08. Mengapa Sholat lima waktu tidak sama raka’atnya?

22 12 2009

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
>Kenapa shalat lima waktu tidak sama raka’atnya?

Jawaban:

Ass wr wb
Setiap agama memiliki dimensi rasional dan irrational
sekaligus. Untuk itu kita harus bisa menempatkan kedua
dimensi tersebut dalam proporsi yang tepat. Ketika unsur
rasional mencoba memasuki wilayah irrational, atau sebaliknya,
maka pandangan keagamaan kita menjadi kacau balau.

Dalam Islam, banyak sekali hal yang bisa dirasionalkan.
Sejumlah ayat Qur’an merujuk akan pentingnya aktivitas
akal. Bahkan penghargaan yang tinggi diberikan kepada
mereka yang berilmu tinggi. Akan tetapi, ini tidak
berarti semuanya bisa dirasionalkan. Banyak juga ajaran
Islam yang tidak bisa dirasionalkan. Salah satu contohnya
adalah yang saudara tanyakan yaitu perbedaan bilangan
rakaat sholat.

Dalam istilah agama Islam, hal ini diberi istilah
“Ma’lum min al-din bi al-dharurah.” Contohnya adalah:
Mengapa kita harus berpuasa di bulan Ramadhan saja,
bukan di bulan yang lain? Mengapa wukuf harus di
padang Arafah, bukan di tempat lain? Mengapa
Muhammad diutus sebagai rasul terakhir bukan yg lain?
dan sejuta mengapa bisa kita tanyakan. Namun kita
terbentur kaidah klasik, “al-Ashlu la yus`al”.
Maksudnya, hal-hal yang pokok dalam agama atau
ushuluddin jangan dipertanyakan dalam artian
mengkotak-katiknya.

Tentu saja kita bisa kembangkan lebih jauh ttg
apa batasan akal dan apa batasan kebolehan
mempertanyakan dalam Islam; sebagaimana
kita juga bisa bertanya hal serupa dalam
kasus agama lain.

Para ulama sudah menjelaskan hal tersebut secara
panjang lebar, tentu bukan pada tempatnya kalau
saya uraikan semuanya di sini. Keterbatasan
waktu dan juga kemampuan menghalangi saya
menuliskannya.

Anda telah bertanya, Saya telah menjawab, ….selebihnya
saya serahkan pada Allah SWT.

salam,
=nadir=

About these ads

Aksi

Information

2 responses

24 12 2009
pringgo

assalamualikum wr.wb
hukum belum mampu menjauhi semua perintah agama islam apa p ustad?sukron

27 12 2009
Ki Semar

Assalamualaikum Wr.Wb.
Sdr Pringgo, sebagai sesama manusia yang tentunya sama-sama memiliki kekurangan
maka saya tidak berani menetapkan status sdr. Pringgo.
Satu hal yang dapat saya katakan adalah Berjuanglah terus melawan hawa nafsu sehingga posisi kita
semakin masuk dalam golongan orang yang melaksanakan perintah Allah SWT.
Jihad yang besar bukanlah berperang melawan musuh, tetapi justru berperang melawan hawa nafsulah yang dapat dikatakan sebagai jihad yang besar.

Sayapun tengah dalam perjalan bertempur melawan hawa nafsu seperti yang dialami oleh sdr Pringgo.

Salam: Ki Semar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: