Hadits Dhaif Riyadus Shalihin 39

21 09 2010


Bab 254: Larangan Ghibah (Menggunjing Orang) dan Perintah Memelihara Lidah


52/1526
. Ibnu Umar RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda

لا تُكْثِرُوا الكَلاَمَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللهِ؛ فَإنَّ كَثْرَةَ الكَلاَمِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللهِ تَعَالَى قَسْوَةٌ لِلقَلْبِ ! وإنَّ أبْعَدَ النَّاسِ مِنَ اللهِ القَلْبُ القَاسِي

“Jangan banyak bicara selain dzikir kepada Allah, karena banyak bicara selain dzikrullah dapat menyebabkan seseorang berhati keras, dan sejauh-jauhnya manusia dari Allah adalah orang yang berhati keras”. (HR. At-Tirmidzi)


Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada seorang perawi yang bernama Ibrahim bin Abdullah bin Hathib orang yang majhul hal, yaitu hadits yang pada sanadnya ada seorang perawi yang disebut namanya, tetapi tidak dikenal orangnya. Ibnu Hatim telah menerangkannya di dalam Al Jarh wa Ta’dil (2/110), dengan mengatakan, “Dirinya tidak pernah disebut oleh para ulama hadits, baik jarh (kecacatan perawi) maupun ta’dilnya (keadilan perawi)”. Sedangkan Adz-Dzahabi berkata di dalam Mizan Al I’tidal (1/41), “Setelah memasukkan hadits tersebut di dalam kumpulan hadits-hadits dha’if nya, Aku tidak mengetahui kedudukan jarhnya”. Jadi yang lebih utama untuk dijadikan pegangan adalah perkataan Ibnu Al Qaththan di dalam At-Tahdzib (1/133), Identitasnya tidak diketahui (keadaan dirinya)”.

Ada hadits lain yang semakna, tetapi hadits ini tanpa sanad. Hadits ini dimasukkan ke dalam Al Muwatha’ (2/986) oleh Imam Malik yang merupakan perkataan Nabi Isa ‘alaihis salam,

Sesungguhnya Isa bin Maryam pernah berkata, ‘Jangan kalian banyak bicara tanpa dzikir kepada Allah, karena sesungguhnya hati yang keras jauh dari Allah’.” (Imam Malik memasukkannya ke dalam Al Muwatha’)

Akan tetapi hadits tersebut tidak sah berasal Nabi SAW, sehingga hadits ini derajatnya la asla lahu marfu’ an (Silsilah Adh-Dha’ifah hadits no. 908).

Tentang kewajiban memelihara lidah atau ucapan, ada beberapa hadits-hadits yang shahih, antara lain,

“Dari Ibnu Amr, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘‘Barangsiapa diam, maka akan selamat.” (Hadits riwayat At-Tirmidzi; Shahih Sunan At-Tirmidzi -hadits no. 2031).

Dari Uqbah bin Amir ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, apa yang dapat menyelamatkan (dari kehidupan dunia)?’, Rasulullah menjawab, ‘Peliharalah lisanmu” (HR. At-Tirmidzi dan Shahih Sunan At-Tirmidzi hadits no. 1961).

Bahkan hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim menegaskan tentang hubungan antara keimanan seseorang dengan pemeliharaan lisannya (ucapannya), yaitu:

Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaknya bicara dengan baik atau diam

Lihat Silsilah Adh-Dha’ifah hadits no. 920, Dha’if Sunan At-Tirmidzi hadits no. 423, Dha’if Al Jami’ hadits no. 6265, Al Misykah hadits no. 2276, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1518 dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1518.

Wassalam: Ki Semar

About these ads

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: