْهِ اللهِ الا الجَنَّةُ

Tidak layak meminta dengan nama Allah selain surga” (HR. Abu Daud).

Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada perawi yang bernama Sulaiman bin Muadz, orang yang dibicarakan oleh banyak ulama jarh wa ta’dil; diantaranya adalah Imam Ahmad bin Hambal, ia berkata, “Aku tidak mengetahui keadaannya (dalam periwayatannya) sedangkan An-Nasa’i berkata, “la orang yang dha’if’.

Lihat Dha’if Sunan Abu Daud hadits no. 368, Dha’if Al Jami’ hadits no. 6351, Al Misykah hadits no. 1944, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1722, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1722.

Wassalam: Ki Semar





Hadits Dhaif Riyadus Shalihin 47

21 09 2010


Bab 314: Larangan Bersumpah dengan Makhluk Seperti Nabi, Ka’bah, Malaikat, dan Lain-lain


60/1720
. Sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi SAW, bersabda,

الرِّياءُ شِرْكٌ

Perbuatan riya’ adalah syirik.

Keterangan:

Hadits tersebut lengkapnya adalah:

Sesungguhnya sedikit berbuat riya’ adalah syirik.

Imam An-Nawawi membawakan hadits tersebut di dalam kitab Riyadhush-Shalihin dengan sighat/kata (diriwayatkan), yaitu kata kerja majhul (kata kerja pasif, yakni tidak menyebutkan orang yang meriwayatkan), menandakan bahwa Imam Nawawi mengisyaratkan bahwa hadits ini adalah dha’if (sanadnya). Hadits yang shahih menerangkan bahwa riya dikategorikan sebagai perbuatan syirik yang terkecil, yaitu:

Kami menganggap riya’ di zaman Rasulullah SAW sebagai perbuatan syirik yang terkecil”. (HR. Ath-Thabrani dan Al Bazzar; dan hadits yang semisal dengannya)

Begitu pula hadits lainnya dengan sanad yang jayyid (bagus/dapat diterima) yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah, Nabi SAW bersabda,

Sesungguhnya yang paling aku takuti dari kalian adalah syirik terkecil Mereka bertanya, “Apa itu syirik terkecil?” Nabi SAW bersabda, ”riya’”. (Hadits dikeluarkan oleh Imam Ahmad). Lihat Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah hadits no. 1850, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1711


Wassalam: Ki Semar





Hadits Dhaif Riyadus Shalihin 46

21 09 2010

Bab 304: Larangan Menganggap Sial Terhadap Sesuatu Hal


59/1686.
Urwah bin Amir mengatakan bahwa ketika masalah tebak sial dibicarakan di sisi Rasulullah SAW, maka beliau bersabda,

احْسَنُهَا الفَألُ . وَلاَ تَرُدُّ مُسْلِماً فإذا رَأى أحَدُكُمْ ما يَكْرَهُ ، فَليْقلْ : اللَّهُمَّ لاَ يَأتِي بِالحَسَناتِ إلاَّ أنْتَ ، وَلاَ يَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ إلاَّ أنْتَ ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إلاَّ بِكَ حديث صحيح رواه أبو داود بإسناد صحيح

Sebaik-baiknya adalah fa’al (perkataan yang baik dan menimbulkan harapan) dan thiyarah tersebut tidak dapat menolak keinginan seorang muslim. Jadi apabila seseorang melihat sesuatu yang tidak disukai, maka hendaklah membaca, ‘Allahumma laaya’ti bilhasanati illaa Anta walaa yadfa’ussayyi’ati illaa Anta, walaa haula walaa quwwaia illa bika. (Ya Allah, tiada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali Engkau dan tiada yang dapat menghindarkan bahaya kecuali Engkau. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan bantuan-Mu (Hadits shahih riwayat Abu Daud)

Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, dikarenakan ada dua illat (cacat), yaitu:

  1. Ada perawi yang bernama Urwah bin Amir, yang diperselisihkan oleh ahli hadits tentang kedudukannya sebagai sahabat Nabi SAW. Ada yang berpendapat ia sebagai generasi tabi’in. Hadits tersebut disandarkan langsung kepada Nabi SAW.

  2. Ada perawinya bernama Hubaib bin Abu Tsabit, ia suka melakukan tadlis (periwayatan hadits yang disembunyikan cacat sanadnya, sehingga seakan-akan tidak ada aib di dalamnya) dan hadits yang diriwayatkannya secara mu’an’an (hadits yang disanadkan dengan kata an), sedangkan periwayatannya dari Urwah munqathi’ (terputus sanadnya).

Ada hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari yang memberikan makna yang sama dengan hadits tersebut, diantaranya:

Dari Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘ Tidak ada menebak nasib, dan sebaik-baiknya adalah Al Fa’al’. Seseorang bertanya, ‘Apa itu Al Fa’al Wahai Rasulullah?’ Nabi bersabda, ‘Al Fa’al adalah perkataan yang baik yang didengarkan oleh salah seorang dari kalian”. (HR. Bukhari).

Lihat Dha’if Sunan Abu Daud hadits no. 843, Al Misykah hadits no. 4591, At-Ta’liq Kalamul Tayyib hadits no. 193, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1677, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1677.


Wassalam: Ki Semar








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya.